Intelijen AS Ragukan Sejumlah Klaim Israel soal Ancaman Iran Terhadap Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times

Intelijen AS Ragukan Sejumlah Klaim Israel soal Ancaman Iran Terhadap Trump

Muhammad Reyhansyah • 14 August 2026 13:05

Washington: Badan intelijen Amerika Serikat (AS) dilaporkan tidak dapat memverifikasi secara independen sejumlah peringatan Israel terkait dugaan rencana Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump, meski informasi tersebut sempat mendorong peningkatan pengamanan terhadap Trump.

Menurut laporan yang mengutip pejabat Amerika Serikat saat ini dan mantan pejabat AS, peringatan tersebut disampaikan melalui jalur intelijen dan dalam sejumlah kesempatan langsung kepada pejabat senior Gedung Putih selama setahun terakhir.

“Informasi yang diberikan Israel mencakup dugaan ancaman penembakan dari jarak jauh, serangan menggunakan pisau di acara publik, hingga skenario lain yang mengancam keselamatan Trump,” sebut laporan itu, dikutip dari India Today, Jumat, 14 Agustus 2026.

Namun, CIA dilaporkan tidak dapat mengonfirmasi sejumlah ancaman spesifik tersebut dan dalam beberapa kasus menilainya dengan tingkat keyakinan rendah.

Salah satu peringatan paling serius muncul menjelang KTT NATO di Ankara, Turki, pada Juli lalu. Intelijen Israel disebut memperingatkan Gedung Putih bahwa Iran mungkin mencoba membunuh Trump, termasuk menggunakan rudal yang diluncurkan dari bahu untuk menargetkan pesawat kepresidenan saat kunjungannya ke Turki.

Namun, badan intelijen AS tidak dapat memverifikasi ancaman tersebut. Pejabat Turki juga mengatakan kepada Reuters bahwa badan intelijen negaranya tidak menemukan bukti yang mendukung dugaan ancaman dan telah menyampaikan penilaian tersebut kepada Washington.

Meski demikian, Gedung Putih dan Secret Service tetap mengambil langkah pencegahan. Salah satunya berupa operasi pengelabuan saat Trump meninggalkan Turki, dengan memindahkannya dari Air Force One ke pesawat lain.

Badan intelijen AS telah lama menilai Iran memiliki niat membalas pembunuhan Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran Qassem Soleimani pada 2020 atas perintah Trump. Namun, pejabat AS mengatakan CIA belum dapat memverifikasi sejumlah ancaman pembunuhan spesifik yang disampaikan Israel sejak awal 2025.

Laporan tersebut juga menyoroti perbedaan penilaian intelijen Amerika Serikat dan Israel mengenai ancaman Iran. Sebelumnya, badan intelijen AS menilai Iran belum secara aktif membangun senjata nuklir, sementara Israel menyatakan Teheran merupakan ancaman mendesak.

Gedung Putih dan CIA menolak berkomentar mengenai laporan tersebut. Kedutaan Besar Israel di Washington juga membantah anggapan bahwa pertukaran informasi intelijen digunakan untuk memengaruhi kebijakan Amerika Serikat.

(Fajar Nugraha)