Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat/Foto: MI/Palce Amalo
Gempa NTT Ganggu Pembelajaran 116 Ribu Murid, Pemerintah Siapkan Kelas Darurat
Palce Amalo • 20 August 2026 18:09
Jakarta: Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak pada sektor pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan dan 502 sekolah tercatat terdampak bencana tersebut.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan gempa juga menimbulkan korban dari kalangan warga sekolah.
Salah satunya Febriani Evika Jas, siswa kelas V SDK Ri’i, Desa Bea Mese, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, yang meninggal dunia akibat gempa.
Atip menyampaikan duka mendalam kepada seluruh korban gempa. Dalam data yang disampaikan saat pernyataan tersebut, jumlah korban meninggal dunia tercatat 72 orang.
“Kami menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas bencana gempa bumi yang telah merenggut 72 jiwa meninggal dunia,” kata Atip, Kamis, 20 Agustus 2026.
Kemendikdasmen telah menyalurkan santunan Rp5 juta dan bantuan sembako kepada keluarga Febriani. Bantuan juga diberikan kepada murid terdampak serta guru yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa.
Dampak gempa terhadap sektor pendidikan tercatat cukup luas. Sebanyak 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana.
Dari total 8.664 ruang kelas yang terdampak, sebanyak 5.521 ruang atau 63,7 persen mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat hingga total.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruang kelas. Sejumlah fasilitas pendidikan lain turut terdampak, seperti laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi, dan rumah dinas guru.
Selain kerusakan fasilitas, sebanyak 116.324 murid mengalami gangguan pembelajaran akibat gempa dan gempa susulan yang masih berlangsung. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mengikuti kebijakan Pemerintah Provinsi NTT. Pembelajaran dilakukan dari rumah maupun tempat pengungsian untuk menghindari penggunaan bangunan sekolah yang berpotensi roboh.
“Hindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai, karena gempa susulan yang masih terus berlangsung,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dari rumah. Sebanyak 171 sekolah melaksanakan pembelajaran secara daring, 35 sekolah menggunakan kelas darurat, dan 30 sekolah masih menjalankan pembelajaran tatap muka.

Tim SAR gabungan mengevakuasi korban terdampak gempa di Pelabuhan Laurens Say Maumere, Kabupaten Sikka, NTT. (ANTARA/HO-Basarnas Maumere)
Kemendikdasmen juga telah menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Panduan tersebut menekankan fleksibilitas proses belajar, materi esensial, penguatan literasi dan numerasi dasar, serta dukungan psikososial bagi siswa dan guru.
Untuk mempercepat pemulihan kegiatan belajar mengajar, Kemendikdasmen menyiapkan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat. Tenda tersebut ditargetkan mulai digunakan pada pekan depan.
Pemerintah juga menyiapkan pendampingan psikososial bagi siswa dan guru. Bantuan perlengkapan pendidikan turut disalurkan, terdiri atas 5.000 school kit, 1.500 family kit, 3.956 papan tulis, dan 123.522 buku.
Tim Kemendikdasmen telah bergerak sejak 16 Agustus dari Labuan Bajo dengan membawa 4.500 bingkisan anak, 810 paket sembako, dan 400 family kit untuk disalurkan ke wilayah terdampak.
Penyaluran bantuan dan pendataan juga dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, dan Sikka.
Upaya tersebut dilakukan untuk mendukung keberlangsungan pembelajaran sekaligus memenuhi kebutuhan dasar warga sekolah yang terdampak gempa dan gempa susulan.