IOM menyebut bantuan hunian musim dingin di Gaza baru mencakup 17 persen kebutuhan jutaan warga Palestina. (Anadolu Agency)
Jutaan Warga Gaza Terancam Hadapi Musim Dingin dengan Tenda Rusak
Willy Haryono • 17 October 2026 17:15
Gaza: Pengungsian berulang selama tiga tahun berlangsungnya perang di Gaza telah memperburuk kondisi tempat pengungsian warga Palestina, dengan persiapan menghadapi musim dingin juga terhambat pembatasan masuknya material dan kekurangan dana, ujar pejabat senior Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Karl Baker, koordinator krisis regional IOM untuk respons di Gaza, mengatakan sejumlah warga Palestina telah mengungsi hingga delapan kali. Setiap kali berpindah tempat, tenda dan tempat penampungan sementara lainnya berisiko rusak atau hancur.
“Saat mereka berpindah, semua barang yang mereka miliki, baik yang masih ada maupun yang sebelumnya dimiliki, bisa hancur atau mereka harus mencari tempat berlindung baru,” kata Baker kepada UN News, Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Baker, material dasar seperti terpal pun perlu diganti sekitar setiap enam bulan. Namun, lembaga-lembaga kemanusiaan belum dapat memasukkan penggantinya ke Gaza dalam jumlah yang dibutuhkan.
Ia mengatakan bantuan perlu beralih dari solusi sementara menuju hunian transisi yang lebih tahan lama. Akan tetapi, material untuk membangun atap yang lebih kuat, lantai beton, dan dinding yang lebih kokoh masih terkendala pembatasan Israel terhadap barang-barang yang dikategorikan memiliki potensi penggunaan ganda (dual-use) atas alasan keamanan.
“Setelah tiga tahun perang, kita perlu meningkatkan kualitas tempat penampungan di sana dan beralih dari hunian sementara menuju hunian transisi,” ujar Baker.
Baker mengatakan IOM terus berkomunikasi dengan otoritas Israel. Meski demikian, sejumlah material untuk membangun hunian yang lebih tahan lama masih tidak diizinkan masuk ke Gaza karena alasan keamanan.
Bantuan Hunian Baru Penuhi 17 Persen Kebutuhan
Selain pembatasan material, kekurangan pendanaan dan gangguan pengiriman internasional turut menghambat bantuan. Baker mengatakan IOM mengandalkan pemasok dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok, India, dan Pakistan.Pendanaan mulai mengalir, tetapi jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan sekitar 1,8 juta hingga 1,9 juta orang yang diperkirakan memerlukan bantuan tempat tinggal.
Awal bulan ini, IOM menyatakan persediaan bantuan hunian yang tersedia maupun yang sedang dalam perjalanan baru mencakup 17 persen dari kebutuhan Gaza untuk menghadapi musim dingin. Lebih dari separuh tenda dan tempat penampungan darurat juga dilaporkan berada dalam kondisi buruk.
Baker menambahkan, hanya sekitar 30 persen wilayah Gaza yang saat ini dapat diakses oleh sebagian besar penduduk. Akibatnya, warga yang mengungsi terpaksa tinggal di kawasan yang semakin padat dan kerap terdampak banjir.
“Area seluas 30 persen yang saat ini mereka tempati merupakan sebuah kamp pengungsian yang sangat besar,” kata Baker.
Saat ini, hujan menjelang musim dingin mulai turun di Gaza. Organisasi-organisasi kemanusiaan berupaya menangani kawasan rawan banjir dan menyiapkan pompa air untuk mengurangi dampaknya.
Namun, Baker memperingatkan bahwa membantu warga yang mengungsi melewati musim dingin akan menjadi tantangan terbesar.
Gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober 2025. Meski demikian, serangan Israel dan pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan serta material untuk tempat penampungan masih berlanjut.
Baca juga: Permukiman di Gaza Hancur Diserang Israel, 300 Warga Kehilangan Tempat Tinggal