Kapal Terombang-ambing di Lepas Pantai Kepulauan Canary, 80 Orang Ditemukan Tewas

Ilustrasi Anadolu

Kapal Terombang-ambing di Lepas Pantai Kepulauan Canary, 80 Orang Ditemukan Tewas

Fajar Nugraha • 4 September 2026 07:15

Canary: Sekitar 80 orang dilaporkan tewas, termasuk seorang bayi, dan 44 orang lainnya diselamatkan pada Rabu 2 September 2026 malam dari sebuah kapal yang ditemukan di lepas pantai Kepulauan Canary setelah bertolak dari Gambia.

“Kapal tersebut, yang mengangkut lebih dari 100 orang, diperkirakan telah terombang-ambing selama 26 hari, karena diyakini telah berangkat dari Gambia pada 7 Agustus,” konfirmasi pihak Kementerian Dalam Negeri Spanyol, seperti dikutip dari ABC Australia, Jumat 4 September 2026.

Lembaga Penyelamatan dan Keselamatan Maritim pemerintah Spanyol menemukan sebuah "kapal darurat" yang terombang-ambing sekitar 104 kilometer di barat daya kota pesisir Arguineguín di Kepulauan Canary pada pukul 18.40 waktu setempat Rabu.

“Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim Spanyol mengerahkan kapal penyelamat sekitar pukul 23.00 waktu setempat, yang mengevakuasi 44 pria dari kapal tersebut, semuanya berasal dari wilayah Afrika Sub-Sahara,” ujar Lembaga Penyelamatan dan Keselamatan Maritim.

Tiga orang yang diselamatkan berada dalam kondisi kritis dan dievakuasi menggunakan helikopter ke rumah sakit di Kepulauan Canary, menurut para pejabat pemerintah.

Kapal penyelamat tiba di pelabuhan Arguineguín dan menurunkan para migran yang tersisa pada Kamis dini hari, lapor lembaga tersebut.

"Sungguh tak tertahankan bahwa nyawa terus melayang," kata Fernando Clavijo, Presiden Kepulauan Canary, dalam sebuah unggahan di X.

"Kepulauan Canary tidak boleh terbiasa atau menganggap wajar fakta bahwa Samudra Atlantik terus menjadi jalur kematian,” ujar Clavijo.

Insiden ini terjadi menyusul peristiwa penyeberangan perbatasan massal ke wilayah Spanyol di Ceuta pada bulan Juli, di mana hampir 60.000 migran membanjiri wilayah tersebut dari Maroko, yang mengakibatkan setidaknya 67 orang tewas.

"Apa yang kita alami di Kepulauan Canary, dan belakangan ini juga di Ceuta, sekali lagi menyoroti sebuah kenyataan: Spanyol membutuhkan kebijakan migrasi tingkat negara, dan Eropa harus memikul tanggung jawabnya," tegas Clavijo.

"Kita tidak bisa terus menangani migrasi dari satu krisis ke krisis lainnya. Kita sedang berbicara tentang nyawa dan martabat,” pungkas Clavijo.

(Fajar Nugraha)