Sesar Tarera Aiduna Picu Gempa M 4,8 di Kaimana Papua

Peta pusat gempa bumi di laut berkedalaman 24 kilometer pada jarak 50 kilometer dari arah tenggara Kaimana, Papua.ANTARA/HO-Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.

Sesar Tarera Aiduna Picu Gempa M 4,8 di Kaimana Papua

Whisnu Mardiansyah • 26 May 2026 11:14

Kaimana: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan aktivitas Sesar Tarera Aiduna memicu peristiwa gempa bumi tektonik dangkal bermagnitudo 4,8 yang mengguncang wilayah Kaimana, Papua Barat, pada Selasa, 26 Mei 2026.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengatakan berdasarkan hasil pemodelan matematis, gempa bumi tersebut berpusat di laut dan dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

"Gempa ini berpusat di laut dan tidak berpotensi tsunami," ujar Wijayanto di Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa, 26 Mei 2026.

Peristiwa gempa terjadi di laut dengan kedalaman 24 kilometer pada jarak 50 kilometer dari arah Tenggara Kaimana. Pusat gempa berada pada koordinat 4,01° Lintang Selatan (LS) dan 134,00° Bujur Timur (BT).
 


Wijayanto menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike-slip.

Berdasarkan estimasi peta guncangan atau shakemap, getaran gempa bumi ini dirasakan cukup kuat di daerah Kaimana dengan skala intensitas IV hingga V Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh hampir seluruh penduduk hingga menyebabkan banyak orang terbangun dari tidur.


Ilustrasi Medcom.id

Guncangan juga dirasakan di daerah Kota Kaimana dengan skala intensitas III hingga IV MMI. Selain itu, rambatan getaran meluas hingga ke daerah Kota Rasiei, Kota Dobo, Kota Bintuni, dan Kota Nabire dengan skala intensitas II MMI. Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh beberapa orang dan membuat benda-benda ringan yang digantung ikut bergoyang.

Hingga saat ini, BMKG belum menerima laporan mengenai dampak kerusakan bangunan maupun fasilitas publik yang ditimbulkan akibat guncangan gempa bumi tersebut. Sementara itu, berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan sistem BMKG pada Selasa pagi, 26 Mei 2026, belum menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas gempa bumi susulan atau aftershock. Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat setempat untuk tetap tenang dan menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.

(Whisnu M)