Dari Atas Kertas ke Atas Meja Makan

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Ebet)

Podium Media Indonesia

Dari Atas Kertas ke Atas Meja Makan

Abdul Kohar, Media Indonesia • 22 September 2026 05:16

ADA kabar gembira dari dunia angka. Dalam 35 tahun terakhir, Indonesia rupanya bertambah kaya. Bukan kaya sedikit-sedikit, melainkan kaya sampai angka statistiknya pantas dipajang di ruang tamu.

Menurut data Bank Dunia, PDB per kapita riil Indonesia berdasarkan paritas daya beli atau purchasing power parity (PPP) tumbuh sekitar 210% sepanjang 1990-2025. Dari sekitar US$4.900 menjadi US$15.100. Artinya, secara riil, nilai output ekonomi rata-rata setiap kepala orang Indonesia sekarang lebih dari tiga kali lipat ketimbang 35 tahun lalu.

Indonesia bahkan masuk peringkat ke-24 dunia dan mencatat pertumbuhan tertinggi di antara negara-negara G-20. Alhamdulillah. Cuma, seperti lazimnya kabar gembira, sebaiknya jangan buru-buru memesan tumpeng.

Kalau kita menengok tetangga, kegembiraan itu mendadak harus ditakar ulang. Tiongkok melesat 1.404%. Vietnam 526%. India 369%. Bahkan Laos 342% dan Banglades 319%. Indonesia 210%.

Jadi, kita memang berlari. Masalahnya, beberapa tetangga berlari lebih kencang. Kita seperti orang yang bangga karena berhasil menempuh Jakarta-Bandung dalam 4 jam, sampai kemudian diberi tahu orang lain sudah tiba di Yogyakarta.

Yang paling spektakuler tentu Guyana. Negara berpenduduk kurang dari sejuta jiwa itu mencatat kenaikan 1.549%. Namun, Guyana punya cerita berbeda. Setelah minyak lepas pantai mulai diproduksi pada 2019, ekonomi mereka seperti mendapat durian runtuh. Bedanya, duriannya berisi minyak bumi.

Tiongkok lebih menarik dijadikan cermin. Pertumbuhan mereka dibangun berpuluh tahun melalui industrialisasi, perdagangan, investasi, dan transformasi ekonomi. Bank Dunia mencatat hampir 800 juta penduduk mereka keluar dari kemiskinan ekstrem dalam sekitar empat dekade.

Di situlah perkara sesungguhnya. Angka PDB per kapita memang penting. Ia menunjukkan kapasitas ekonomi suatu negara. Akan tetapi, PDB per kapita bukan gaji rata-rata yang setiap akhir bulan atau awal bulan (yang ini gaji PNS) masuk rekening rakyat.

Kalau PDB per kapita disebut setara Rp267,7 juta setahun, jangan lantas seorang buruh menghitung kalkulator, membaginya dengan 12, lalu bertanya kepada bagian keuangan perusahaan dengan pertanyaan curiga, "Ke mana gerangan jatah saya?" Bisa-bisa bagian keuangan ikut bingung.

PDB per kapita hanyalah nilai output ekonomi dibagi jumlah penduduk. Ia tidak memberi tahu bagaimana kue itu dibagikan, siapa memperoleh potongan besar, siapa kebagian remah, dan siapa cuma mencium aromanya.

Perekonomian Indonesia/Ilustrasi Medcom.id

Karena itulah, prestasi 35 tahun tersebut layak diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat kita mabuk statistik. Tantangan berikutnya jauh lebih sulit, yakni mengubah pertumbuhan di atas kertas menjadi kesejahteraan di atas meja makan.

Apa gunanya PDB per kapita berlipat tiga jika biaya rumah membuat generasi muda menyerah membeli rumah? Apa artinya ekonomi membesar bila pekerjaan layak sulit didapat, pendidikan berkualitas mahal, dan sakit sedikit saja bisa mengguncang keuangan keluarga?

PDB mestinya bukan sekadar angka yang tumbuh di layar komputer para ekonom. Ia harus menjelma menjadi pekerjaan yang lebih produktif, upah yang lebih baik, sekolah yang lebih bermutu, layanan kesehatan yang terjangkau, transportasi yang layak, dan kesempatan naik kelas bagi sebanyak mungkin warga.

Kita juga mesti bertanya mengapa Vietnam, India, dan bahkan Banglades mampu bergerak lebih cepat. Bukan untuk meratapi nasib, melainkan untuk belajar. Barangkali industrialisasi kita kurang dalam. Produktivitas belum melesat. Kualitas sumber daya manusia masih tertatih. Investasi belum cukup menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Karena itu, setelah 35 tahun, kita boleh tersenyum melihat angka 210%. Namun, jangan terlalu lama. Perlombaan sesungguhnya bukan siapa paling pandai memperbesar PDB, melainkan siapa paling berhasil membuat pembesaran ekonomi terasa sampai ke dapur rakyat.

Negara memang bisa kaya menurut statistik. Rakyat mestinya ikut kaya dalam kenyataan. Kalau yang berlipat-lipat hanya PDB, sedangkan kecemasan membayar sekolah, kontrakan, dan berobat ikut berlipat-lipat, jangan-jangan yang semakin makmur cuma angka. Angka, setinggi apa pun ia tumbuh, belum pernah bisa dimakan.

(Siti Yona Hukmana)