Ilustrasi. Foto: Unplash
Tren Bullish Emas Gak Berhenti, Ini yang Perlu Diwaspadai Investor
Eko Nordiansyah • 20 January 2026 11:33
Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) kembali menunjukkan penguatan signifikan pada awal pekan ini, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global terhadap risiko geopolitik dan ekonomi. Pada perdagangan Senin, 19 Januari, emas berhasil bangkit setelah sempat tertekan hingga menyentuh level terendah empat hari pada Jumat, 16 Januari lalu.
Logam mulia ini melonjak lebih dari 1,50 persen dan diperdagangkan di kisaran USD4.672 per troy ounce, mendekati area psikologis USD4.700, setelah mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang kembali memanas sepanjang akhir pekan.
Menurut analisis dari Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, struktur pergerakan emas saat ini masih berada dalam fase yang sangat positif. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada emas semakin menguat.
"Harga emas mampu bertahan di atas level teknikal penting, menandakan tekanan beli masih mendominasi pasar. Selama sentimen risk-off tetap terjaga dan tidak ada tekanan besar dari sisi fundamental, emas berpotensi melanjutkan kenaikan dalam jangka pendek," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Januari 2026.
Dalam proyeksi pergerakan hari ini, Andy memperkirakan jika tekanan bullish berlanjut, emas memiliki peluang untuk menguji area USD4.750 sebagai target kenaikan berikutnya. Level ini dipandang sebagai kelanjutan dari momentum reli yang didorong oleh permintaan aset safe-haven.
"Namun demikian, volatilitas tetap tinggi di tengah dinamika geopolitik global. Jika harga gagal mempertahankan momentumnya dan terjadi koreksi, maka area USD4.565 diperkirakan akan menjadi support terdekat yang berpotensi menahan penurunan harga emas," jelas dia.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Meningkatnya kekhawatiran pasar
Kebijakan perdagangan agresif dilakukan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan mengumumkan rencana pemberlakuan tarif baru terhadap delapan negara Eropa—Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, dan Inggris, yang menolak rencana AS untuk mengakuisisi Greenland.Tarif awal sebesar 10 persen dijadwalkan berlaku mulai 1 Februari dan berpotensi meningkat hingga 25 persen pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan. Langkah ini memicu kekhawatiran akan perang dagang yang lebih luas, terutama setelah Uni Eropa dikabarkan tengah mempertimbangkan balasan berupa tarif senilai 93 miliar euro terhadap impor dari AS.
"Situasi tersebut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Ketidakpastian terkait arah kebijakan perdagangan dan geopolitik global membuat investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman," ungkap dia.
Kebijakan moneter AS jadi faktor penting
Sebagian besar analis memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga dalam waktu dekat, dengan probabilitas penurunan suku bunga pada pertemuan Januari yang relatif kecil. Morgan Stanley bahkan merevisi proyeksinya dengan memperkirakan pemangkasan suku bunga baru akan terjadi pada pertengahan dan akhir 2026.Meski ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama umumnya mendukung Dolar AS dan menekan emas, kondisi pasar saat ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Indeks Dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,36 persen ke level 99,02, sementara imbal hasil obligasi AS naik ke kisaran 4,227 persen. Pelemahan dolar ini memberikan ruang tambahan bagi emas untuk menguat.
"Dengan kombinasi faktor teknikal yang bullish dan sentimen fundamental yang sarat ketidakpastian, prospek emas hari ini masih condong ke arah positif. Selama tensi geopolitik belum mereda dan minat terhadap aset safe-haven tetap tinggi, emas berpeluang mempertahankan tren naiknya dan bergerak menuju level-level yang lebih tinggi dalam waktu dekat," kata dia.