Banjir Banjar Kalsel, 116 Ribu Jiwa Terdampak 5 Ribu Masih Mengungsi

Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf (kedua kiri) menyalurkan bantuan sembako kepada korban terdampak banjir di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu (4/1/2026). ANTARA/Tumpal Andani Aritonang

Banjir Banjar Kalsel, 116 Ribu Jiwa Terdampak 5 Ribu Masih Mengungsi

Whisnu Mardiansyah • 5 January 2026 07:13

Banjar: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, melaporkan banjir yang melanda wilayahnya telah berdampak luas. Sebanyak 41.196 kepala keluarga (KK) atau setara dengan 116.027 jiwa dan 22.991 rumah terdampak.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Banjar, Yayan Daryanto, menyampaikan data itu saat mendampingi Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf meninjau langsung lokasi banjir di Sungai Tabuk, Banjar, Minggu, 4 Januari 2025.

“Berdasarkan laporan infografis per 4 Januari 2025, kelompok rentan yang terdampak antara lain ibu hamil 272 orang, bayi 455 orang, balita 1.521 orang, anak-anak 2.380 orang, penyandang disabilitas 275 orang, dan lansia 2.911 orang,” jelas Yayan Daryanto seperti dilansir Antara, Minggu, 4 Januari 2025.

Bencana ini tidak hanya menggenangi permukiman. Fasilitas publik dan lahan pertanian juga terkena imbas. Data BPBD mencatat sebanyak 141 sekolah, 131 tempat ibadah, 18 gedung kantor, 96 unit fasilitas umum, dan 18 unit jembatan terdampak. Sektor pertanian juga mengalami kerugian signifikan dengan 3.451 hektare sawah dan kebun yang terendam. Hingga saat ini, tercatat masih ada 5.045 jiwa yang mengungsi akibat banjir.
 


Yayan melaporkan adanya tren positif di mana cakupan wilayah terdampak mulai menyusut. “Jika melihat kondisi awal, saat ini sudah mulai terjadi penurunan cakupan wilayah, dari awalnya 16 kecamatan terdampak menjadi 14 kecamatan, kemudian 10 kecamatan, dan sekarang tinggal delapan kecamatan,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi bersifat fluktuatif. Penurunan jumlah kecamatan terdampak tidak serta-merta berarti jumlah warga terdampak berkurang secara otomatis.

“Hal ini dikarenakan perbandingan wilayah. Di daerah hulu mungkin terdampak sedikit, tetapi di daerah hilir hampir sepanjang sungai terdampak banjir,” papar Yayan.

Mengenai pemulihan pascabencana, Yayan menyebut rencana pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap bagi korban akan dibahas sebagai bagian dari tahapan penanganan darurat.

“Nanti setelah masa darurat selesai, kami akan mendata. Kami akan melihat hasil asesmen dan penilaian di lapangan untuk menentukan apakah warga terdampak memerlukan huntara atau bentuk bantuan lainnya, termasuk penilaian terhadap kategori kerusakan rumah masing-masing,” jelasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)