Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
Dunia Desak AS dan Iran Segera Pulihkan Jalur Pelayaran Selat Hormuz
Muhammad Reyhansyah • 13 April 2026 20:54
Teheran: Para pemimpin dunia menyerukan kepada Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk tidak mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, setelah lalu lintas kapal di kawasan tersebut terhenti pada Senin, 13 April 2026.
Melansir TRT World, penghentian aktivitas pelayaran terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade laut yang menargetkan pelabuhan Iran mulai pukul 14.00 GMT.
Langkah tersebut memicu reaksi cepat dari berbagai negara di Eropa, Asia, dan Timur Tengah, dengan kekhawatiran meningkat terkait keamanan energi dan stabilitas kawasan.
Iran Tegaskan Kontrol
Angkatan bersenjata Iran menyatakan bahwa pembatasan terhadap kapal di perairan internasional oleh AS “setara dengan aksi perompakan” dan memperingatkan bahwa Teheran akan menerapkan mekanisme permanen untuk mengendalikan Selat Hormuz.Pejabat Iran juga menegaskan bahwa jika pelabuhan mereka terancam, maka tidak ada pelabuhan di kawasan Teluk maupun Laut Oman yang akan aman dari serangan.
Turki Serukan Solusi Damai
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan dukungan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz melalui cara damai. Ia juga memperingatkan bahwa setiap intervensi militer internasional akan menghadapi tantangan serius.
Ia menambahkan bahwa komunitas internasional menginginkan jalur pelayaran yang bebas dan tanpa hambatan di kawasan tersebut.
Tiongkok Tekankan Stabilitas Global
Tiongkok menyerukan semua pihak untuk menahan diri, dengan menegaskan bahwa kelancaran dan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz merupakan kepentingan bersama komunitas internasional.“Menjaga jalur perairan penting ini tetap aman, stabil, dan tidak terhambat merupakan kepentingan bersama komunitas internasional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun.
Ia menambahkan bahwa Tiongkok siap bekerja sama dengan semua pihak untuk menjaga keamanan energi dan pasokan global.
Eropa Soroti Risiko Eskalasi
Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menilai blokade laut oleh AS “tidak masuk akal” dan memperingatkan bahwa langkah tersebut memperparah ketegangan.Ia menyebut situasi ini sebagai bagian dari eskalasi yang terus menyeret kawasan ke dalam ketidakstabilan.
“Ini adalah satu lagi episode dalam spiral penurunan yang telah menyeret kita,” ujarnya.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya tidak akan mendukung blokade tersebut dan tidak ingin terlibat dalam konflik, meskipun tekanan meningkat.
Ia menekankan pentingnya membuka kembali akses penuh ke Selat Hormuz secepat mungkin. “Menurut saya, sangat penting agar Selat Hormuz kembali terbuka sepenuhnya, dan itulah fokus upaya kami dalam beberapa waktu terakhir, dan akan terus kami lakukan,” kata Starmer.
Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan bahwa ekonomi negaranya yang sudah tertekan akan merasakan dampak jangka panjang dari guncangan energi akibat konflik di Timur Tengah.
“Kita akan terus merasakan konsekuensi dari perang ini untuk waktu yang lama, bahkan setelah konflik berakhir,” ujarnya, seraya mengumumkan langkah bantuan termasuk pemotongan pajak bahan bakar.
ASEAN Dorong Dialog dan Stabilitas
Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyerukan pemulihan jalur pelayaran yang aman, lancar, dan berkelanjutan di Selat Hormuz, serta mendesak semua pihak menjamin keselamatan awak kapal dan kapal yang melintas.ASEAN juga meminta Washington dan Teheran untuk melanjutkan perundingan guna mencapai penyelesaian permanen atas konflik dan menjaga stabilitas kawasan dalam jangka panjang.
Baca juga: Trump Tantrum, Perintahkan Angkatan Laut AS Blokir Selat Hormuz