Lo Kheng Hong, investor ritel saham legendaris yang dijuluki Warren Buffet Indonesia. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.
Lo Kheng Hong Sebut Pasar Saham RI Sedang 'Hujan Emas'
Ade Hapsari Lestarini • 6 November 2026 22:12
Jakarta: Investor ritel legendaris Lo Kheng Hong menilai pasar saham Indonesia saat ini menawarkan peluang investasi menarik di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia mengibaratkan kondisi tersebut sebagai 'hujan emas', karena harga sejumlah saham mengalami penurunan sehingga dapat dibeli dengan valuasi lebih murah.
Menurut Lo, tekanan terhadap pasar modal domestik tidak terlepas dari aksi jual investor asing. Sejak awal 2026, nilai saham Indonesia yang dilepas investor asing telah melampaui Rp100 triliun. Kondisi tersebut justru dipandang sebagai kesempatan bagi investor untuk mengakumulasi saham perusahaan berkualitas dengan harga yang lebih rendah.
"Kalau menurut saya, IHSG kita sudah turun dari 9.000 menjadi 5.000. Tentu harga saham menjadi sangat murah, undervalued sangat murah. Asing dari awal tahun sampai sekarang sudah menjual sahamnya lebih dari Rp100 triliun sehingga turun," ujar Lo Kheng Hong dalam acara seminar utama Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung BEI, Jakarta, dikutip Jumat, 6 November 2026.
Ia menilai, aksi jual investor asing yang menekan harga saham domestik dapat dimanfaatkan oleh investor yang memiliki perspektif investasi jangka panjang.
"Bagi saya, ketika asing ketakutan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia, saham-saham turun banyak. Bagi saya, di Bursa Efek Indonesia saat ini sedang 'hujan emas'. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas itu," kata dia.
Potensi keuntungan dari dividen dan kenaikan harga saham
Lo Kheng Hong juga menyoroti potensi keuntungan yang dapat diperoleh investor ketika membeli saham dengan harga rendah. Menurut dia, selain peluang kenaikan harga saham atau capital gain, investor juga berkesempatan mendapatkan penghasilan dari pembagian dividen.
Ia memberikan ilustrasi saham dengan dividend yield sebesar 14 persen. Imbal hasil tersebut dinilai lebih menarik dibandingkan deposito maupun surat utang negara berdasarkan perbandingan yang disampaikannya.
Lo mencontohkan, deposito dengan bunga enam persen per tahun. Setelah dipotong pajak sebesar 20 persen, imbal hasil bersihnya menjadi 4,8 persen. Sementara itu, surat utang negara dengan imbal hasil 7,8 persen setelah dipotong pajak 10 persen memberikan imbal hasil bersih sekitar tujuh persen.

Ilustrasi. Foto: Magnific.
"Coba kalau kita misalnya deposito di bank, bunganya enam persen per tahun, dipotong pajak 20 persen tinggal 4,8 persen. Kalau kita beli surat utang negara, mungkin 7-8 persen, dipotong pajak 10 persen, tinggal tujuh persen," kata Lo.
Selain dividen, Lo melihat peluang keuntungan dari pemulihan harga saham. Ia mencontohkan saham yang mengalami penurunan harga hingga 50 persen berpotensi memberikan capital gain sebesar 100 persen apabila kembali ke harga sebelumnya.
Lo Kheng Hong pilih strategi beli dan simpan saham
Berbekal pengalaman selama 37 tahun menjadi investor saham di Bursa Efek Indonesia, Lo Kheng Hong menekankan pentingnya kesabaran dalam berinvestasi. Ia menyarankan investor tidak terburu-buru menjual saham setelah membelinya, melainkan memberikan waktu bagi perusahaan untuk kembali mencapai nilai wajarnya.
Menurut dia, keuntungan besar dalam investasi saham tidak selalu diperoleh melalui aktivitas jual-beli atau trading dalam jangka pendek. Investor justru perlu bersabar menunggu kenaikan nilai perusahaan.
"Uang besar didapat bukan dari jual-beli, dari trading, tapi uang besar bisa kita dapatkan dari menunggu. Menunggu dengan sabar. Jadi, kalau kita ingin mendapatkan uang besar, kita harus beli dan simpan," ungkap dia.
Ia mengatakan, lamanya waktu untuk mempertahankan suatu saham tidak dapat ditentukan secara pasti karena bergantung pada pergerakan pasar dan proses pemulihan nilai perusahaan.
"Saya beli saham yang bagus dan murah. Untuk kembali ke harga wajarnya, tentu saya harus menunggu dengan sabar. Itu tidak bisa ditentukan oleh saya karena itu ditentukan oleh pasar. Jadi, yang diperlukan saya adalah menunggu dengan sabar," jelas dia.
Lo Kheng Hong bahkan mengaku memiliki saham yang telah disimpan lebih dari 10 tahun karena harganya belum kembali ke nilai wajar.
"Bursa adalah perangkat untuk memindahkan uang orang tidak sabar kepada orang yang sabar," tutur dia. (Selsha Septifanie Gunawan)