Seminar WOW Brand 2026 Angkat Isu Humanisasi Brand di Era AI. (Dok. Istimewa)
Seminar WOW Brand 2026 Angkat Isu Humanisasi Brand di Era AI, Dorong Integrasi Teknologi dan Nilai Kemanusiaan
Duta Erlangga • 20 April 2026 12:21
Jakarta: The Eleventh WOW Brand 2026 Seminar Brand Terakbar kembali hadir sebagai ruang diskusi para pelaku industri untuk melihat ke mana arah branding bergerak hari ini. Bertempat di The Ballroom, Djakarta Theater, tahun ini acara mengangkat tema “Branding in the Age of AI”, sebuah topik yang makin relevan di tengah cepatnya perkembangan teknologi.
AI membuat banyak hal jadi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih terukur. Namun percepatan ini juga menuntut brand untuk tetap menjaga koneksi emosional dan sisi manusiawi dalam setiap interaksi dengan konsumen. Dalam forum ini, arah baru branding di era AI juga diperkuat melalui pemaparan konsep terbaru dari buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of AI yang baru saja dirilis secara global pada 7 April 2026 di Amerika Serikat. Buku ini merupakan bagian terbaru dari seri Marketing X.0 yang membahas bagaimana marketer perlu beradaptasi di tengah peran AI yang semakin dominan.

Seminar WOW Brand 2026 Angkat Isu Humanisasi Brand di Era AI. (Dok. Istimewa)
Dalam sesi pembuka, Iwan Setiawan, COO MCorp, menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia agar merek tidak kehilangan relevansi. Sebagai salah satu penulis buku Marketing 7.0, Iwan menyoroti tantangan autentisitas di mana otak manusia modern kini telah mengembangkan kemampuan penyaringan agresif terhadap konten yang terasa terlalu kaku.
“Otak manusia modern sudah punya aggressive filtering. Begitu melihat sesuatu yang bernuansa iklan atau terlalu 'rapi', kita otomatis mengabaikannya. Merek yang mau
menunjukkan apa adanya dirinya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahannya, justru itulah yang paling sukses di media sosial,” ujar Iwan.
Lebih lanjut, Iwan memaparkan bahwa meskipun AI sangat unggul dalam mengolah data, teknologi ini tetap memiliki batasan dalam menciptakan karakter merek yang unik. Ia memperingatkan bahwa AI cenderung memberikan hasil yang normatif sehingga berisiko membuat merek kehilangan identitasnya.
“AI itu adalah sosok generalis, dia tahu segala hal tapi dia tidak bisa jadi spesialis karena dia tidak punya bias. Branding itu butuh bias, butuh keberanian mengambil posisi unik. Jika strategi branding hanya diserahkan pada AI, hasilnya akan sangat aman (safe), dan kita berakhir menjadi brand yang rata-rata,” tutur Iwan menjelaskan batasan peran teknologi dalam strategi kreatif.
Baca Juga:
Marketing 7.0 Resmi Hadir, WOW Brand 2026 Jadi Panggung Diskusi Perdana di Indonesia |
Rangkaian acara ini menghadirkan dua sesi panel diskusi yang menyoroti peran krusial teknologi dan kemanusiaan dalam pemasaran modern. Sesi panel pertama mengangkat topik “Being More Human in the Age of AI”, yang membahas pentingnya aspek kemanusiaan sebagai diferensiasi utama brand di tengah arus otomatisasi.
Diskusi ini menekankan bahwa branding yang kreatif, otentik, dan berkelanjutan tetap menjadi kunci agar sebuah merek tetap relevan secara emosional di mata konsumen.
Selanjutnya, sesi panel kedua yang bertajuk “Being More Advanced in the Age of AI” mengeksplorasi strategi data-driven branding, penguatan brand experience, serta teknik bercerita (storytelling) berbasis teknologi untuk memenangkan pasar.
Diskusi mendalam pada kedua sesi ini menghadirkan para pakar dan praktisi dari berbagai industri yang telah terbukti sukses membangun reputasi brand mereka, antara lain Irsan Yapto, CEO & Founder Link Group; Yudi Sadono, Senior Vice President Marketing PT Pegadaian; Norisa Saifuddin, EVP Transaction Banking Business Development BCA; Nur Hidayat Dwi Santoso, GM Brand Strategy Management Telkomsel; Febri Satria Hutama, Marketing Director Le Minerale; serta Edward Tirtanata, Founder & CEO Kopi Kenangan.
Sebagai penutup, Hermawan Kartajaya, Founder and Chair of MCorp menegaskan bahwa di tengah pesatnya adopsi AI, peran manusia justru semakin krusial dalam menjaga arah dan diferensiasi brand.
“Sekarang semua orang bilang kalau tidak menggunakan AI akan kalah dari kompetitor, tetapi jangan sampai semuanya diserahkan pada AI. Keputusan tetap harus diambil oleh manusia,” tegas Hermawan.
Hermawan menambahkan bahwa pelajaran utama dalam marketing saat ini kembali pada prinsip dasar PDB (Positioning, Differentiation, Branding).
“Dalam marketing, kita tidak harus menjadi yang terbaik, tetapi harus menjadi berbeda. AI bisa membantu mempercepat, tetapi positioning dan diferensiasi tetap harus datang dari cara berpikir manusia. Di sinilah peran augmented human menjadi kunci,” pungkasnya.
Selain sesi diskusi, WOW Brand 2026 juga menghadirkan tiga bentuk apresiasi utama, yaitu Indonesia WOW Brand sebagai penghargaan berbasis rekomendasi konsumen, Branding Campaign of the Year (BCOTY) untuk kampanye paling impactful, serta Brand for Good Club (BFG) bagi brand yang memberikan kontribusi sosial. Ketiga penghargaan ini mencerminkan bahwa keberhasilan brand tidak hanya diukur dari performa bisnis, tetapi juga dari relevansi, kreativitas, dan dampaknya bagi masyarakat.
Sebagai penghargaan utama, Indonesia WOW Brand diberikan kepada merek dengan tingkat rekomendasi tertinggi dari konsumen, yang mencerminkan keberhasilan brand dalam membangun hubungan hingga mendorong advocacy. Penilaian dilakukan untuk mengukur kepercayaan, engagement end-to-end, serta menjadi benchmark loyalitas brand, dengan pendekatan Marketing 4.0 melalui Customer Path 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate).
Metodologi yang digunakan berupa survei online nasional pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, melibatkan lebih dari 3.000 responden berusia 17–56 tahun di seluruh Indonesia, dengan indikator utama Brand Advocacy Ratio (BAR) untuk mengukur kemampuan brand dalam mengonversi awareness menjadi rekomendasi nyata.
Tahun ini juga diperkenalkan WOW Brand China sebagai gambaran pasar global yang semakin terkoneksi dengan AI, dan akan hadir dalam rangkaian Jakarta Marketing Week 2026 pada Mei mendatang.
Sebagai penutup, WOW Brand 2026 menegaskan komitmennya untuk terus menjadi platform strategis bagi para pelaku industri dalam memahami dinamika branding yang kian berkembang.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan pertukaran wawasan yang relevan, forum ini diharapkan dapat mendorong lahirnya strategi branding yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga berakar pada nilai dan kedekatan dengan konsumen.