ASII Bukukan Pendapatan Rp243,9 Triliun di Kuartal III-2026

Gedung PT Astra International Tbk (ASII). Foto: Dok. Istimewa.

ASII Bukukan Pendapatan Rp243,9 Triliun di Kuartal III-2026

M Sholahadhin Azhar • 1 November 2026 15:37

Jakarta: Kinerja positif ditunjukkan PT Astra International Tbk (ASII) dengan pembukuan pendapatan Rp243,9 triliun di III 2026. Pendapatan ini relatif stabil dengan periode yang sama pada 2025, yakni Rp243,6 triliun.

Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan, kinerja perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia usaha.

"Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp24,6 triliun (turun 12% jika memperhitungkan non-recurring items). Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat," kata Rudy dalam keterangan tertulis, Minggu, 1 November 2026.
 


Hal tersebut ditopang pertumbuhan bisnis otomotif, jasa keuangan, serta meningkatnya aktivitas pertambangan. Sementara itu, laba bersih di luar pos nonberulang (non-recurring items) mencapai Rp24,6 triliun, hanya turun sekitar 1 persen dibandingkan periode Januari–September 2025.

Laba bersih per saham di luar pos nonberulang bahkan meningkat 1 persen menjadi Rp616. Adapun setelah memperhitungkan pos nonberulang, laba bersih Astra tercatat sebesar Rp21,6 triliun atau turun 12 persen secara tahunan. Pos tersebut terutama berkaitan dengan penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas.

Bisnis otomotif tetap menjadi kontributor laba terbesar Astra sepanjang Januari–September 2026. Laba bersih sektor ini meningkat 8 persen menjadi Rp9,8 triliun, dibandingkan Rp9 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan peningkatan volume penjualan kendaraan serta kontribusi yang semakin kuat dari bisnis komponen otomotif.

Di pasar sepeda motor, penjualan nasional tumbuh 4 persen menjadi sekitar 5 juta unit. Pada periode yang sama, penjualan sepeda motor Honda meningkat 3 persen dengan pangsa pasar yang tetap terjaga sebesar 77 persen.

Performa positif juga terlihat pada pasar kendaraan roda empat. Penjualan mobil nasional meningkat 21 persen menjadi 679.000 unit sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Sementara itu, penjualan mobil Grup Astra tumbuh 13 persen.


Gedung PT Astra International Tbk (ASII). Foto: Dok. Istimewa.

Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar otomotif Indonesia, dengan total pangsa pasar mobil Astra mencapai 49 persen. Tidak hanya penjualan kendaraan, bisnis komponen turut memberikan kontribusi positif.

Laba bersih divisi komponen Astra meningkat 15 persen menjadi Rp1,4 triliun, seiring perbaikan kinerja di seluruh segmen usaha. Pertumbuhan serupa terjadi pada bisnis jasa keuangan.

Sepanjang Januari–September 2026, laba bersih bisnis jasa keuangan Astra meningkat 6 persen menjadi Rp7,2 triliun. Kinerja tersebut antara lain ditopang pertumbuhan pembiayaan konsumen, baik untuk kendaraan baru maupun pembiayaan berulang.

Nilai pembiayaan baru Grup Astra meningkat 8 persen menjadi Rp92,5 triliun, sedangkan piutang pembiayaan bersih mencapai Rp132 triliun atau naik 6 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.

Bisnis pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp3,6 triliun, meningkat 4 persen secara tahunan.  Sementara itu, kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil tumbuh 6 persen menjadi Rp1,9 triliun.

Kinerja perusahaan asuransi Grup Astra juga menunjukkan pertumbuhan. Kontribusi laba bersih sektor asuransi meningkat 9 persen menjadi Rp1,4 triliun, didukung kenaikan pendapatan operasional dan hasil investasi.

Di tengah pertumbuhan otomotif dan jasa keuangan, bisnis solusi pertambangan dan alat berat Astra menghadapi tantangan akibat perubahan kondisi industri. Laba bersih sektor ini, di luar pos nonberulang, tercatat sebesar Rp5,1 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026 atau turun 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) produksi batu bara nasional turut memengaruhi permintaan alat berat, aktivitas jasa pertambangan, dan volume produksi batu bara.

Penjualan alat berat Komatsu tercatat sebanyak 3.000 unit, turun 17 persen secara tahunan. Volume pengupasan lapisan tanah pada bisnis jasa pertambangan mencapai 766 juta bank meter kubik, turun 7 persen.

Sementara itu, penjualan batu bara mencapai 7,1 juta ton atau turun 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bisnis emas, volume penjualan tercatat 54.000 ons, dibandingkan 178.000 ons pada sembilan bulan pertama 2025.

Meski demikian, pemulihan mulai terlihat setelah tambang emas Martabe kembali beroperasi pada kuartal II 2026. Peningkatan aktivitas pertambangan tersebut ikut mendorong perbaikan kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat pada kuartal III, yang mencatat pertumbuhan sebesar 15 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Di luar pos nonberulang, kinerja bisnis ini mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas operasional. Sementara itu, pos nonberulang sebesar Rp2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel membuat laba bersih yang dilaporkan dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat menjadi Rp2,9 triliun, turun 59 persen secara tahunan.

Pertumbuhan positif juga datang dari lini bisnis Astra lainnya. Segmen Wider Businesses, yang mencakup sejumlah usaha di luar tiga bisnis utama, membukukan laba bersih di luar pos nonberulang sebesar Rp2,6 triliun atau meningkat 36 persen.

Kinerja tersebut terutama ditopang pertumbuhan bisnis agribisnis seiring kenaikan harga komoditas dan produktivitas. Bisnis properti juga memberikan kontribusi melalui platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.

Setelah memperhitungkan pos nonberulang sebesar Rp766 miliar, laba bersih yang dilaporkan dari segmen ini mencapai Rp1,8 triliun, meningkat 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain menjaga pertumbuhan operasional, Astra terus menjalankan strategi pengelolaan modal melalui sejumlah aksi korporasi. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan program pembelian kembali saham (share buyback) dengan total nilai mencapai Rp10 triliun.

Astra juga masih menjalankan program pembelian kembali saham senilai Rp8 triliun. Langkah serupa dilakukan United Tractors dengan mengumumkan program pembelian kembali saham hingga Rp2 triliun untuk periode Oktober–Desember 2026.

Sementara itu, Astra Agro Lestari mengumumkan program pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp400 miliar pada periode yang sama. Astra juga tengah melaksanakan penawaran tender sukarela untuk meningkatkan kepemilikan sahamnya di Astra Otoparts.

Penawaran tersebut mencakup maksimal 4,95 persen saham Astra Otoparts dengan harga Rp3.600 per saham dan nilai transaksi paling tinggi sekitar Rp858 miliar. Periode penawaran berlangsung mulai 13 Oktober hingga 11 November 2026.

Apabila seluruh saham yang ditawarkan berhasil diperoleh, kepemilikan Astra di Astra Otoparts akan meningkat dari 80 persen menjadi 84,95 persen. Rudy menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk mengelola modal secara disiplin dan mendukung pertumbuhan bisnis.

"Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup telah menyelesaikan program share buyback dengan total nilai Rp10,0 triliun," kata Rudy.

Dari sisi neraca, Astra mencatat kas bersih di luar anak perusahaan jasa keuangan sebesar Rp1,8 triliun per 30 September 2026, dibandingkan Rp7,2 triliun pada akhir Desember 2025.

Perubahan tersebut terutama berkaitan dengan akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam serta pelaksanaan pembelian kembali saham.

Sementara itu, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan tercatat Rp66,7 triliun, meningkat dari Rp64,9 triliun pada akhir 2025. Ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 4 persen menjadi Rp238,1 triliun. Nilai aset bersih per saham juga meningkat 5 persen menjadi Rp5.999.

Memasuki kuartal terakhir 2026, Astra optimistis pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan, bersama pemulihan aktivitas pertambangan, dapat terus mendukung kinerja Grup.

"Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif," kata Rudy.

(M Sholahadhin Azhar)