Miguel Almiro Pemain Pertama di Piala Dunia 2026 Terkena Prestianni Law, Ini Penjelasannya

Pemain Timnas Paraguay Miguel Almiron. Instagram @miguel_almiron

Miguel Almiro Pemain Pertama di Piala Dunia 2026 Terkena Prestianni Law, Ini Penjelasannya

Whisnu Mardiansyah • 22 June 2026 10:07

Jakarta: Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan kehadiran 48 negara peserta. Ajang yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini juga menandai lahirnya sebuah regulasi baru yang memicu perdebatan luas, yakni "Prestianni Law".

Aturan tersebut menjadi salah satu perubahan penting yang diterapkan FIFA bersama International Football Association Board (IFAB) untuk menciptakan pertandingan yang lebih sportif dan transparan. Salah satu poin utamanya adalah larangan bagi pemain menutupi mulut ketika berbicara kepada lawan, wasit, maupun ofisial pertandingan.

Penerapan aturan ini langsung menyita perhatian dunia. Gelandang Paraguay, Miguel Almiron, tercatat sebagai pemain pertama yang menerima kartu merah akibat melanggar Prestianni Law saat Paraguay menghadapi Turki pada pertandingan fase grup Piala Dunia 2026.

Kasus tersebut memunculkan pertanyaan besar: mengapa FIFA sampai merasa perlu mengatur cara pemain berbicara di lapangan?
 



Bermula dari Kasus Gianluca Prestianni

Nama Prestianni Law diambil dari pemain muda Argentina, Gianluca Prestianni. Pemain yang berkarier di Benfica itu menjadi sorotan setelah terlibat insiden kontroversial pada pertandingan Liga Champions Eropa musim 2025/2026.

Dalam pertandingan antara Benfica melawan Real Madrid, Prestianni terlihat menutupi mulutnya saat berbicara kepada Vinicius Junior. Gerakan itu memicu kontroversi karena Vinicius mengaku menerima ucapan yang mengandung unsur rasisme.

Meski Prestianni membantah tuduhan tersebut, UEFA tetap menjatuhkan sanksi larangan bermain setelah melakukan penyelidikan. Kasus ini kemudian menjadi bahan evaluasi FIFA mengenai sulitnya membuktikan ucapan seorang pemain ketika komunikasi dilakukan dengan cara menutupi mulut.

FIFA berpendapat bahwa gestur tersebut dapat menghambat proses investigasi apabila terjadi dugaan penghinaan, rasisme, ataupun ujaran diskriminatif selama pertandingan. Dari situlah lahir gagasan untuk menciptakan regulasi baru yang kemudian dikenal sebagai Prestianni Law.



Apa Itu Prestianni Law?

Secara umum, Prestianni Law merupakan aturan yang melarang pemain dengan sengaja menutupi mulut menggunakan tangan, lengan, atau jersey ketika berbicara dalam situasi konfrontasi di lapangan.

Larangan tersebut berlaku dalam beberapa kondisi, antara lain berbicara kepada pemain lawan sambil menutupi mulut, berdebat dengan wasit menggunakan tangan untuk menyembunyikan ucapan, menutupi mulut saat terjadi konfrontasi antarpemain, serta menggunakan jersey atau lengan untuk menyamarkan gerakan bibir ketika melakukan komunikasi yang bersifat provokatif.

Apabila wasit atau Video Assistant Referee (VAR) mendeteksi tindakan tersebut, pertandingan dapat dihentikan untuk dilakukan peninjauan ulang. Jika terbukti terjadi pelanggaran, wasit memiliki kewenangan memberikan kartu kuning hingga kartu merah langsung, tergantung tingkat kesalahan dan konteks kejadian.

Namun, FIFA menegaskan aturan ini tidak berlaku untuk percakapan biasa antara sesama pemain dalam situasi normal atau komunikasi yang tidak mengandung unsur konfrontasi.

 

Miguel Almiron Jadi Korban Pertama

Penerapan perdana Prestianni Law terjadi pada laga Paraguay melawan Turki di fase grup Piala Dunia 2026. Menjelang akhir babak pertama, Miguel Almiron terlihat menutupi mulutnya sambil berbicara kepada salah satu pemain Turki setelah terjadi pelanggaran di lini tengah.

Wasit kemudian menerima informasi dari VAR dan memutuskan meninjau ulang insiden tersebut melalui monitor di pinggir lapangan. Setelah melihat tayangan ulang, wasit mengeluarkan kartu merah langsung kepada Almiron.

Keputusan itu membuat pemain berusia 32 tahun tersebut menjadi pesepak bola pertama dalam sejarah yang dikeluarkan dari lapangan karena melanggar Prestianni Law.

Insiden tersebut langsung memicu berbagai reaksi dari kalangan pemain, pelatih, hingga pengamat sepak bola. Sebagian menilai aturan ini terlalu ketat karena menghukum sebuah gerakan tanpa harus membuktikan isi ucapan yang sebenarnya.

Namun, tidak sedikit pula yang mendukung langkah FIFA sebagai bentuk perlindungan terhadap pemain dari tindakan intimidasi verbal maupun ujaran diskriminatif.

FIFA menilai sepak bola modern membutuhkan standar etika yang lebih tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir, isu rasisme, diskriminasi, dan penghinaan verbal menjadi perhatian serius. Berbagai kasus yang terjadi di kompetisi domestik maupun internasional menunjukkan bahwa ujaran tidak pantas masih menjadi persoalan yang sulit diberantas.

Prestianni Law lahir sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan pemain tidak perlu menutupi mulut apabila tidak memiliki sesuatu yang harus disembunyikan. Pernyataan itu mencerminkan semangat FIFA untuk menciptakan pertandingan yang lebih terbuka dan menjunjung tinggi rasa saling menghormati.

Namun, penerapan aturan ini juga memunculkan pertanyaan baru tentang apakah FIFA terlalu jauh mengatur perilaku pemain di lapangan. Perdebatan tersebut diperkirakan masih akan berlangsung selama Piala Dunia 2026.

Kehadiran Prestianni Law juga memperluas fungsi VAR dalam pertandingan. Selama ini, teknologi tersebut identik dengan pemeriksaan gol, penalti, kartu merah langsung, dan offside. Kini, VAR juga berperan mengawasi perilaku pemain, termasuk bahasa tubuh dan gestur komunikasi yang dianggap melanggar regulasi.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sepak bola terus berkembang, tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari aspek etika dan tata perilaku. Pemain tidak lagi hanya dituntut memiliki kemampuan teknik, kecepatan, dan kecerdasan taktik. Mereka juga harus mampu menjaga sikap serta mengendalikan emosi di tengah tekanan pertandingan.

Piala Dunia 2026 menjadi panggung pertama bagi penerapan Prestianni Law secara penuh. Aturan yang lahir dari sebuah kontroversi di kompetisi Eropa itu kini menjadi bagian dari wajah baru sepak bola internasional.

(Whisnu M)