Menteri Luar Negeri Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 di Manila, Filipina, Kamis, 23 Juli 2026. (Kemlu RI)
Menlu Sugiono Tegaskan Pentingnya Peran EAS bagi Stabilitas Indo-Pasifik
Willy Haryono • 25 July 2026 13:42
Manila: Menteri Luar Negeri Sugiono menyerukan agar East Asia Summit (EAS) memperkuat perannya dalam menjaga ketahanan kawasan Indo-Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Menurutnya, EAS harus berkembang dari sekadar forum dialog menjadi wadah yang mampu menghasilkan kerja sama konkret.
Pesan tersebut disampaikan Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 di Manila, Filipina, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Sugiono, konflik di berbagai kawasan dunia kini memberikan dampak langsung terhadap stabilitas Indo-Pasifik. Ketegangan di jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz, menunjukkan bahwa gangguan di satu kawasan dapat dengan cepat memengaruhi perekonomian global.
"Selama dua dekade, EAS telah menjaga ruang dialog tetap terbuka antara ASEAN dan negara-negara besar. Namun, dialog saja tidak cukup. Dialog harus membangun kepercayaan, kepercayaan harus menghasilkan kerja sama, dan kerja sama harus memperkuat ketahanan," ujar Menlu Sugiono.
Ia menegaskan EAS perlu tetap berpegang pada hukum internasional, termasuk Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (UNCLOS 1982), serta Treaty of Amity and Cooperation (TAC).
"Aturan yang diterapkan secara selektif pada akhirnya tidak akan melindungi siapa pun," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga kembali menyuarakan keprihatinan terhadap situasi di Timur Tengah, khususnya Palestina. Menlu Sugiono menyerukan terciptanya gencatan senjata yang berkelanjutan, akses kemanusiaan tanpa hambatan, serta jalan menuju perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Ia menegaskan rakyat Palestina memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri.
Sentralitas ASEAN
Menlu Sugiono juga menekankan pentingnya Sentralitas ASEAN agar kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi ruang dialog dan kerja sama di tengah meningkatnya rivalitas antarnegara."Sentralitas ASEAN bukan mengenai keberpihakan. Sentralitas ASEAN memastikan kawasan kita tetap menjadi platform bagi dialog dan kerja sama," ujarnya.
Indonesia mendukung penguatan kembali EAS agar semakin relevan, responsif, dan mampu menghasilkan kerja sama nyata di bidang ketahanan energi dan pangan, kerja sama maritim, serta pemberantasan kejahatan lintas negara.
"Masa depan Indo-Pasifik tidak akan ditentukan oleh rivalitas, tetapi oleh kemampuan kita untuk bekerja sama. EAS harus tetap bersatu dalam tujuan, teguh pada prinsip, dan efektif dalam tindakan," pungkas Menlu Sugiono.
EAS merupakan forum strategis yang dibentuk pada 2005 dan kini beranggotakan 19 negara, terdiri atas 11 negara ASEAN serta delapan mitra dialog, yakni Australia, China, India, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Rusia, dan Amerika Serikat.
Pertemuan Tingkat Menteri EAS ke-16 merupakan bagian dari rangkaian ASEAN Foreign Ministers' Meeting/Post Ministerial Conferences (AMM/PMC) ke-59 di bawah Keketuaan ASEAN Filipina.
Pertemuan tersebut menghasilkan Chair's Statement of the 16th East Asia Summit Foreign Ministers' Meeting, yang menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional, Sentralitas ASEAN, serta penguatan kerja sama untuk menjaga perdamaian, stabilitas, dan ketahanan kawasan.
Baca juga: Demi Keamanan Kawasan, Menlu Sugiono Serukan Revitalisasi ASEAN