Ustaz Das’ad Latif menyampaikan tausiyah dalam program Cahaya Hati di Metro TV. (Foto: Dok. Metro TV)
Cahaya Hati: Ketika Doa, Amal, dan Nafkah Menjadi Ujian Keikhlasan
Patrick Pinaria • 28 February 2026 21:18
Jakarta: Tidak ada doa yang sia-sia. Ada yang dikabulkan sesuai permintaan, ada yang ditunda, dan ada pula yang diganti dengan kebaikan yang lebih besar. Pesan itu disampaikan Ustaz Das’ad Latif dalam program Cahaya Hati di Metro TV edisi bulan Ramadan.
Pada kesempatan itu, Ustaz Das’ad Latif mengisahkan mimpi Rasulullah SAW tentang seorang hamba yang menerima balasan besar atas doa-doanya yang tidak terkabul di dunia.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah Salawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dikisahkan suatu ketika Rasulullah SAW selesai salat subuh. Berzikir dan berdoa. Selesai itu, beliau bangkit dan balik ke belakang, bertanya kepada para sahabat. Saudara-saudara sekalian adakah di antara kalian yang mimpi semalam? Sahabat pun menjawab, tidak ya Rasul. Nabi lalu menjelaskan saya semalam bermimpi dan dalam mimpi itu Allah membawa saya jalan-jalan masuk ke dalam sorga," ujar Ustaz Das'ad Latif dalam program Cahaya Hati di Metro TV pada edisi 19 Februari 2026.
Rasulullah kemudian menceritakan bahwa dalam mimpinya, Allah memperlihatkan seorang hamba yang menerima hadiah sangat besar di surga. Hamba itu merasa kebaikan yang ia lakukan tidak sebanyak balasan yang diterimanya.
"Supaya gampang dipahami saya kasih permisalan. Pahalanya lima Allah kasih lima ribu. Lalu Allah SWT menyampaikan kepada hambanya. Wahai hambaku ketahuilah Itulah doa-doamu yang tidak aku kabulkan ketika kau hidup di dunia karena saya tahu apa yang kamu minta, kamu tidak mampu memikulnya," lanjutnya.
Melalui kisah tersebut, ia menegaskan bahwa tidak ada doa yang tidak dikabulkan. Semua doa pasti diijabah, baik dalam bentuk kesesuaian dengan permintaan, ditunda, maupun diganti dengan yang lebih baik. Jika tidak diberikan di dunia, maka akan diberikan di akhirat. Karena itu, ia mengajak untuk tetap berprasangka baik kepada Allah, terutama di bulan Ramadan dengan memperbanyak doa dan memohon yang terbaik.
Selain membahas tentang doa, ia juga mengingatkan bahwa ada amal Ramadan yang dapat tertolak. Dikisahkan Rasulullah SAW mengucapkan 'Amin' tiga kali saat naik mimbar pada 1 Syawal setelah Malaikat Jibril menyampaikan tiga doa. Maknanya, doa tersebut pasti dikabulkan.
Doa pertama berkaitan dengan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya agar tidak diterima amal ibadah Ramadannya. Ia menegaskan bahwa meskipun puasa, tarawih, dan ibadah lainnya sempurna, menyakiti hati orang tua dapat menyebabkan amal tertolak.
Doa kedua ditujukan kepada Muslim yang tidak mau memaafkan sesamanya dan memutus tali persaudaraan. Ia menyinggung fenomena di era digital ketika hoax dan fitnah mudah tersebar, yang kerap dipicu kebencian. Ramadan, menurutnya, hadir untuk merapatkan kembali hubungan yang renggang.
Baca Juga :
Lelahnya Mengikuti Komentar Orang
Doa ketiga berkaitan dengan istri yang durhaka kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan. Ibadah yang baik selama Ramadan dapat menjadi sia-sia jika disertai sikap yang menyakiti pasangan.
"Falaisa minni, kata Nabi, dia bukan bagian dari umatku. Maka Ramadan hadir merapatkan kembali," kata Ustaz Das'ad Latif.
Pembahasan juga menyentuh kemuliaan mencari nafkah yang halal. Dikisahkan Rasulullah SAW sepulang dari Perang Badar berjabat tangan dengan sahabat bernama As’ad Al-Ansyari. Tangan sahabat itu kasar karena bekerja memecah batu untuk menafkahi keluarga.
Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah terharu dan mencium tangannya seraya menyampaikan bahwa tangan itulah yang akan melindunginya dari sentuhan api neraka karena ia mencari nafkah dengan cara yang tidak batil.
"Saudaraku As'ad Al-Ansyari ketahuilah tanganmu inilah nanti yang akan melindungimu dari sentuhan api neraka. Karena engkau mencari nafkah dengan tanganmu dan menghindarkanmu dari bekerja yang batil," tuturnya.
Ia menekankan bahwa mencari nafkah adalah ibadah yang memiliki aturan. Harta harus diperoleh secara halal dan baik, barulah kemudian banyak. Ia mengingatkan bahwa ketika seseorang menghalalkan segala cara, harta yang diperoleh justru tidak membawa ketenteraman jiwa, melainkan kegelisahan.
Ramadan, menurutnya, melatih kemampuan menahan diri, bahkan terhadap hal-hal yang halal. Makna terpenting dari puasa adalah mengendalikan diri serta memisahkan antara yang hak dan yang batil dalam setiap aspek kehidupan.
"Makna terpenting dari puasa ini adalah kemampuan mengendalikan diri dari praktik-praktik yang halal. Memisahkan antara yang hak dan yang batil," kata Ustaz Das'ad Latif menutup tausiyahnya.