Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
Perusahaan Media FTA Jadi Target untuk Merger dan Akuisisi
Angga Bratadharma • 4 August 2023 20:01
Jakarta: Perusahaan yang bergerak di media Free to Air (FTA) saat ini tengah menjadi target untuk dapat melakukan merger dan akuisisi. Pasalnya margin FTA di Tanah Air makin kecil dan kerugian dari waktu ke waktu yang sangat membesar.
Berdasarkan data, merger dan akuisisi di dunia media bukan hal yang baru dan sebetulnya sudah berlangsung sejak 1989, yakni ketika itu Sony Corp mengakuisisi Columbia Pictures senilai USD3,4 miliar. Di Indonesia, dapat melihat PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengakuisisi banyak perusahaan media.
Sedangkan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) juga mengakuisisi beberapa TV yang telah free to air. Sementara itu, emiten milik Manoj Punjabi, PT MD Pictures Tbk berencana untuk dapat melepas sekitar 20 persen saham melalui penerbitan saham baru alias right issue.
Kabarnya, perseroan mengincar USD300 juta atau setara dengan Rp4,5 triliun selama dua tahun ke depan. Tidak hanya itu, emiten dengan kode saham FILM yang didukung Tencent juga tengah mencari pendanaan USD150 juta dalam enam bulan ke depan. Pendanaan itu dicari melalui rights issue dan utang.
Di sisi lain, MD Pictures berencana untuk masuk ke dalam distribusi film dan meluncurkan platform kontennya sendiri. Hal tersebut sedang dalam pembicaraan untuk mengakuisisi perusahaan lain untuk hal yang sama. Sehingga, ada kabar yang mengira jika akuisisi akan dilakukan terhadap PT Net Visi Media Tbk (NETV).
Manajemen FILM tidak membantah ataupun membenarkan kabar tersebut. Hingga saat ini, perseroan telah menjalin kemitraan dengan berbagai platform digital seperti Disney+ Hotstar, WeTV, Iflix, Viu, Netflix, Vidio, dan MAXstream Telkomsel untuk mendistribusikan film.
Pada 2021, MD Pictures menjual sekitar 15 persen saham ke Tencent dengan harga sekitar USD50 juta yang menempatkan perusahaan tersebut di peta global. Saat ini, keluarga Punjabi memiliki 72 persen saham dan publik 13 persen.
Terkait kinerja keuangan, MD Pictures mencatat laba bersih yang menanjak secara signifikan, yakni hingga 418 persen dari periode sebelumnya atau nyaris mencapai Rp160 miliar pada 2022. Peningkatan laba didukung lonjakan penjualan pada 2022 yang mencapai Rp 439,9 miliar.
Sebagai perbandingan, laba bersih sebelumnya mencapai sebesar Rp33,7 miliar pada 2021. Sementara pada 2020, laba bersih perusahaan tersebut ambrol hingga minus hampir Rp57 miliar. Pada masa ini covid-19 mewabah kencang sehingga seluruh aktivitas masyarakat dibatasi secara ketat, termasuk menonton di bioskop.
Sementara sepanjang tiga bulan pertama di 2023, MD Pictures mencatat penjualan digital meroket sebesar 440,5 persen menjadi Rp32,7 miliar dari Rp6 miliar di kuartal pertama 2022 dan berkontribusi sebesar 60,8 persen dalam pos penjualan.
FILM mencatat penjualan Rp61,2 miliar, turun tipis 1,6 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu Rp62,15 miliar. Sedangkan laba bersih MD Pictures merosot 73 persen ke Rp2,9 miliar dari kuartal pertama tahun lalu Rp10,6 miliar.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham NETV melonjak hingga 9,93 persen di penghujung perdagangan ke posisi Rp155 per saham. Adapun nilai transaksinya mencapai Rp1,26 miliar dan volume perdagangan mencapai 8,32 juta saham. Sehingga pada penutupan Kamis emiten tersebut Auto Reject Atas (ARA).