Aktivitas Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal

Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. ANTARA/Karel A Polakitan (Ho)

Aktivitas Gunung Lokon Didominasi Gempa Vulkanik Dangkal

Silvana Febiari • 23 September 2026 14:58

Manado: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Dalam laporan evaluasi periode 1–15 September 2026, tercatat sebanyak 321 kali gempa vulkanik.

"Pengamatan instrumental, kegempaan terekam sebanyak 12 kali gempa embusan, satu kali tremor nonharmonik, 321 kali gempa vulkanik dangkal, serta 12 kali gempa vulkanik dalam," sebut Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam evaluasi aktivitas Gunung yang dibagikan Ketua Pos PGA Lokon, Armando Manguleh, dilansir dari Antara, Rabu, 23 September 2026. 

Selain itu, terekam satu kali gempa tektonik lokal, 79 kali gempa tektonik jauh, serta dua kali tremor menerus dengan amplitudo 0,5–10 milimeter (dominan dua milimeter). Berdasarkan evaluasi, hasil pengamatan visual aktivitas Gunung Lokon, teramati embusan asap berwarna putih tipis dengan tinggi maksimum sekitar 500 meter di atas kawah.


Kegempaan Gunung Lokon didominasi gempa vulkanik dangkal (VB) sedangkan gempa vulkanik dalam (VA) jarang terekam. Aktivitas vulkanik berdasarkan data visual dan seismik belum menunjukkan adanya peningkatan.

Dari data RSAM, energi tampak pada 24 Agustus 2026 polanya naik hingga 15 September 2026, kenaikan ini berasal dari gempa permukaan. Potensi bahaya Gunung Lokon saat ini berupa keluarnya gas beracun dari kawah dan erupsi freatik secara tiba-tiba.

Masyarakat yang berada di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon mewaspadai terjadinya lahar pada musim penghujan atau terjadinya hujan deras dengan durasi lama.


Gunung Lokon yang diambil dari permukiman penduduk Kelurahan Kinilow Satu, Kecamatan Tomohon Utara. ANTARA/Karel A Polakitan


Hingga 15 September 2026, aktivitas Gunung Lokon tetap berada pada Level II (Waspada). Kementerian ESDM mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak mendekati Kawah Tompaluan dalam radius 1,5 kilometer.

Bila terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam rumah. Apabila berada di luar rumah disarankan untuk menggunakan pelindung hidung, mulut (masker) dan mata (kacamata).

(Silvana Febiari)