Sentra anyaman bambu tradisional yang masuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Saung Bakul di Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang bakal merambah pasar internasional.
Sentra Anyaman Saung Bakul Buniayu Rambah Pasar Internasional
Hendrik Simorangkir • 11 January 2026 16:59
Tangerang: Sentra anyaman bambu tradisional yang masuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Saung Bakul di Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang bakal merambah pasar internasional. Produk anyaman bambu khas Desa Buniayu itu akan diperkenalkan di Malaysia.
Selain hanya itu, Saung Bakul Buniayu juga bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro. Mereka menggandeng LSPR Institute of Communication & Business untuk mengembangkan penjualan hingga merambah pasar digital.
"Artinya ini membuka peluang pengembangan produk anyaman bambu Desa Buniayu ke arah yang lebih inovatif dan bernilai, sekaligus menambah pengetahuan masyarakat tanpa meninggalkan tradisi lokal. Mudah-mudahan apa yang diniatkan go internasional terwujud," ujar Pendiri Saung Bakul Buniayu, Mardani, Sabtu, 10 Januari 2026.
Mardani menuturkan, Saung Bakul Buniayu berdiri sejak 2021 dan seluruh pengrajinnya merupakan warga setempat. Saat ini, sebanyak 20 produk anyaman rumah tangga telah diproduksi oleh warga dari tiga Rukun Tetangga (RT) di desa tersebut.
"Kalau dari alat rumah tangga kita sudah lebih dari 20 produk, dan untuk pengembangan yang inovasi-inovasi ini kita belum sampai 10 produk. Karena memang pengrajin yang ada di Buniayu itu sendiri usianya lebih 45-50 tahun. Mudah-mudahan ke depannya lebih banyak lagi produk yang inovatif yang lainnya, khususnya di bidang anyaman," jelas Mardani.
Mardani menjelaskan, peci anyaman bambu merupakan produk yang paling banyak dilirik konsumen dari Saung Bakul Buniayu. Dari 20 produk yang tersedia, harganya bervariasi mulai dari Rp3 ribu hingga Rp150 ribu.
"Peci anyaman bambu itu kita jual Rp150 ribu. Ada juka tiker anyaman, dompet, bakul, ayakan beras, tas, wadah multifungsi, dan perlengkapan rumah tangga berbasis teknik tradisional kita produksi. Artinya masih banyak yang kami produksi di sini juga dilirik pembeli. Kalau omzet kita Rp5-7 juta per bulan," kata Mardani.
Saat ini, Saung Bakul Buniayu telah merambah di pasar digital untuk memperkenalkan produk-produknya. Meski belum maksimal, pihaknya akan terus melakukan pengembangan di pasar digital.
"Sejak kita mulai kenal di digital ini, harapannya kami itu punya toko online, walaupun sudah ada tapi kita juga butuh pengembangan di online shop itu. Karena kita masih minim seperti pengambilan gambar, kita masih ala kadarnya saja. Kita masih minim di situ," jelas Mardani.
Mardani menambahkan, jika produknya berhasil menembus pasar internasional, maka akan membawa manfaat besar. Kesempatan ini diharapkan dapat memajukan seluruh UMKM yang ada di Kabupaten Tangerang
"Sehingga mampu memberikan lapangan kerja untuk teman-teman UMKM dan masyarakat di sekitar UMKM itu sendiri," ucap Mardani.
.jpg)
Sentra anyaman bambu tradisional yang masuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Saung Bakul di Desa Buniayu, Kabupaten Tangerang bakal merambah pasar internasional.
Sementara, Ketua Penyelenggara Story Of Buniayu dari LSPR Institute of Communication & Business, Moza Febrianita mengatakan, pihaknya ingin mendorong penguatan UMKM serta keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui pelatihan digital dan pengembangan desain produk.
"Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat promosi digital, meningkatkan mutu desain produk, serta mendorong daya saing pengrajin lokal agar produk anyaman bambu dari Desa Buniayu dapat dikenal dan bersaing di pasar internasional," kata Moza.
Moza berharap kerja sama dalam promosi digital ini bisa membuat Desa Buniayu semakin dikenal. Langkah ini diharapkan dapat memajukan perekonomian warga desa.
"Kami ingin membantu potensi warga desa itu bisa lebih dikenal dan memajukan perekonomian warga dan beberapa anak mudanya, generasinya bisa terus melanjutkan tradisi anyaman bambunya tersendiri melalui dunia digital," ungkap Moza.