Bakal calon presiden (capres) Koalisi Perubahan Anies Baswedan. Foto Medcom.id Kautsar Widya Prabowo
Anies Ingin Ubah Paradigma Transaksi Berbasis Nilai
Muhammad Syahrul Ramadhan • 9 November 2023 14:51
Jakarta: Bakal calon presiden (bacapres) Anies Baswedan menyebut perlu ada perubahan terkait paradigma politik luar negeri Indonesia ke depan. Dari yang saat ini bersifat transaksional menjadi berbasis nilai (Value-based Policy).
“Berbagai pihak menilai bahwa politik luar negeri kita masih bersifat transaksional. Artinya Indonesia bergerak ketika politik luar negeri memberikan keuntungan investasi, keuntungan perdagangan. Bukan tanggung jawab sebagai warga dunia,” jelas Anies dalam acara Pidato Calon Presiden Republik Indonesia: Arah dan Strategi Politik Luar Negeri, di CSIS Auditorium Gedung Pakarti Center, Jakarta Pusat, Rabu, 8 November 2023.
Lebih lanjut Anies membeberkan konsekuensi politik luar negeri transaksional. Pertama turunya indeks kekuatan di Asia mengalami stagnasi atau menurun.
“Asia Power Index Score Indonesia dari 2018 ke 2023 itu 19,8 menjadi 19,4 padahal untuk negeri sebesar ini rasanya skor Indonesia seharusnya lebih baik. Bahkan kita ini lebih rendah daripada Singapura, Singapura 25 kita 19," terangnya.
Global Soft Power Index Indonesia juga turun dari 41 ke 45 di tahun 2023. Padahal Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar nomor 16 di dunia.
“Itu potret globalnya. Tapi karena tidak ada partisipasi di globalnya tuntutan dalam negeri untuk deliver juga menjadi menurun,” terangnya.
Anies mengatakan kewibawaan Indonesia di dunia internasional itu harus ditopang dengan kredibilitas atas kebijakan domestik. Menuruntya tidak bisa kebijakan internasional tanpa ditopang oleh kondisi domestik yang baik.
“Kita bicara tentang kemanusiaan tapi di sini abuse of human right ya tidak bisa. Kita bicara kesetaraan kesempatan tapi di sini non democracy. Domestiknya kita konsekuensinya kita menurun juga,” ucap Anies.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun mengatakan hal ini membuat indeks demokrasi turun. Begitu juga dengan indeks persepsi korupsi dan indeks kebebasan pers juga turun.
“Secara skala ekonomi kita besar. Kita berada di klub negara-negara besar bagian dari G20 tapi agenda-agenda dasar negara maju dan besar tidak menjadi bagian dari kita. Karena kita nggak ngobrol di situ. Ini harus dikoreksi ke depan,” terangnya.
“Ke depan ada pergeseran paradigma dari yang lebih transaksional ini value based smart power. Kami mencoba menggeser dari transaksional menjadi berbasis nilai. Dan strateginya dari diplomasi yang pragmatis menjadi diplomasi yang cerdas,” tambahnya.
Untuk mewujudkan kebijakan luar negeri berbasis nilai ini diperlukan dua hal. Pertama peningkatan kapabilitas dan kedua adalah peningkatan daya tarik.
“Dua-duanya ini dikerjakan. Peningkatan kapabilitas tentu saja dengan kerjasama perekonomian. Kemudian kolaborasi postur pertahanan dan lain-lain. Dan daya tarik Indonesia dengan diplomasi kebudayaan, pendidikan yang membuat Indonesia punya daya tarik yang luar biasa,” kata Anies.