Askrindo melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama dengan Syahbandar PPP Sorong. Foto: Dok istimewa
Askrindo Perluas Pelindungan bagi Nelayan di Sorong
Eko Nordiansyah • 20 July 2026 11:42
Sorong: PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) mendukung potensi sektor perikanan sebagai penggerak ekonomi pesisir. Askrindo memperkuat komitmennya melalui penandatanganan Nota Kesepakatan Bersama dengan Syahbandar Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sorong guna memperluas akses asuransi bagi nelayan di Kota Sorong, Papua Barat Daya.
Penandatanganan kesepakatan dilakukan oleh Branch Manager Askrindo Sorong, Dian Herdiana bersama dengan Syahbandar PPP Sorong Sugiarto serta disaksikan oleh perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jajaran Syahbandar, dan perwakilan kelompok nelayan.
Direktur Bisnis Askrindo, Budhi Novianto, mengatakan, kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk menjawab potensi besar sektor perikanan yang perlu diimbangi dengan penguatan mitigasi risiko. Askrindo memandang perlu adanya penguatan mitigasi risiko yang lebih komprehensif bagi masyarakat nelayan.
“Melalui kolaborasi ini, Askrindo hadir untuk mendukung kebutuhan tersebut dengan memperluas akses asuransi yang relevan dan mudah dijangkau, sehingga nelayan dapat bekerja dengan lebih tenang, produktif, serta memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik,” ujar Budhi dalam keterangan tertulis, Senin, 20 Juli 2026.

(Askrindo mendukung potensi sektor perikanan sebagai penggerak ekonomi pesisir. Foto: Dok istimewa)
Potensi perikanan Sorong menguat
Hal ini sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi Papua Barat Daya yang terus menunjukkan penguatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Papua Barat Daya tumbuh 4,03 persen (c-to-c) pada 2025 dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp39,2 triliun (ADHB), yang ditopang oleh sektor-sektor riil, termasuk pertanian, kehutanan, dan perikanan.Di wilayah pesisir seperti Sorong, sektor perikanan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi. Hal ini tercermin dari aktivitas 749 kapal dengan volume pendaratan ikan mencapai 3,57 juta kilogram serta nilai produksi lebih dari Rp86,2 miliar pada 2025. Besarnya aktivitas tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha nelayan tidak hanya ditentukan oleh potensi produksi, tetapi juga oleh kemampuan dalam mengelola risiko yang menyertainya.
Lebih dari sekadar itu, kerja sama ini merupakan kelanjutan dari program sosialisasi yang telah dilaksanakan sebelumnya, yang memperkenalkan berbagai solusi, mulai dari Personal Accident (PA), ASMIK Bahari untuk kapal, ASMIK Usahaku bagi pelaku usaha mikro, hingga ASMIK Rumahku untuk hunian. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyediaan produk, tetapi juga pada penguatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan risiko.
“Kami berupaya menghadirkan perlindungan yang menyeluruh bagi nelayan, tidak hanya untuk diri mereka, tetapi juga kapal, usaha, hingga tempat tinggal. Di saat yang sama, kami juga aktif melakukan edukasi dan pendampingan agar masyarakat semakin memahami pentingnya proteksi dalam menjalankan usahanya,” tambah Budhi.
Ke depan, implementasi kerja sama akan difokuskan pada perluasan literasi keuangan, penguatan pendampingan kelompok nelayan, serta sinergi berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor kelautan dan perikanan. Askrindo ingin memastikan upaya ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat nelayan.
“Sehingga mereka tidak hanya mampu mengembangkan usahanya, tetapi juga memiliki fondasi perlindungan yang kuat dalam menghadapi berbagai risiko. Dengan pendekatan yang berkelanjutan, kami optimistis sektor perikanan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian daerah,” tutup Budhi.