Bangsa Pencipta

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Bangsa Pencipta

Abdul Kohar, Media Indonesia • 20 July 2026 05:48

Ada pelajaran yang melampaui sepak bola dari Piala Dunia 2026. Pelajaran itu bukan semata-mata tentang siapa yang menjadi juara, melainkan juga tentang bagaimana kejayaan dibangun. Empat besar turnamen itu seperti menghadapkan dua jalan yang berbeda. Pertama, jalan mengumpulkan bintang. Kedua, jalan menciptakan bintang.

Di satu sisi berdiri Inggris dan Prancis. Keduanya dipenuhi nama-nama besar yang menjadi ikon klub paling glamor di dunia. Jude Bellingham dan Kylian Mbappe ialah wajah dari Real Madrid, klub yang selama puluhan tahun dikenal piawai mengumpulkan pemain terbaik dari berbagai penjuru bumi. 'Los Galacticos' menjadi simbol bahwa kejayaan bisa dibeli melalui akumulasi talenta.
 


Di sisi lain, berdiri Spanyol dan Argentina. Keduanya membawa kisah yang berbeda. Ada Lamine Yamal dan Lionel Messi, dua nama yang lahir bukan dari belanja besar, melainkan dari proses panjang. Keduanya ditempa di La Masia, akademi Barcelona yang percaya bahwa bakat bukan barang yang diburu. Di akademi itu tertanam prinsip bahwa bakat ialah benih yang disemai, dirawat, lalu dipanen pada waktunya.

Hasil akhirnya menarik. Tim yang diwakili para 'pencipta bintang' justru menyingkirkan tim yang diwakili para 'pengumpul bintang'. Itu tentu bukan sekadar kemenangan Barcelona atas Real Madrid. Terlalu dangkal bila dibaca sebagai rivalitas dua klub. Yang sesungguhnya menang ialah filosofi tentang kesabaran melawan ketergesaan, proses melawan jalan pintas, pembangunan melawan pembelian.

Peradaban selalu lahir dari mereka yang mampu menciptakan, alih-alih sekadar mengoleksi. Bangsa yang besar bukan bangsa yang pandai membeli teknologi, melainkan bangsa yang mampu melahirkan teknologi. Bukan bangsa yang sibuk mendatangkan tenaga terbaik dari luar, melainkan bangsa yang sanggup menempa anak-anak mereka menjadi yang terbaik.

Karena itu, kemenangan Spanyol dan Argentina seperti mengetuk kesadaran kita. Tidak ada kejayaan yang benar-benar kukuh jika fondasinya hanya kemampuan mengumpulkan hasil kerja orang lain. Kejayaan yang tahan lama selalu bertumpu pada kemampuan menciptakan.

Indonesia sering kali terjebak pada budaya instan. Kita lebih senang membeli daripada meneliti. Lebih bangga mengimpor daripada membangun. Lebih cepat mencari jalan pintas daripada menyiapkan jalan panjang. Kita acap kali ingin segera menikmati buah, tetapi enggan menanam pohonnya.

Padahal, setiap bangsa besar selalu memuliakan proses. Jepang membangun manusia sebelum membangun industrinya. Korea Selatan membangun pendidikan sebelum menguasai teknologi. Tiongkok menghabiskan puluhan tahun membina riset sebelum menjadi raksasa manufaktur dunia. Mereka semua memahami satu hal, bahwa tidak ada bangsa pencipta yang lahir dari kesabaran sehari atau semalam.


Piala Dunia 2026. Foto: Media sosial X FIFA @FIFAcom.

La Masia hanyalah sebuah akademi sepak bola. Namun, di dalamnya terkandung filosofi yang jauh lebih besar daripada olahraga. Ia percaya bahwa karakter lebih penting daripada sensasi, pembinaan lebih penting daripada belanja, dan kesabaran lebih penting daripada gegap gempita. Itulah mengapa moto Barcelona ialah 'Mes que un club', lebih dari sekadar klub.

Piala Dunia 2026 akhirnya memberikan pesan yang sederhana, tetapi amat dalam. Bangsa yang hanya gemar mengumpulkan akan selalu bergantung kepada orang lain. Sebaliknya, bangsa yang mampu menciptakan akan menjadi rujukan bagi dunia.

Kejayaan sejati tidak pernah datang dari apa yang kita beli. Ia lahir dari apa yang kita bangun, kita didik, dan kita perjuangkan dengan tekun dari generasi ke generasi.

Di sanalah sesungguhnya kemenangan terbesar itu berada, yaitu kemenangan bangsa pencipta atas bangsa pengekor. Kemenangan mereka yang setia pada proses atas mereka yang tergoda oleh jalan yang serbainstan.

Kata Bung Karno: "Perjoangan kita tidak boleh berhenti. Perjoangan kita adalah perjoangan lahir dan batin, untuk membangun negara dan membangun bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, namun bangsa yang menang adalah bangsa yang gigih menempuh proses pembangunan karakternya."

(Fachri Audhia Hafiez)