Pantauan Satelit BMKG: Abu Vulkanik Semeru ke Timur, Lewotolok ke Barat

Gunung Semeru erupsi disertai luncuran APG sejauh 3,5 km ke arah Besuk Kobokan pada Sabtu (18/7/2026) pagi. ANTARA/HO-PVMBG

Pantauan Satelit BMKG: Abu Vulkanik Semeru ke Timur, Lewotolok ke Barat

Lukman Diah Sari • 20 September 2026 20:37

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pergerakan sebaran debu vulkanik dari aktivitas sejumlah gunung berapi di Indonesia. Berdasarkan pantauan terbaru, Minggu, 20 September 2026, pukul 19.00 WIB, abu vulkanik terdeteksi menyebar dari Gunung Lewotolo di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

Pemantauan tersebut merujuk pada hasil analisis citra satelit RGB Himawari-9. Berikut rincian hasil analisis sebaran debu vulkanik berdasarkan citra satelit RGB Himawari-9:

  • Gunung Lewotolok: Sebaran debu vulkanik teramati bergerak ke arah barat. Paparan abu terpantau mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, hingga menjangkau perairan Laut Banda.

  • Gunung Semeru: Sebaran debu vulkanik teramati bergerak ke arah timur. Paparan abu ini mencakup sebagian wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

  • Gunung Ibu: Tidak terdeteksi adanya sebaran debu vulkanik.

  • Gunung Dukono: Tidak terdeteksi adanya sebaran debu vulkanik.


(Sumber: BMKG) 

BMKG memprakirakan cuaca di sekitar wilayah pegunungan yang dipantau secara umum berada dalam kategori cerah berawan hingga berawan tebal.

Dampak abu vulkanik

  • Dampak Kesehatan: Paparan debu dapat memicu iritasi pada mata dan kulit, menyebabkan batuk, serta menimbulkan gangguan pernapasan. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat memperburuk keadaan masyarakat yang telah memiliki riwayat penyakit pernapasan bawaan.

  • Dampak Transportasi: Tumpukan abu vulkanik berisiko mengurangi jarak pandang secara drastis dan membuat permukaan jalan menjadi licin, sehingga mengancam kenyamanan dan keselamatan berkendara. Selain itu, partikel abu dapat mengganggu fungsi mesin, merusak peralatan navigasi, hingga memicu penundaan, pengalihan rute, dan penghentian sementara operasional transportasi darat, laut, maupun udara.

Menyikapi perkembangan aktivitas vulkanik ini, masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Warga juga diminta untuk tidak mudah percaya hoaks dan selalu mengikuti informasi serta arahan resmi dari BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Badan Geologi, serta pemerintah daerah setempat.

(Lukman Diah Sari)