Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Safriady. Foto: Istimewa
Anak Indonesia & Pelindung Psikologis di Era Digital?
Safriady • 10 July 2026 12:58
Di masa lalu, anak-anak Indonesia tumbuh bersama figur-figur yang bukan sekadar menghibur, tetapi juga membentuk karakter dan kesehatan mental mereka. Ada Bu Sud dengan "Aku Suka Bernyanyi", Bu Kasur dengan lagu-lagu penuh nilai, Pak Tino Sidin yang mengajarkan keberanian berimajinasi melalui gambar, Kak Seto hingga sederet penyanyi cilik seperti Chicha Koeswoyo, Trio Kwek Kwek, Joshua Suherman, Maissy, Enno Lerian, Sherina, dan Tina Toon yang menyanyikan lagu-lagu sesuai dunia anak. Mereka menjadi "penjaga psikologis" di ruang publik. Anak-anak memperoleh hiburan yang aman, bahasa yang santun, nilai kebersamaan, serta ruang untuk tumbuh tanpa dipaksa menjadi orang dewasa sebelum waktunya.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Dunia anak tidak lagi didominasi televisi, taman bermain, atau sekolah, melainkan layar gawai yang terhubung tanpa batas dengan internet. Jika dahulu orang tua cukup mengawasi apa yang ditonton anak pada jam tertentu, sekarang algoritma media sosial bekerja selama 24 jam, menawarkan konten tanpa mengenal usia, budaya, maupun kesiapan psikologis anak.
Pertanyaan besarnya hari ini adalah, siapa yang kini menjadi pelindung psikologis anak Indonesia ketika mereka memasuki "rimba raya digital"?
Istilah pelindung psikologis bukan sekadar orang yang menjaga keamanan fisik anak, melainkan pihak yang mampu menjaga perkembangan emosi, cara berpikir, identitas, dan kesehatan mental mereka. Pada masa lalu, peran tersebut dijalankan secara kolektif oleh keluarga, sekolah, media penyiaran, seniman anak, hingga negara melalui regulasi penyiaran. Saat ini, sebagian besar ruang itu justru diisi oleh platform digital global yang bekerja berdasarkan algoritma keterlibatan (engagement), bukan kepentingan tumbuh kembang anak.
Algoritma tidak memahami mana konten yang baik atau buruk bagi perkembangan psikologis seorang anak. Yang diprioritaskan adalah konten yang mampu membuat pengguna bertahan lebih lama, memberikan komentar, atau terus menggulir layar. Akibatnya, anak-anak dapat terpapar berbagai materi yang belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka, mulai dari kekerasan verbal, perundungan, pornografi terselubung, gaya hidup konsumtif, tantangan berbahaya, hingga standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis.
Dampaknya mulai terlihat dalam berbagai penelitian. Banyak kajian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan konsentrasi, penurunan kualitas tidur, hingga rendahnya kepercayaan diri pada anak dan remaja. Fenomena fear of missing out (FOMO), kecanduan gawai, dan kebutuhan memperoleh validasi melalui jumlah "like" menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
Ironisnya, ruang digital justru semakin miskin konten yang benar-benar dibuat untuk kebutuhan psikologis anak Indonesia. Lagu anak hampir menghilang dari industri musik. Program televisi anak semakin sedikit. Tokoh pendidik yang dahulu akrab di rumah-rumah kini tergantikan oleh kreator konten yang belum tentu memahami psikologi perkembangan anak. Popularitas menjadi ukuran utama, bukan kualitas pendidikan.
Padahal, anak-anak tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga figur yang mampu menjadi teladan. Mereka membutuhkan cerita yang membangun empati, lagu yang sesuai usia, permainan yang melatih kreativitas, dan tontonan yang memperkuat karakter. Ketika ruang tersebut kosong, algoritma akan mengisinya dengan apa pun yang paling menarik perhatian, bukan yang paling bermanfaat.

Ilustrasi: Pexels
Di sinilah tanggung jawab tidak bisa dibebankan hanya kepada orang tua. Orang tua memang merupakan benteng pertama, tetapi mereka tidak mungkin mengawasi anak selama dua puluh empat jam. Ketika anak berada di sekolah, bermain bersama teman, atau berselancar di internet, ekosistem sosial harus ikut bekerja melindungi mereka.
Negara perlu memperkuat regulasi perlindungan anak di ruang digital, termasuk mendorong platform digital lebih bertanggung jawab terhadap rekomendasi konten untuk pengguna usia dini. Industri kreatif juga perlu didorong kembali memproduksi lagu, film, animasi, dan program edukasi yang berkualitas. Sekolah harus meningkatkan literasi digital, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengenali manipulasi informasi, menjaga kesehatan mental, dan membangun etika bermedia.
Di sisi lain, para kreator konten memiliki tanggung jawab moral yang semakin besar. Mereka adalah figur publik baru yang setiap hari hadir di hadapan jutaan anak. Apa yang mereka ucapkan, lakukan, dan tampilkan dapat menjadi rujukan perilaku generasi berikutnya. Pengaruh ini seharusnya disadari sebagai amanah sosial, bukan semata-mata peluang ekonomi.
Indonesia sesungguhnya pernah berhasil membangun ekosistem budaya yang ramah anak. Generasi yang tumbuh bersama Bu Kasur, Bu Susi, Pak Tino Sidin, Kak Seto dan lagu-lagu anak memperoleh ruang untuk berkembang sesuai tahap usianya. Mereka belajar tentang persahabatan, cinta tanah air, gotong royong, dan kegembiraan melalui media yang sederhana namun sarat makna.
Era digital tidak harus menjadi ancaman. Teknologi justru dapat menjadi sarana luar biasa untuk pendidikan apabila diiringi dengan desain ekosistem yang berpihak kepada kepentingan terbaik anak. Yang dibutuhkan bukan nostalgia semata, melainkan keberanian menghadirkan kembali pelindung-pelindung psikologis baru yang relevan dengan zaman baik dalam bentuk pendidik, kreator digital, psikolog, seniman, komunitas, maupun kebijakan negara.
Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan buatan, kecepatan internet, atau kecanggihan algoritma. Masa depan bangsa akan sangat ditentukan oleh ketahanan mental generasi mudanya. Dan ketahanan mental tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia dibangun oleh lingkungan yang sehat, figur yang menginspirasi, media yang bertanggung jawab, serta masyarakat yang menyadari bahwa melindungi anak di era digital bukan hanya tugas keluarga, melainkan tanggung jawab seluruh bangsa.
Jika dahulu anak-anak Indonesia memiliki Bu Kasur, Bu Sud, Pak Tino Sidin dan Kak Seto sebagai sahabat yang menemani masa tumbuh mereka, maka tantangan terbesar hari ini adalah menghadirkan sosok, sistem, dan ekosistem baru yang mampu menjalankan peran serupa di dunia digital.
Sebab apabila ruang psikologis anak dibiarkan sepenuhnya dikuasai algoritma, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.
(Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad - Safriady)