Ilustrasi Pexels
Pakar Beri Peringatan Keras Pengolahan Ikan Sapu-sapu: Jangan Spekulatif!
Muhamad Marup • 3 May 2026 11:23
Jakarta: Penangkapan ikan sapu-sapu di DKI Jakarta dan sejumlah daerah menjadi sorotan publik. Masih ada anggapan bahwa ikan sapu-sapu masih memiliki nilai ekonomi, bahkan jadi opsi untuk konsumsi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Guru Besar bidang Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada (UGM), Alim Isnansetyo, memberikan peringatan keras mengenai konsumsi ikan sapu-sapu di masyarakat. Ia menegaskan bahwa di Indonesia ikan ini pada dasarnya bukan merupakan spesies yang dibudidayakan untuk dikonsumsi.
Statusnya yang tidak dibudidayakan untuk sumber pangan membuat standar keamanan pangannya (food safety) sulit dipertanggungjawabkan. Ia mengimbau masyarakat mengonsumsi ikan yang memang dibudidayakan secara sengaja dengan cara budidaya yang baik.
“Jangan mengonsumsi ikan sapu-sapu. Biasanya ikan sapu-sapu hidup di perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat pada dagingnya sangat tinggi," jelas Alim, mengutip laman resmi UGM, Minggu, 3 Mei 2026.
Pengolahan selain konsumsi
Alim juga tidak merekomendasikan ikan sapu-sapu yang ditangkap dari sungai tercemar ini diolah untuk hal lain. Menurutnya, jika ikan tersebut telah terkontaminasi, tidak hanya berbahaya bagi manusia, tetapi juga berbahaya bagi hewan jika dijadikan pakan atau dijadikan pupuk untuk tumbuhan."Harus diperhatikan mengenai prinsip kesejahteraan hewan yang kita pelihara, agar kita tidak memberikan pakan yang beracun kepada makhluk hidup lain," tegasnya.
Sebagai langkah pemusnahan yang aman, Alim merekomendasikan agar ikan tersebut dikubur ketimbang langsung dimanfaatkan secara spekulatif. Pembakaran menggunakan incinerator juga bisa jadi opsi.
"Hal ini dilakukan agar residu berbahaya atau kontaminan pada ikan tidak mencemari lingkungan," ujarnya.
Langkah setelah penangkapan
Ikan sapu-sapu. Sumber Inaturalist.org
Alim menerangkan, pemusnahan ikan sapu-sapu perlu dilakukan upaya secara komprehensif dan holistik. Bahkan pengendalian populasi ikan invasif ini perlu dilakukan secara berkesinambungan."Penangkapan itu harus secara berkesinambungan, terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi mungkin satu bulan sekali agar populasi tidak kembali meledak," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa penangkapan secara masif tersebut hanya akan menjadi solusi sementara jika kondisi lingkungan tetap buruk. Menurutnya, berikut ini merupakan langkah-langkah yang bisa dilakukan selain penangkapan:
- Perbaikan kualitas lingkungan: Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan bisa bertahan, sementara sapu-sapu akan terus mendominasi.
- Restocking atau penebaran kembali ikan-ikan endemik: Setelah lingkungan diperbaiki, introduksi kembali spesies menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem.
- Perubahan perilaku masyarakat: Jangan melepaskan ikan sapu-sapu ke perairan sekitar. Ketika sudah besar, beberapa penghobi ikan hias ini melepas ke perairan umum.