Mitigasi Risiko Jadi Kunci Penguatan Ekosistem Maritim Nasional

Ilustrasi maritim. Foto: dok Ajaib.

Mitigasi Risiko Jadi Kunci Penguatan Ekosistem Maritim Nasional

Husen Miftahudin • 13 October 2026 18:41

Jakarta: Penguatan ekosistem maritim nasional perlu diiringi pengelolaan risiko untuk menjaga keberlangsungan operasional pelayaran dan distribusi logistik laut. Risiko kerusakan kapal, kehilangan muatan, hingga tanggung jawab hukum berpotensi menimbulkan kerugian finansial apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan pengelolaan risiko perlu menjadi bagian dari perencanaan bisnis pelaku industri maritim. Langkah ini penting seiring upaya memperkuat kapasitas armada dan infrastruktur transportasi laut nasional.

"Penguatan ekosistem maritim tidak hanya berbicara tentang penambahan armada dan kesiapan infrastruktur, tetapi juga bagaimana seluruh pelaku industri mempersiapkan diri menghadapi risiko operasional," ujar Brellian dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2026.

"Aktivitas maritim melibatkan banyak pihak dan memiliki karakteristik risiko yang beragam. Karena itu, pengelolaan risiko perlu menjadi bagian dari perencanaan bisnis agar potensi kerugian dapat diantisipasi dan keberlangsungan operasional tetap terjaga," tambah dia.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebelumnya mendorong kolaborasi pemerintah, operator kapal, industri galangan kapal, pengelola pelabuhan, lembaga pembiayaan, dan penyedia teknologi untuk memperkuat transportasi laut nasional.

Diketahui, kebutuhan armada nasional hingga 2029 diproyeksikan mencapai sekitar 15.105 unit kapal. Sementara itu, kebutuhan yang belum terpenuhi diperkirakan sekitar 9.613 unit berdasarkan data pembangunan kapal periode 2024 hingga September 2026.
 



(Gedung Jasindo. Foto: dok Jasindo)
 

Perlindungan kapal dan muatan


Seiring pengembangan armada dan infrastruktur, pelaku industri maritim juga perlu memperhitungkan risiko yang dapat mengganggu kegiatan pelayaran dan rantai pasok. Kerusakan kapal, kehilangan atau kerusakan muatan, serta tuntutan tanggung jawab hukum dapat berdampak pada biaya operasional dan kelancaran pengiriman barang.

Sebagai perusahaan asuransi umum, Asuransi Jasindo menyediakan sejumlah produk perlindungan untuk sektor maritim. Produk tersebut meliputi Marine Hull untuk risiko yang berkaitan dengan kapal, Marine Cargo untuk risiko kehilangan atau kerusakan muatan selama pengangkutan, serta Marine Liability untuk risiko tanggung jawab hukum.

Perlindungan atas risiko tersebut mengikuti cakupan, pengecualian, dan ketentuan dalam masing-masing polis. Dengan demikian, pelaku usaha perlu menyesuaikan perlindungan asuransi dengan karakteristik operasional dan profil risiko bisnisnya.

Selain menyediakan perlindungan asuransi, Asuransi Jasindo menerapkan pendekatan Risk Management Partnership untuk membantu nasabah memahami karakteristik risiko dan menentukan perlindungan sesuai kebutuhan bisnis. Brellian mengatakan pendekatan tersebut menempatkan pengelolaan risiko sebagai bagian dari upaya pencegahan, bukan hanya penanganan setelah kerugian terjadi.

"Melalui pendekatan Risk Management Partnership, Asuransi Jasindo ingin menjadi mitra bagi pelaku industri dalam memahami dan mengelola risiko, bukan hanya ketika risiko tersebut menimbulkan kerugian. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap profil risiko, nasabah dapat mempertimbangkan langkah mitigasi dan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan operasionalnya," jelas Brellian.

Menurut perusahaan, kolaborasi antarpemangku kepentingan maritim dapat turut meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pengelolaan risiko di setiap mata rantai logistik laut. Sinergi antara pelaku usaha dan penyedia perlindungan risiko diharapkan membantu industri menghadapi tantangan operasional.

Melalui peran sebagai mitra pengelolaan risiko, Asuransi Jasindo menyatakan komitmennya mendukung perlindungan aset dan keberlangsungan bisnis pelaku industri maritim. Upaya tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan ekosistem maritim dan kelancaran distribusi logistik nasional.

(Husen Miftahudin)