Kebakaran hutan di Prancis memicu fenomena langka pyrocumulonimbus, awan badai yang menciptakan petir dan angin sendiri. (SDIS33/EPA)
Kebakaran Hutan di Prancis Picu Fenomena Langka Awan Pyrocumulonimbus
Willy Haryono • 28 July 2026 06:55
Bordeaux: Kebakaran hutan besar di wilayah barat daya Prancis memicu fenomena langka pyrocumulonimbus, yaitu awan badai yang terbentuk akibat panas ekstrem dari kobaran api.
Dikutip dari PBS News, Selasa, 28 Juli 2026, pyrocumulonimbus berukuran sangat besar, dan mampu menciptakan petir serta anginnya sendiri sehingga memperparah kobaran api kebakaran hutan.
Otoritas Prancis menyatakan kolom asap dari kebakaran hutan di Departemen Gironde berkembang menjadi badai petir yang menghasilkan sambaran halilintar ke permukaan tanah dan memicu titik-titik kebakaran baru di luar area kebakaran utama.
Fenomena tersebut juga menghasilkan angin kencang yang berubah-ubah arah sehingga membuat pergerakan api semakin sulit diprediksi.
Pyrocumulonimbus atau pyroCb merupakan fenomena yang jarang terjadi di Eropa dan lebih sering ditemukan pada kebakaran hutan ekstrem di Amerika Utara maupun Australia. Federasi Nasional Pemadam Kebakaran Prancis (FNSPF) menyebut peristiwa ini merupakan yang pertama kali tercatat di negara tersebut.
Kebakaran bermula di dekat Saumos pada 22 Juli dan hingga kini telah menghanguskan lebih dari 420 kilometer persegi hutan dan semak belukar. Sedikitnya 240 rumah mengalami kerusakan atau hancur, sementara sekitar 220.000 warga dievakuasi dari wilayah Gironde.
'Api Unggun' yang Sangat Besar
Layanan pemadam kebakaran setempat menyatakan pyrocumulonimbus pertama kali terbentuk pada Jumat sekitar pukul 18.20 waktu setempat, dua hari setelah kebakaran dimulai. Awan tersebut sempat melemah pada malam hari ketika kelembapan meningkat, namun kembali terbentuk beberapa kali.Pakar meteorologi kebakaran dari National Observatory of Athens, Theodore M. Giannaros, menjelaskan fenomena itu dapat diibaratkan seperti api unggun yang sangat besar sehingga asapnya berubah menjadi awan badai.
Menurutnya, pembentukan pyroCb memerlukan kombinasi udara yang sangat panas dan kering di dekat permukaan tanah serta udara yang lebih dingin dan lembap di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Asap, panas, dan uap air dari kebakaran kemudian naik dengan cepat sebelum membentuk awan badai yang dapat menghasilkan petir seperti badai pada umumnya.
Giannaros mengatakan setelah terbentuk, pyrocumulonimbus tidak lagi sekadar menjadi dampak kebakaran, tetapi berubah menjadi sistem cuaca tersendiri yang memengaruhi arah dan intensitas api.
Gelombang Panas dan Kekeringan
Awan tersebut dapat menarik angin kuat menuju pusat kebakaran sekaligus menghasilkan embusan angin ke permukaan yang mampu mengubah arah kobaran api, memecahnya menjadi beberapa front, hingga mempercepat penyebarannya.Fenomena itu juga dapat memicu pusaran api (fire whirl), sementara dalam kasus yang lebih jarang dapat berkembang menjadi tornado api.
Menurut Giannaros, kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menjadi jauh lebih sulit karena titik api baru dapat muncul secara tiba-tiba di luar area yang sebelumnya dianggap aman sehingga memaksa petugas mengubah strategi dan lebih memprioritaskan perlindungan terhadap permukiman.
Selama ini pyrocumulonimbus lebih banyak tercatat di Australia dan Amerika Utara. Kanada bahkan mencatat rekor 142 kejadian sepanjang 2023.
Para ilmuwan menilai Eropa yang mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global menghadapi risiko lebih besar terhadap kebakaran hutan ekstrem.
Gelombang panas yang semakin sering serta kekeringan berkepanjangan dinilai menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya fenomena pyrocumulonimbus, meski para peneliti menyebut masih diperlukan data jangka panjang untuk memastikan tren tersebut.
Baca juga: Gelombang Panas Perparah Kebakaran Hutan Terbesar di Prancis dan Spanyol