67% Orang Tua Masih Beri Susu Kental Manis kepada Balita, Begini Kata Kemenkes

Ilustrasi kental manis. Foto theveganbuzz.net

67% Orang Tua Masih Beri Susu Kental Manis kepada Balita, Begini Kata Kemenkes

Arga Sumantri • 24 July 2026 23:35

Jakarta: Survei Universitas Islam Bandung (Unisba) mencatat banyak orang tua masih memberikan susu kental manis kepada balita sebagai pengganti susu. Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Lovely Daisy, menilai riset tersebut menunjukkan literasi gizi masyarakat, khususnya terkait pemenuhan asupan anak, masih minim.

"Masih minimnya pengetahuan gizi, terutama terkait makanan pendamping ASI, di mana mereka memahami bahwa kental manis itu minuman yang sehat untuk anak mereka. Padahal kandungan susu pada kental manis sangat sedikit, bahkan sangat tinggi kandungan gulanya," kata Lovely dalam keterangan yang dikutip Jumat, 24 Juli 2026.

Lovely menjelaskan tingginya kandungan gula pada susu kental manis bukan tanpa alasan. Menurutnya, gula sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lebih panjang.

"Sehingga sebagian besar kalori yang dihasilkan oleh kental manis berasal dari karbohidrat atau gula," ujarnya.

Menurut Lovely, mengubah kebiasaan masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu untuk pertumbuhan bukan perkara mudah. Ia menilai persoalan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Salah satu faktor yang dinilai paling berpengaruh adalah kuatnya jejak iklan pada masa lalu. Selama puluhan tahun, kental manis ditampilkan dalam berbagai iklan sebagai minuman susu yang menyehatkan bagi keluarga dan anak-anak, sehingga membentuk persepsi yang masih melekat hingga sekarang.

Di sisi lain, harga yang relatif murah dan daya simpan yang panjang membuat produk tersebut tetap menjadi pilihan bagi sebagian keluarga.

Selain itu, Lovely menilai rendahnya kebiasaan masyarakat membaca label pangan juga ikut memperkuat kesalahpahaman. Banyak konsumen tidak mencermati tabel informasi nilai gizi sehingga tidak mengetahui bahwa kandungan gula dalam kental manis jauh lebih dominan dibandingkan kandungan proteinnya.

Ilustrasi. Foto: Pexels.

Literasi Gizi Seimbang Perlu Diperkuat

Menurutnya, edukasi mengenai gizi seimbang dan pemanfaatan pangan lokal juga masih perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya bergantung pada persepsi lama.

Dalam survei Unisba juga menemukan bahwa hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Bagi Lovely, temuan tersebut menunjukkan persoalan kental manis tidak lagi berkaitan dengan tingkat pendidikan formal, melainkan literasi gizi yang belum sepenuhnya dimiliki masyarakat.

Dia mendorong peran kader Posyandu, Puskesmas, dan tenaga kesehatan perlu terus dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam memberikan edukasi mengenai gizi, membiasakan masyarakat membaca label pangan, serta membantu keluarga memahami perbedaan mendasar antara susu dan kental manis.

"Sebagai garda terdepan untuk melakukan edukasi langsung secara tatap muka kepada para ibu tentang gizi seimbang dan pemenuhannya berbasis makakan lokal yang juga bisa didapat dengan harga terjangkau," ungkap Lovely.

Unisba melakukan survei terhadap 2.150 orang tua balita terkait penggunaan pengganti susu pertumbuhan. Hasilnya, 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.

(Arga Sumantri)