Irak Tegaskan Tak Akan Biarkan Wilayahnya Jadi Basis Serangan ke Saudi

Serangan drone yang melintas di udara. Foto: Anadolu

Irak Tegaskan Tak Akan Biarkan Wilayahnya Jadi Basis Serangan ke Saudi

Muhammad Reyhansyah • 15 October 2026 10:05

Baghdad: Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menegaskan Baghdad tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan serangan yang mengancam Arab Saudi maupun negara-negara lain di kawasan. 

Pernyataan itu disampaikan saat ia bertemu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut pernyataan kantor perdana menteri Irak dan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA), al-Zaidi menegaskan komitmen Irak terhadap keamanan regional dan hubungan bertetangga yang baik.

Kunjungan tersebut merupakan lawatan pertama al-Zaidi ke Arab Saudi sejak menjabat pada Mei. Kedua pemimpin membahas perkembangan regional, hubungan bilateral, serta koordinasi keamanan.

Mohammed bin Salman menerima al-Zaidi di Istana Al-Yamamah, Riyadh. 

“Pertemuan itu membahas koordinasi upaya untuk memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan,” sebut laporan SPA, dikutip dari Anadolu.

Irak Kecam Serangan ke Saudi

Dalam pertemuan tersebut, al-Zaidi mengecam keras serangan terbaru terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta infrastruktur sipil dan fasilitas penting lainnya di Arab Saudi.

Ia menyebut serangan tersebut sebagai "ancaman terhadap keamanan dan stabilitas regional".

Sejak 5 Oktober, lima bandara di Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid, dilaporkan menjadi sasaran serangan yang diklaim kelompok Houthi Yaman. Serangan tersebut menewaskan 20 orang, melukai ratusan lainnya, serta menyebabkan kerusakan dan gangguan lalu lintas udara.

Al-Zaidi menegaskan Irak tidak akan membiarkan wilayahnya menjadi landasan peluncuran serangan atau digunakan untuk tindakan lain yang mengancam keamanan Arab Saudi maupun negara-negara tetangganya.

Ia juga menegaskan komitmen Baghdad untuk menghormati kedaulatan Arab Saudi dan negara-negara lain di kawasan.

Sementara itu, Mohammed bin Salman menyampaikan keinginan Riyadh untuk memperkuat kerja sama dengan Irak di berbagai bidang, khususnya koordinasi keamanan.

Menurut pernyataan pemerintah Irak, putra mahkota Saudi juga mendukung upaya Baghdad dalam mendorong dialog dan mewujudkan stabilitas regional.

Al-Zaidi kembali ke Baghdad pada Rabu setelah kunjungan yang berlangsung selama beberapa jam, menurut kantor berita resmi Irak, Iraqi News Agency (INA).

Serangan Sebelumnya Berasal dari Irak

Pertemuan kedua pemimpin berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah pecahnya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran pada Februari. Sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, melaporkan serangan yang diluncurkan dari wilayah Irak oleh kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Teheran.

Al-Zaidi sebelumnya dijadwalkan mengunjungi Riyadh pada 29 Juli. Namun, kunjungan itu ditunda setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap fasilitas Pasukan Mobilisasi Populer (Popular Mobilization Forces/PMF) yang berafiliasi dengan negara Irak di tujuh provinsi menewaskan 20 orang dan melukai 32 lainnya.

Washington dan Riyadh menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas logistik dan gudang senjata milik kelompok yang bersekutu dengan Iran. Serangan itu disebut sebagai respons terhadap serangan drone terhadap instalasi minyak dan pangkalan militer di sejumlah negara, termasuk Arab Saudi.

Arab Saudi kemudian menyatakan pihaknya telah mengambil tindakan setelah menghabiskan berbagai opsi politik dan diplomatik serta menahan diri semaksimal mungkin selama berbulan-bulan.

Pada September, jalur pipa minyak East-West milik Saudi menjadi sasaran serangan di wilayah Riyadh dan Madinah. Riyadh menyatakan serangan tersebut melibatkan drone yang diluncurkan dari Irak dan menyebabkan korban serta kerusakan.

Otoritas Saudi mengatakan mereka menahan diri untuk tidak melakukan serangan balasan setelah al-Zaidi meminta waktu agar pemerintahannya dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah serangan lanjutan dari wilayah Irak.

Pemerintah Irak kemudian menyatakan hasil penyelidikan menunjukkan serangan terhadap Arab Saudi berasal dari sebuah lokasi di Provinsi Maysan, Irak selatan.

Pada 7 Agustus, al-Zaidi bertemu Kepala Intelijen Umum Saudi Khalid bin Ali al-Humaidan di Baghdad untuk membahas penguatan kerja sama keamanan dan pertukaran intelijen. Dalam pertemuan itu, al-Zaidi juga menerima undangan untuk mengunjungi Riyadh.

(Fajar Nugraha)