Peresmian pembangunan Kandang dan Hatchery Grand Parent Stock (GPS) Broiler milik PT Berdikari di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat 6 Februari 2026. Metrotvnews.com/ Daviq Umar Al Faruq
Pemerintah Bangun Ekosistem Perunggasan Nasional di Malang
Daviq Umar Al Faruq • 6 February 2026 22:19
Malang: Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem perunggasan nasional melalui proyek hilirisasi ayam terintegrasi untuk menjamin pasokan daging ayam dan telur, terutama bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kabupaten Malang, Jawa Timur, ditetapkan sebagai salah satu titik strategis nasional dengan fokus pengembangan pembibitan Grand Parent Stock (GPS).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda mengatakan, proyek hilirisasi ayam terintegrasi merupakan implementasi agenda swasembada pangan sekaligus respons atas lonjakan kebutuhan protein hewani nasional seiring bergulirnya program MBG.
“Saat ini Indonesia sudah swasembada daging ayam dan telur dan kita bahkan juga sudah surplus dan ekspor. Namun dengan adanya program makan bergizi gratis terdapat penambahan kebutuhan untuk daging ayam sekitar 1,1 juta ton per tahun dan telur ayam sekitar 774 ribu ton,” ujar Agung di Kabupaten Malang, Jumat, 6 Februari 2026.
Meski Indonesia telah mencapai swasembada, tantangan struktural masih terjadi. Menurut Agung, hal itu disebabkan oleh ketimpangan produksi yang terkonsentrasi di Pulau Jawa.
“Walaupun kita sudah swasembada, 63 persen produksi ayam dan telur kita itu dihasilkan di Pulau Jawa. Untuk mengurangi disparitas termasuk juga penyebaran dan pemerataan produksi daging ayam dan telur di luar provinsi Pulau Jawa, maka tadi akan dibangun proyek hilirisasi ayam terintegrasi,” jelas Agung.

Peresmian pembangunan Kandang dan Hatchery Grand Parent Stock (GPS) Broiler milik PT Berdikari di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat 6 Februari 2026. Metrotvnews.com/ Daviq Umar Al Faruq
Saat ini, pemerintah meluncurkan proyek hilirisasi ayam terintegrasi yang direncanakan berlangsung di 30 provinsi. Pada fase pertama, groundbreaking dilakukan di enam titik, yakni Jawa Timur (Kabupaten Malang), Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Kalimantan Timur.
“Salah satunya di Kabupaten Malang, untuk pembangunan pembibitan Grand Parent Stock (GPS) yang rencananya tahap pertama akan diberdayakan 18 ribu ekor ayam GPS yang diharapkan bisa menghasilkan 130 ribu ekor DOC (Final Stock) yang akan diberdayakan oleh peternak rakyat,” kata Agung.
Ia menegaskan, proyek hilirisasi ayam terintegrasi tidak berdiri sebagai proyek tunggal. Proyek ini dirancang untuk membangun ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir.
“Proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini bukan merupakan proyek tunggal. Tetapi membangun ekosistem perunggasan di mana dari sisi hulu dimulai dari pembangunan pembibitan baik Parent Stock, kemudian Pullet, kemudian pabrik pakan, kemudian vaksin dan obat. Termasuk nanti di hilirnya adalah untuk membangun RPHU yang akan menyerap ayam maupun telur yang dibudidayakan oleh para peternak rakyat,” papar Agung.
Dalam implementasinya, pemerintah menugaskan BUMN pangan sebagai operator utama proyek. Pendanaan infrastruktur didukung investasi Danantara sekitar Rp20 triliun, sementara peternak rakyat akan difasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Jadi ini adalah kolaborasi antara pemerintah khususnya Kementerian Pertanian dengan Danantara dan BUMN IDFOOD yang nanti sebagai operator yang menjadi offtaker dalam ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi ini,” ujar Agung.
Jika seluruh 30 titik proyek terbangun, pemerintah memperkirakan potensi serapan tenaga kerja mencapai 1,46 juta orang. Proyek ini ditargetkan menghasilkan 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun untuk mendukung MBG.
“Dan yang paling penting lagi tentu dari 30 proyek ini akan menghasilkan 1,5 juta ton daging ayam dan 1 juta ton telur per tahun yang nanti didedikasikan untuk program makan bergizi gratis,” kata Agung.
Agung menambahkan bahwa Kabupaten Malang difokuskan sebagai sentra pembibitan nasional. Berbeda dengan lima lokasi lainnya, wilayah ini tidak membangun ekosistem hilirisasi secara utuh.
“Jadi khusus untuk Malang ini bukan membangun ekosistem utuh seperti yang di lima titik yang lain tetapi fokus pada pembangunan pembibitan grand parent stocknya. Karena di Jawa ekosistemnya sudah berjalan,” ujar Agung.
Parent stock dari Malang akan didistribusikan ke lokasi proyek hilirisasi di luar Pulau Jawa. Langkah ini bertujuan menjamin ketersediaan bibit sekaligus menjaga stabilitas harga bagi peternak rakyat.
“Dan tentu ini akan memberikan dukungan kepastian ketersediaan termasuk harga kepada para peternak yang nanti akan dibangun ekosistemnya di lokasi yang baru tersebut,” ungkap Agung.

Peresmian pembangunan Kandang dan Hatchery Grand Parent Stock (GPS) Broiler milik PT Berdikari di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat 6 Februari 2026. Metrotvnews.com/ Daviq Umar Al Faruq
Direktur Utama ID FOOD, Ghimoyo, menambahkan, keterlibatan holding pangan nasional dalam proyek hilirisasi fase I merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam menjaga ketahanan pangan melalui penguatan industri berbasis nilai tambah.
“Proyek-proyek ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kinerja usaha, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan strategis negara terkait ketersediaan pangan, stabilitas pasokan, dan keterjangkauan harga. Hilirisasi menjadi instrumen penting untuk memperkuat kemandirian pangan nasional,” ujar Ghimoyo.
Sebagai bagian dari proyek hilirisasi nasional yang diinisiasi Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia, ID FOOD menjalankan sejumlah proyek strategis di sektor pangan, termasuk perunggasan dan industri garam. Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari enam proyek hilirisasi fase I dengan total nilai investasi sekitar US$ 7 miliar yang tersebar di sembilan provinsi dan diproyeksikan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja.
Pelaksanaan proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah sumber daya domestik, serta pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Sementara itu, pembangunan fasilitas pembibitan GPS di Kabupaten Malang dilaksanakan oleh PT Berdikari, anak perusahaan ID FOOD. Fasilitas tersebut dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektare dengan kapasitas 18.000 ekor GPS.
Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, menjelaskan fasilitas GPS ini menjadi fondasi penting untuk penguatan hulu industri perunggasan nasional. Fasilitas ini juga menjadi penopang utama proyek hilirisasi ayam terintegrasi di berbagai daerah lain.
“Dengan kapasitas yang dibangun, fasilitas ini diproyeksikan mampu menghasilkan daging ayam karkas hingga sekitar 169 juta kilogram, sehingga dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein nasional, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis,” jelas Maryadi.