Robert Budi Hartono. Foto: dok Forbes
Imbas Gejolak Pasar Saham, Kekayaan 3 Konglomerat RI Tergerus
Richard Alkhalik • 29 May 2026 14:45
Jakarta: Kekayaan gabungan dari tiga orang terkaya di Indonesia anjlok hingga separuhnya, tersisa di angka USD43,6 miliar sepanjang tahun ini. Penurunan ini dipicu oleh tren pelemahan di pasar saham domestik, menyusul mencuatnya kekhawatiran terkait transparansi perdagangan kepemilikan saham di Indonesia.
Melansir VnExpress, Jumat, 29 Mei 2026, aksi jual besar-besaran di bursa mulai terjadi pada akhir Januari lalu. Pemicu utamanya adalah pernyataan dari perusahaan jasa keuangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti rendahnya transparansi pasar Indonesia, validitas data saham beredar, struktur kepemilikan yang tidak transparan, hingga indikasi praktik perdagangan yang terkoordinasi.
MSCI telah membekukan sejumlah indeks saham Indonesia dan menghapus belasan emiten berkapitalisasi besar dari indeks globalnya pada bulan ini. Imbasnya sangat signifikan yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 29 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
Kondisi ini diperparah dengan langkah lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch dan Moody’s yang menurunkan prospek investasi Indonesia menjadi negatif. Mengutip The Financial Times, analis Goldman Sachs memproyeksikan perombakan indeks MSCI ini akan memicu arus modal keluar pasif sebesar USD1,6 miliar dari pasar saham Indonesia.
Angka tersebut merupakan pelarian modal terbesar yang diprediksi terjadi di kawasan Asia pada penyesuaian MSCI terbaru ini.
Baca Juga :
IHSG Dibuka Turun ke 6.112 Jumat Pagi

(Ilustrasi. MI/Susanto)
Daftar konglomerat terdampak
Dominasi konglomerat di pasar saham Indonesia mulai dari sektor pertambangan, petrokimia, hingga perbankan membuat mereka menjadi pihak yang paling terpukul oleh koreksi pasar tersebut. Berikut adalah rincian penurunan kekayaan tiga orang terkaya di Indonesia:1. Robert Budi Hartono (86 tahun)
Posisi pertama orang terkaya di Indonesia ini harus merelakan kekayaan bersihnya menyusut 66 persen dari akhir tahun lalu, menjadi USD15,7 miliar. Bersama saudaranya, Michael Robert memimpin salah satu kerajaan bisnis paling beragam di Indonesia yang mencakup tembakau, perbankan, elektronik, bisnis digital, dan properti mewah.Portofolio saham utama Hartono berguguran di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang terkoreksi hingga 24 persen, emiten e-commerce PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) anjlok 31 persen, dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk merosot 24 persen.
2. Low Tuck Kwong (78 tahun)
Menempati posisi kedua, taipan yang memulai bisnis konstruksi di Singapura sebelum berekspansi ke batu bara Kalimantan pada era 1990-an ini menyaksikan kekayaannya tergerus 34 persen menjadi USD14,7 miliar. Hal ini sejalan dengan saham perusahaan tambangnya, PT Bayan Resources Tbk, yang merosot hingga 38 persen.3. Prajogo Pangestu (84 tahun)
Sempat menduduki takhta orang terkaya di Indonesia tahun lalu, posisi Prajogo kini turun ke peringkat ketiga. Kekayaan bersihnya anjlok 67 persen menjadi USD13,2 miliar menyusul saham konglomerasinya, PT Barito Pacific Tbk yang terjun bebas hingga 53 persen.Tercatat, dari enam saham yang dikeluarkan dari indeks global MSCI bulan ini, tiga di antaranya merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh Prajogo Pangestu. Merespons tekanan pasar tersebut perwakilan dari grup perusahaan Prajogo memberikan pernyataan:
"Keputusan yang dibuat oleh penyedia indeks berada di luar kendali kami. Sebagai sebuah kelompok, kami tetap fokus pada pelaksanaan strategi pertumbuhan organik dan non-organik kami," dilansir dari VnExpress.
Sentimen arah kebijkan ekonomi
Mengutip laporan Reuters, para investor saham saat ini tengah diselimuti kekhawatiran terhadap arah agenda ekonomi Presiden terpilih Prabowo Subianto. Kekhawatiran terhadap postur belanja negara di era pemerintahan baru, serta tata kelola kelembagaan, dinilai memicu sentimen negatif.Janji reformasi yang diiringi dengan pengunduran diri lima pejabat tinggi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bursa efek sebelumnya tampak belum cukup ampuh meredam gejolak pasar. Ditambah lagi pelemahan nilai tukar Rupiah semakin mengindikasikan adanya tantangan ekonomi yang lebih dalam.
Para investor asing dilaporkan mulai menghindari pasar Indonesia akibat kekhawatiran arah kebijakan fiskal yang dapat menggerus stabilitas ekonomi yang telah dibangun dengan susah payah sejak Krisis Ekonomi Asia 1998 yang sempat meruntuhkan nilai Rupiah dan memaksa Presiden Soeharto lengser dari jabatannya.