Rudal Army Tactical Missile Systems (ATACMS) yang diperkirakan pasokannya makin menipis. Foto: Lockheed Martin
AS Telah Gunakan Hampir Seluruh Rudal Jarak Jauh Selama Perang Iran
Fajar Nugraha • 5 August 2026 05:56
New York: Militer Amerika Serikat (AS) telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal jarak jauh berakurasi tinggi selama perang lima bulan dengan Iran.
Hal itu disampaikan oleh tiga orang yang mengetahui data tersebut, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer untuk konflik di masa depan.
“Rudal-rudal tersebut terutama merupakan senjata darat-ke-darat milik Angkatan Darat, yang dikenal sebagai Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). AS telah menggunakan "hampir seluruh" senjata ini,” menurut dua sumber tersebut, seperti dikutip dari Channel News Asia, Rabu 5 Agustus 2026.
Sejauh mana militer kehabisan ATACMS dan Precision Strike Missiles belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Amunisi jarak jauh ini -,yang masing-masing berharga lebih dari USD1 juta,- merupakan bagian penting dari persenjataan militer, yang memungkinkan serangan akurat dari jarak aman.
ATACMS yang dipasok AS telah memainkan peran kunci dalam perang di Ukraina, memungkinkan pasukan Ukraina menyerang target di dalam wilayah Rusia. Sementara PrSM adalah generasi yang lebih baru dan lebih canggih yang akan menggantikan ATACMS, yang memiliki jangkauan lebih pendek.
Menipisnya persediaan rudal presisi jarak jauh secara drastis berarti Presiden AS Donald Trump mungkin harus lebih mengandalkan misi pengeboman berawak yang lebih berisiko jika ia kembali melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran.
Sumber-sumber tersebut menolak menyebutkan berapa banyak sisa amunisi masing-masing jenis yang dimiliki AS. Trump melancarkan perang melawan Iran bersama Israel pada bulan Februari, dengan perkiraan bahwa konflik tersebut akan berlangsung singkat.
Namun, seiring berlarutnya perang, ketiga orang yang mengetahui masalah tersebut menyatakan kekhawatiran bahwa menipisnya pasokan rudal dapat membatasi kemampuan AS dalam mencegah tindakan musuh, termasuk Rusia dan Tiongkok.
Orang keempat yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa meskipun Komando Pusat (Central Command/Centcom) -,yang mengawasi pasukan AS di Timur Tengah,- telah hampir menghabiskan rudal berbasis darat yang dimilikinya sebelum perang dimulai, mereka mampu mengisi kembali persediaan dari stok militer AS di wilayah lain di dunia.
Sumber-sumber yang diwawancarai untuk berita ini berbicara dengan syarat anonimitas. Saat dimintai komentar mengenai data persediaan tersebut, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan dari Trump yang menyebutkan bahwa AS memiliki "jauh lebih banyak amunisi dibandingkan siapa pun di dunia" dan "jauh melebihi kebutuhan kita."
"Saat ini, perusahaan-perusahaan pertahanan kita memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sembari memperluas pabrik dan peralatan mereka hingga mencapai tingkat rekor," ujar Trump.
Para analis sepakat bahwa jenis amunisi tertentu -,termasuk peluru artileri dan beberapa jenis rudal,- sedang diproduksi dalam jumlah rekor, namun mereka memperingatkan bahwa pasokan tersebut mungkin tidak mencukupi kebutuhan untuk perang yang berkepanjangan.
Lockheed Martin, produsen ATACMS dan PrSM serta sistem rudal anti-balistik THAAD, tidak segera menanggapi pertanyaan mengenai pernyataan Trump ataupun tingkat pasokan.
Raytheon, produsen rudal Tomahawk dan pencegat Patriot—dua senjata penting AS—juga tidak segera memberikan tanggapan.
Menanggapi permintaan komentar, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan: "Militer Amerika adalah yang terkuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk melancarkan aksi pada waktu dan tempat yang dipilih oleh Presiden. Kami telah berhasil melaksanakan berbagai operasi di berbagai komando tempur, sembari memastikan militer AS memiliki cadangan kemampuan yang memadai untuk melindungi rakyat dan kepentingan kita."
Angka-angka pasokan tersebut telah beredar di lingkungan pemerintah federal selama sepekan terakhir di tengah diskusi intens dalam pemerintahan Trump mengenai seberapa lama lagi AS dapat terus menyerang Iran tanpa menguras persediaan hingga ke tingkat yang membatasi kemampuan militer dalam merespons krisis di wilayah lain.
Peringatan pasokan senjata
Salah satu sumber menyebutkan bahwa pengurangan persediaan ATACMS dan PrSM mencerminkan keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari metode serangan yang lebih berisiko terhadap target-target Iran, seperti penggunaan pesawat berawak untuk menjatuhkan bom.Karena senjata-senjata ini memungkinkan militer menyerang target dari jarak jauh, para analis menilai senjata tersebut akan sangat berharga dalam perang melawan musuh yang memiliki pertahanan udara kuat, seperti Tiongkok.
Senjata-senjata tersebut telah digunakan untuk menyerang target di dalam wilayah Iran, menurut laporan bulan Maret dari Center for Strategic and International Studies (CSIS). Menurut laporan tersebut, jumlah persediaan awal PrSM tergolong rendah karena amunisi ini tergolong baru, namun militer AS telah memesan dalam jumlah besar untuk 2027.
Angkatan Darat menyatakan bahwa penggunaan ATACMS sedang dikurangi secara bertahap dan produksinya beralih ke rudal PrSM yang lebih baru.
Para pemimpin militer telah memperingatkan presiden selama berminggu-minggu bahwa persediaan senjata pertahanan -,termasuk rudal pencegat Patriot yang efektif melawan rudal balistik,- semakin menipis, menurut dua sumber tersebut.
Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa Trump memutuskan untuk tidak melancarkan serangan besar-besaran lainnya di wilayah Iran, sebagian karena para penasihat militernya telah memperingatkan mengenai kondisi persediaan AS.
Seorang pejabat AS membantah laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa Trump memilih untuk tidak melanjutkan serangan lain karena adanya tekanan dari negara-negara Teluk.
Konflik di Timur Tengah telah memicu perdebatan sengit mengenai wewenang Trump untuk melakukan tindakan permusuhan terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
Tidak ada permintaan untuk deklarasi perang ataupun izin penggunaan kekuatan militer yang diajukan kepada Kongres.
Persedian senjata pertahanan menipis
Pekan lalu, CSIS menerbitkan laporan yang memperkirakan bahwa antara bulan Februari dan Juli, sekitar 65 persen rudal pencegat Patriot telah digunakan, dan jumlah rudal pencegat balistik THAAD dalam persediaan AS berkurang setidaknya 38 persen dibandingkan saat awal perang.Patriot dan THAAD adalah sistem yang mampu mendeteksi serta menghancurkan rudal yang datang, dan termasuk dalam jajaran senjata paling efektif yang dimiliki negara tersebut.
Tidak dapat dilihat langsung angka-angka pasokan tersebut, angka-angka itu sesuai dengan data internal AS, menurut dua sumber tadi.
AS juga telah menghabiskan sedikit kurang dari separuh persediaan global rudal jelajah Tomahawk -,yang umumnya diluncurkan dari kapal,- sejak awal perang, ujar salah satu sumber.
Tomahawk merupakan senjata Angkatan Laut yang diluncurkan dari kapal perusak, kapal penjelajah, dan kapal selam; senjata ini telah lama menjadi sarana utama matra laut tersebut untuk menyerang target dengan pertahanan kuat tanpa membahayakan keselamatan pilot.
Raytheon, sebuah unit dari RTX, telah mencapai kesepakatan awal berdurasi beberapa tahun dengan Pentagon yang bertujuan meningkatkan produksi Tomahawk -,serta menambah produksi amunisi lainnya,- di tengah upaya Washington untuk memulihkan kembali persediaan senjatanya.