Ilustrasi. Foto: dok Ajaib.
Apa Itu Saham Gorengan? Begini Cara Menghindarinya
Husen Miftahudin • 4 February 2026 06:58
Jakarta: Istilah saham gorengan menjadi sorotan pelaku pasar modal setelah adanya peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).
Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Selain itu, MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Hal ini diterapkan untuk memitigasi risiko turnover indeks dan risiko investabilitas.
"Sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar terkait untuk menghadirkan peningkatan transparansi yang lebih bermakna," tulis pengumuman MSCI yang dirilis pada Selasa, 27 Januari 2026 malam.
| Baca juga: Kantor PT Shinhan Sekuritas di SCBD Digeledah terkait Kasus Saham Gorengan |
Saham gorengan dimanipulasi pasar
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, saham gorengan adalah pergerakan saham yang tidak mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Pergerakan harga saham gorengan lebih dipengaruhi oleh manipulasi pasar," papar Nafan saat dihubungi wartawan, dikutip Rabu, 4 Februari 2026.
Nafan mencontohkan skema pump and dump yang kerap digunakan untuk mengerek harga saham secara cepat. Setelah harga naik, saham dilepas sehingga menimbulkan risiko kerugian bagi investor.
Ia menyebut saham gorengan umumnya memiliki likuiditas yang rendah. Kondisi tersebut membuat saham lebih mudah digerakkan oleh pihak tertentu.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Berpedoman IDX30 dan LQ45
Untuk menghindari saham gorengan, Nafan menyebut investor disarankan berpedoman pada indeks likuid BEI seperti IDX30 maupun LQ45. Investor juga perlu melakukan analisis fundamental perusahaan sebelum membeli saham.
Diketahui, IDX30 atau indeks saham di BEI yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar, dan didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
Saham-saham IDX30 terbaru periode 2 Februari-30 April 2026 di antaranya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP), dan lainnya.
Sedangkan LQ45 merupakan kelompok yang mencakup 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. Saham Indeks LQ45 periode Februari-April 2026, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan lainnya.