Pangan Lokal Dinilai Dapat Perkuat Program MBG

Makan Bergizi Gratis (MBG). Foto- Dok. Badan Gizi Nasional (BGN)

Pangan Lokal Dinilai Dapat Perkuat Program MBG

Achmad Zulfikar Fazli • 24 September 2026 21:23

Sanggau: Pemanfaatan kuliner daerah dinilai dapat memperkuat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain menghadirkan makanan yang lebih akrab dengan selera anak, penggunaan bahan pangan lokal berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Ahli Gizi di Kabuputen Sanggau, Kalimantan Barat, Nani Maulidia mengatakan menu berbasis pangan lokal dapat digunakan dalam program MBG sepanjang memenuhi prinsip gizi seimbang, aman dikonsumsi, disukai anak, tersedia di daerah, dan sesuai dengan alokasi biaya.

“Tujuan pemerintah mengadakan program MBG tentu untuk meningkatkan kualitas status gizi anak bangsa. Selain itu, juga untuk memberdayakan perekonomian masyarakat setempat,” ujar Nani dalam keterangan tertulis, Kamis, 24 September 2026.

Menurut dia, satu porsi makanan bergizi perlu mengandung sumber karbohidrat, protein hewani atau nabati, lemak, vitamin, dan mineral. Komposisi itu dapat dipenuhi melalui makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, dan buah yang tersedia di masing-masing daerah.

Nani menilai menu MBG yang pernah diamati telah memuat unsur gizi seimbang. Penilaian itu didasarkan pada makanan yang diterima anaknya di sekolah.

“Kalau saya lihat dari jenis bahan makanannya, sudah mencakup standar gizi seimbang. Dalam makanannya sudah ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Secara estimasi, porsinya juga sudah mencukupi untuk anak seusianya,” kata Nani.

Namun, menu lokal tidak dapat langsung digunakan hanya lantaran mudah ditemukan atau menjadi makanan khas suatu daerah. Kandungan gizi dan porsinya tetap perlu dikaji tenaga ahli sebelum disajikan kepada anak sekolah. Ketersediaan bahan baku, keamanan pangan, penerimaan anak, dan efisiensi biaya juga harus menjadi bagian dari perencanaan menu. 

Pangan Lokal Buka Ruang Variasi Menu

Di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, misalnya, tersedia beragam sayuran yang dapat diperoleh dari petani setempat. Pakis, rebung, daun katuk atau cangkok manis, labu kuning, serta tebu telur dapat diolah menjadi menu yang menarik dan tetap bergizi.

Salah satu makanan yang berpotensi dikembangkan ialah sayur rampai, kuliner yang menggabungkan beberapa jenis sayuran dalam satu masakan. Perpaduan bahan tersebut memungkinkan anak memperoleh vitamin dan mineral yang lebih beragam.

“Sayur rampai tidak hanya terdiri dari satu bahan. Bisa ada rebung, daun katuk, labu kuning, dan tebu telur. Itu bagus sekali karena kandungan vitamin dan mineralnya menjadi lebih beragam,” jelas Nani.

Penggunaan bahan pangan lokal juga dapat membantu membangun rantai pasok yang lebih dekat dengan dapur MBG. Di saat yang sama, pengelola tetap perlu mempertimbangkan musim dan harga. Ikan sungai, misalnya, dapat menjadi sumber protein yang baik ketika pasokannya tersedia, tetapi penggunaannya harus disesuaikan dengan harga dan anggaran.

Kreativitas pengolahan menjadi kunci agar makanan lokal lebih mudah diterima anak. Ikan dapat diolah menjadi nugget tanpa tulang dan dipadukan dengan wortel atau labu siam. Tebu telur dapat dibuat menjadi perkedel dengan tambahan ayam sehingga unsur sayur dan lauk hadir dalam satu olahan. 

“Bahan makanan bisa diinovasi cara pengolahannya. Ikan dapat dibuat menjadi nugget dan dicampur dengan sayuran. Kandungan lauk dan sayurnya bisa didapat dalam satu makanan,” ujar Nani.

Variasi tersebut penting karena setiap anak memiliki selera yang berbeda. Ada anak yang menyukai makanan kering, ada pula yang kurang menyukai makanan berkuah atau bosan dengan menu tertentu. Karena itu, survei sederhana dan uji penerimaan dapat membantu SPPG mengetahui menu yang paling disukai tanpa mengurangi standar gizinya. 

Keamanan Pangan Harus Jadi Fondasi

Nani menekankan inovasi menu harus berjalan seiring dengan disiplin keamanan pangan, terutama karena dapur MBG menyiapkan ratusan hingga ribuan porsi sekaligus.

Standar itu mencakup kualitas bahan baku, kebersihan dapur, kesehatan petugas, penggunaan penutup kepala, apron, masker dan sarung tangan, serta pemisahan peralatan untuk bahan mentah dan makanan matang. Penyimpanan bahan basah dan kering juga perlu dipisahkan, sementara bahan yang lebih dahulu masuk harus lebih dahulu digunakan. 

“Keamanan pangan dan higienitas penting sekali. Prosesnya harus diperhatikan sejak pengolahan sampai pendistribusian kepada konsumen,” tegas Nani.

Ilustrasi petugas saat menyiapkan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Rubby Jovan

Makanan juga harus matang sempurna, ditempatkan dalam wadah yang aman dan mudah disterilkan, serta didistribusikan tepat waktu. Nani menilai wadah berbahan stainless steel yang digunakan pada layanan MBG telah mendukung aspek keamanan karena relatif aman dan mudah dibersihkan. 

Kolaborasi antara ahli gizi, pengelola dapur, petani, serta tokoh kuliner daerah dinilai dapat menghasilkan menu MBG yang memenuhi standar sekaligus terasa dekat dengan keseharian anak. Dengan pendekatan tersebut, makanan tidak hanya bergizi di atas perhitungan, tetapi juga menarik untuk disantap sehingga risiko makanan tersisa dapat ditekan.

Nani menambahkan MBG juga dapat memperkuat kebiasaan makan sehat yang dibangun keluarga. Anak perlu diperkenalkan sejak dini pada makanan beragam dan seimbang agar tidak terbiasa memilih makanan tertentu saja.

“Kalau sejak dini anak sudah terbiasa disuguhkan makanan bergizi seimbang, kebiasaan itu akan terbawa sampai besar,” ujar Nani.

(Achmad Zulfikar Fazli)