Gedung kantor Alibaba Group. Foto: scmp.com
Saham Alibaba Anjlok 10% Usai Penawaran Rp163 Triliun untuk AI
Husen Miftahudin • 24 August 2026 12:40
Hong Kong: Saham perusahaan Alibaba yang diperdagangkan di Bursa Hong Kong anjlok hingga 10 persen pada Senin, 24 Agustus 2026. Penurunan terjadi setelah perusahaan teknologi asal Tiongkok tersebut meluncurkan penawaran saham senilai USD10,2 miliar atau setara Rp163,2 triliun untuk pengembangan kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan (AI).
Saham Alibaba sempat turun 10 persen menjadi 110,10 dolar Hong Kong pada awal perdagangan. Sebelumnya, Alibaba menjual saham tambahan senilai 80 dolar Hong Kong atau sekitar USD10,2 miliar dengan harga 112,70 dolar Hong Kong per saham. Harga tersebut 8,4 persen lebih rendah dibandingkan harga penutupan saham Alibaba sebelumnya pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Dilansir dari Channel News Asia, dana saham hasil penawaran akan digunakan untuk pengembangan AI, termasuk memperluas infrastruktur terkait kecerdasan buatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar investasi AI di tengah persaingan dan ketegangan teknologi yang semakin ketat antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Transaksi ini menjadi penawaran saham lanjutan (follow-on offering) terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan Hong Kong dan menjadi yang terbesar ketiga secara global pada 2026, setelah penawaran saham oleh Alphabet dan Intel.
Saham Alibaba sempat turun 10 persen menjadi 110,10 dolar Hong Kong pada awal perdagangan. Sebelumnya, Alibaba menjual saham tambahan senilai 80 dolar Hong Kong atau sekitar USD10,2 miliar dengan harga 112,70 dolar Hong Kong per saham. Harga tersebut 8,4 persen lebih rendah dibandingkan harga penutupan saham Alibaba sebelumnya pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Dilansir dari Channel News Asia, dana saham hasil penawaran akan digunakan untuk pengembangan AI, termasuk memperluas infrastruktur terkait kecerdasan buatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar investasi AI di tengah persaingan dan ketegangan teknologi yang semakin ketat antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Transaksi ini menjadi penawaran saham lanjutan (follow-on offering) terbesar yang pernah dilakukan oleh perusahaan Hong Kong dan menjadi yang terbesar ketiga secara global pada 2026, setelah penawaran saham oleh Alphabet dan Intel.
(Ilustrasi Artificial Intelligence. Foto: dok Metrotvnews.com)
Investor khawatir beban pengeluaran AI
Penurunan saham Alibaba terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya pengeluaran perusahaan untuk pengembangan AI. Selain itu, penerbit saham baru juga berpotensi mengurangi porsi kepemilikan pemegang saham yang sudah ada.
"Ini merupakan berita negatif dalam jangka pendek karena penawaran saham tersebut mengurangi porsi kepemilikan pemegang saham," ucap Ketua Shenzhen Dragon Pacific Capital Management Charles Wang dikutip dari Channel News Asia.
Menurut dia, investor umumnya tidak menyukai belanja modal dalam jumlah besar meski investasi tersebut dapat memberikan keuntungan dalam jangka panjang.
Kekhawatiran serupa juga terlihat di Amerika Serikat, dengan investor yang mulai mempertanyakan kapan pengeluaran besar-besaran untuk pengembangan teknologi AI akan mendapatkan keuntungan.
Alibaba juga mempercepat perkiraan waktu pengembalian investasi menjadi sekitar 2,5 tahun dari sebelumnya tiga tahun karena meningkatnya permintaan layanan AI. Namun, besarnya pengeluaran tersebut turut menekan kinerja perusahaan. Laba bersih kuartal Alibaba turun 75 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama akibat pengeluaran pengembangan AI. (Tiaranissa Juliansyah)