Kerusakan yang diakibat oleh serangan Pakistan di Afghanistan. Foto: Anadolu
Korban Tewas Serangan Pakistan di Afghanistan Bertambah Menjadi 28 Orang
Fajar Nugraha • 21 September 2026 18:17
Kabul: Pakistan menyatakan bahwa 28 teroris dan pelaku bom bunuh diri tewas dalam serangan udara terhadap tiga target di Afghanistan -,termasuk di provinsi Kunar,- menyusul serangan bom bunuh diri di wilayah barat laut Pakistan.
Serangan terbaru tersebut memicu kekhawatiran akan kembali terjadinya konflik dengan Kabul.
Kementerian Informasi Pakistan pada Senin 21 September 2026 menyatakan bahwa serangan udara di tiga lokasi di Afghanistan menewaskan 28 "teroris" dan pelaku bom bunuh diri, sehingga memperparah konfrontasi yang berpotensi menyeret kedua negara tetangga tersebut ke dalam pertempuran baru.
Salah satu serangan menghantam provinsi Kunar di timur laut Afghanistan. Serangan ini terjadi beberapa bulan setelah Pakistan dan Afghanistan terlibat dalam konfrontasi militer paling serius dalam beberapa tahun terakhir pada Februari lalu.
Eskalasi terbaru ini juga terjadi beberapa hari setelah Taliban memperingatkan bahwa mereka akan mempertahankan wilayah Afghanistan dari segala bentuk tindakan militer Pakistan. Peringatan tersebut kini menyoroti risiko terjadinya bentrokan langsung lainnya antara Kabul dan Islamabad.
Peringatan Taliban
Menjelang serangan Pakistan yang akan terjadi, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, telah memperingatkan Islamabad agar tidak melancarkan serangan di dalam wilayah Afghanistan, seraya menegaskan bahwa Kabul akan merespons secara militer jika wilayahnya diserang.Dalam sebuah wawancara, Mujahid menepis tuduhan Pakistan bahwa kelompok militan yang berbasis di Afghanistan melakukan perekrutan, pelatihan, dan peluncuran serangan terhadap Pakistan.
"Jika Pakistan menggunakan Pasal 51 untuk melanggar kedaulatan wilayah Afghanistan, Afghanistan berhak membela negaranya, dan kami akan melakukannya," ujar Mujahid, seperti dikutip dari Outlook India.
Ia menyatakan bahwa operasi militer Pakistan apa pun di dalam wilayah Afghanistan merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Afghanistan dan dapat memicu respons keras dari Kabul. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan yang sudah memuncak di sepanjang perbatasan.
Kabul Membantah Terkait TTP
Pernyataan Mujahid tersebut merupakan tanggapan atas komentar juru bicara militer Pakistan. Juru bicara tersebut mengatakan kepada Al Arabiya English bahwa kelompok militan menggunakan wilayah Afghanistan untuk merekrut, melatih, dan mempersenjatai para pejuang sebelum mengirim mereka ke Pakistan.Mujahid menepis klaim tersebut dan menyatakan bahwa pemerintahan Taliban tidak mengizinkan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) untuk beroperasi dari wilayah Afghanistan. Ia juga membantah bahwa pemerintah Taliban mendukung kelompok bersenjata yang melancarkan serangan terhadap negara lain.
Ia mengatakan bahwa Pakistan seharusnya melakukan introspeksi terhadap kegagalan keamanan di dalam negerinya sendiri. Mujahid berpendapat bahwa serangan-serangan yang dikaitkan dengan TTP dan kelompok bersenjata Baloch telah terjadi bahkan sebelum Taliban kembali berkuasa pada 2021.
Pakistan berulang kali menuduh kelompok militan menggunakan wilayah Afghanistan dan mendesak Kabul untuk bertindak, sementara Taliban terus membantah bahwa wilayah Afghanistan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Pakistan.
Pembicaraan dan Mediasi
Meskipun memperingatkan adanya kemungkinan balasan militer, Mujahid menyatakan bahwa Kabul tetap bersedia menjalin komunikasi dengan Islamabad melalui jalur dialog.Mujahid menyerukan peningkatan kerja sama intelijen dan penguatan kerja sama bilateral untuk mengatasi masalah keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara. Ia juga mendukung kemungkinan peran mediasi oleh Arab Saudi, dengan alasan bahwa Riyadh memiliki hubungan baik dengan Afghanistan maupun Pakistan serta dapat membantu kedua belah pihak menyelesaikan perbedaan mereka.
Hubungan antara Kabul dan Islamabad terus memanas akibat aktivitas kelompok militan di sepanjang perbatasan bersama mereka. Serangan udara terbaru, yang terjadi di tengah kekhawatiran keamanan yang kembali muncul, berisiko memperburuk hubungan tersebut dan dapat memicu konfrontasi lanjutan antara kedua negara tetangga itu.