Chairman BRIN Arif Satria. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.
Dorong Transformasi Fundamental, BRIN Genjot Hilirisasi Riset
Husen Miftahudin • 28 October 2026 14:17
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti tantangan hilirisasi riset nasional dan mendorong transformasi mendasar agar hasil penelitian tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah dan hasil penelitian, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
Chairman BRIN Arif Satria mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam menerjemahkan hasil riset menjadi nilai ekonomi adalah valley of death, yakni kesenjangan antara pengembangan teknologi di laboratorium dan penerapannya secara komersial.
Menurut dia, banyak teknologi yang menjanjikan tidak berhasil mencapai tahap komersialisasi akibat keterbatasan pendanaan, kesiapan teknologi, serta ketidakpastian permintaan pasar. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam memastikan hasil penelitian dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi.
"Salah satu tantangan terbesar dalam menerjemahkan riset ke dalam nilai ekonomi adalah apa yang kita sebut sebagai valley of death. Banyak teknologi menjanjikan muncul dari laboratorium tetapi tidak pernah mencapai aplikasi komersial," ucap Arif dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
"Tiga hambatan utama menjelaskan kesenjangan ini, pendanaan yang tidak mencukupi, teknologi yang terbatas, dan ketidakpastian permintaan pasar. Mengatasi hambatan ini memerlukan kolaborasi sejak tahap awal pengembangan teknologi," tambah dia.
Arif menilai, persoalan tersebut membutuhkan perubahan mendasar dalam cara lembaga riset mendefinisikan keberhasilan. Menurutnya, produksi pengetahuan melalui publikasi dan luaran penelitian tetap penting, tetapi belum cukup untuk memastikan riset memberikan manfaat ekonomi.
Chairman BRIN Arif Satria mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam menerjemahkan hasil riset menjadi nilai ekonomi adalah valley of death, yakni kesenjangan antara pengembangan teknologi di laboratorium dan penerapannya secara komersial.
Menurut dia, banyak teknologi yang menjanjikan tidak berhasil mencapai tahap komersialisasi akibat keterbatasan pendanaan, kesiapan teknologi, serta ketidakpastian permintaan pasar. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam memastikan hasil penelitian dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi.
"Salah satu tantangan terbesar dalam menerjemahkan riset ke dalam nilai ekonomi adalah apa yang kita sebut sebagai valley of death. Banyak teknologi menjanjikan muncul dari laboratorium tetapi tidak pernah mencapai aplikasi komersial," ucap Arif dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
"Tiga hambatan utama menjelaskan kesenjangan ini, pendanaan yang tidak mencukupi, teknologi yang terbatas, dan ketidakpastian permintaan pasar. Mengatasi hambatan ini memerlukan kolaborasi sejak tahap awal pengembangan teknologi," tambah dia.
Arif menilai, persoalan tersebut membutuhkan perubahan mendasar dalam cara lembaga riset mendefinisikan keberhasilan. Menurutnya, produksi pengetahuan melalui publikasi dan luaran penelitian tetap penting, tetapi belum cukup untuk memastikan riset memberikan manfaat ekonomi.
(Gedung BRIN. Foto: Humas BRIN)
Dorong perubahan orientasi riset menuju dampak ekonomi
BRIN mendorong perubahan orientasi riset agar keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari capaian ilmiah, tetapi juga dari pemanfaatan hasilnya untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi. Upaya ini menjadi bagian dari peran strategis BRIN dalam mendukung pembangunan nasional dan mewujudkan Indonesia Emas 2045.
"Hal ini memerlukan transformasi mendasar dalam cara lembaga riset mendefinisikan kesuksesan. Secara tradisional, kita telah berfokus pada seberapa banyak pengetahuan yang kita hasilkan, yang diukur melalui publikasi, paten, dan luaran riset. Hal ini tetap penting, tetapi itu belum cukup. Kita harus semakin bertanya apa yang terjadi setelah pengetahuan diciptakan. Misi kita adalah mengubah BRIN dari produsen pengetahuan menjadi pencipta dampak," ucap dia.
Lebih lanjut, BRIN menetapkan kontribusi langsung terhadap pembangunan nasional sebagai salah satu peran strategisnya untuk mendukung Indonesia Emas 2045. Upaya tersebut dilakukan melalui tiga pilar yang saling melengkapi, mulai dari penguatan produktivitas dan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk koperasi desa dan komunitas nelayan.
Pilar berikutnya mencakup dukungan terhadap riset dan pengembangan industri, khususnya hilirisasi, industri strategis, dan technopark. Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada pengembangan bersama dan adopsi teknologi global tingkat lanjut untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai teknologi internasional.
Arif juga menekankan kecanggihan teknologi tidak secara otomatis menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang besar. Menurut dia, prioritas pengembangan teknologi perlu mempertimbangkan dampak, relevansi terhadap kebutuhan masyarakat, serta potensi penerapan secara luas.
Dengan demikian, keberhasilan riset tidak hanya ditentukan oleh pencapaian ilmiah, tetapi juga oleh kemampuan teknologi menjawab kebutuhan nyata dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. (Tiaranissa Juliansyah)