Big Bad Wolf hadir kembali di Makassar 2026. (Dok. Metro TV)
Big Bad Wolf 2026 Kembali Digelar di Makassar, Dorong Akses Buku Lebih Luas
Duta Erlangga • 20 April 2026 13:03
Jakarta: Dalam rangka merayakan satu dekadenya, bursa buku internasional Big Bad Wolf (BBW) kembali hadir di Indonesia. Tahun ini, BBW akan digelar di Makassar pada 2–12 April 2026 di Summarecon Mutiara Makassar Convention Center.
Founder Big Bad Wolf Books International Andrew Yap mengaku antusias melihat perjalanan BBW selama 10 tahun di Indonesia.
“Oh, rasanya luar biasa. Sepuluh tahun di sini, ketika saya mengingat kembali pertama kali kami datang ke sini, kami tidak tahu apa yang akan terjadi, kami sangat takut meninggalkan Malaysia untuk pertama kalinya. Perjalanan ini sungguh menakjubkan, setiap kali kami kembali ke Indonesia, dukungan yang kami dapatkan dari masyarakat sangat luar biasa, jadi selalu menyenangkan,” ujarnya dikutip dari program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis, 16 April 2026.

Founder Big Bad Wolf Books International Andrew Yap. (Dok. Metro TV)
Menurut Andrew, BBW tidak hanya menjadi ajang penjualan buku, tetapi juga berperan dalam membentuk kebiasaan membaca masyarakat. Ia melihat adanya perubahan signifikan dari jenis buku yang diminati pengunjung.
“Saya melihat perbedaan yang sangat besar. Dulu banyak buku anak-anak, sekarang buku remaja dan anak muda berkembang pesat. Anak-anak yang datang 10 tahun lalu kini tumbuh menjadi pembaca aktif,” jelasnya.
Penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman menilai kehadiran BBW di berbagai daerah, termasuk Makassar, menjadi solusi atas keterbatasan akses buku di Indonesia.
“Anggapan orang Indonesia malas membaca itu tidak tepat. Masalahnya ada pada akses. BBW menjadi jembatan yang mendekatkan buku dengan pembacanya,” kata Maman.

Penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman. (Dok. Metro TV)
Ia juga menyoroti tingginya biaya distribusi buku ke daerah yang selama ini menjadi kendala. Menurutnya, kehadiran BBW memungkinkan masyarakat mendapatkan buku dengan harga lebih terjangkau.
Selain menghadirkan buku dengan harga murah, BBW juga membawa misi “Changing the world, one book at a time”. Andrew menilai misi tersebut semakin relevan di tengah masifnya digitalisasi.
“Ini sangat relevan. Banyak orang ingin rehat dari layar digital, dan buku menjadi salah satu cara untuk relaksasi. Namun, tantangannya adalah akses terhadap buku yang masih terbatas,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, BBW menjanjikan konsep yang lebih besar dan beragam. Tidak hanya buku, pengunjung juga dapat menemukan produk lain seperti puzzle dan kartu permainan.
Founder Big Bad Wolf Books International itu juga mengajak masyarakat untuk merencanakan kunjungan ke BBW Makassar, mengingat sudah tujuh tahun sejak terakhir kali acara ini digelar di kota tersebut.
“Pastikan Anda punya waktu dan rencanakan kunjungan Anda. Buku-buku yang hadir akan sangat berbeda dari sebelumnya dan lebih menarik,” katanya.
Andrew Yap juga menegaskan komitmen Big Bad Wolf dalam memperluas akses dan keterjangkauan buku bagi masyarakat Indonesia, sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem literasi di Tanah Air.
“Aksesibilitas dan keterjangkauan adalah kunci. Kami ingin menginspirasi lebih banyak pihak, termasuk pelaku usaha, bahwa ada pasar yang besar untuk buku di Indonesia. Harapannya, semakin banyak toko buku yang bermunculan. Jika ada ratusan ribu restoran, seharusnya ada ratusan ribu toko buku. Karena bukan hanya perut yang perlu diisi, tetapi juga pikiran,” tutupnya.
Founder Big Bad Wolf Books International Andrew Yap mengaku antusias melihat perjalanan BBW selama 10 tahun di Indonesia.
“Oh, rasanya luar biasa. Sepuluh tahun di sini, ketika saya mengingat kembali pertama kali kami datang ke sini, kami tidak tahu apa yang akan terjadi, kami sangat takut meninggalkan Malaysia untuk pertama kalinya. Perjalanan ini sungguh menakjubkan, setiap kali kami kembali ke Indonesia, dukungan yang kami dapatkan dari masyarakat sangat luar biasa, jadi selalu menyenangkan,” ujarnya dikutip dari program Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis, 16 April 2026.

Founder Big Bad Wolf Books International Andrew Yap. (Dok. Metro TV)
Menurut Andrew, BBW tidak hanya menjadi ajang penjualan buku, tetapi juga berperan dalam membentuk kebiasaan membaca masyarakat. Ia melihat adanya perubahan signifikan dari jenis buku yang diminati pengunjung.
“Saya melihat perbedaan yang sangat besar. Dulu banyak buku anak-anak, sekarang buku remaja dan anak muda berkembang pesat. Anak-anak yang datang 10 tahun lalu kini tumbuh menjadi pembaca aktif,” jelasnya.
Baca Juga:
Rayakan Satu Dekade, Big Bad Wolf Jakarta 2026 Hadirkan Pesta Buku 24 Jam Nonstop |
Penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman menilai kehadiran BBW di berbagai daerah, termasuk Makassar, menjadi solusi atas keterbatasan akses buku di Indonesia.
“Anggapan orang Indonesia malas membaca itu tidak tepat. Masalahnya ada pada akses. BBW menjadi jembatan yang mendekatkan buku dengan pembacanya,” kata Maman.

Penulis sekaligus pegiat literasi Maman Suherman. (Dok. Metro TV)
Ia juga menyoroti tingginya biaya distribusi buku ke daerah yang selama ini menjadi kendala. Menurutnya, kehadiran BBW memungkinkan masyarakat mendapatkan buku dengan harga lebih terjangkau.
Selain menghadirkan buku dengan harga murah, BBW juga membawa misi “Changing the world, one book at a time”. Andrew menilai misi tersebut semakin relevan di tengah masifnya digitalisasi.
“Ini sangat relevan. Banyak orang ingin rehat dari layar digital, dan buku menjadi salah satu cara untuk relaksasi. Namun, tantangannya adalah akses terhadap buku yang masih terbatas,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, BBW menjanjikan konsep yang lebih besar dan beragam. Tidak hanya buku, pengunjung juga dapat menemukan produk lain seperti puzzle dan kartu permainan.
Founder Big Bad Wolf Books International itu juga mengajak masyarakat untuk merencanakan kunjungan ke BBW Makassar, mengingat sudah tujuh tahun sejak terakhir kali acara ini digelar di kota tersebut.
“Pastikan Anda punya waktu dan rencanakan kunjungan Anda. Buku-buku yang hadir akan sangat berbeda dari sebelumnya dan lebih menarik,” katanya.
Andrew Yap juga menegaskan komitmen Big Bad Wolf dalam memperluas akses dan keterjangkauan buku bagi masyarakat Indonesia, sekaligus mendorong tumbuhnya ekosistem literasi di Tanah Air.
“Aksesibilitas dan keterjangkauan adalah kunci. Kami ingin menginspirasi lebih banyak pihak, termasuk pelaku usaha, bahwa ada pasar yang besar untuk buku di Indonesia. Harapannya, semakin banyak toko buku yang bermunculan. Jika ada ratusan ribu restoran, seharusnya ada ratusan ribu toko buku. Karena bukan hanya perut yang perlu diisi, tetapi juga pikiran,” tutupnya.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com