Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan pendiri metode Emotional Spiritual Quotient (ESQ) Ary Ginanjar
AKI 2025: Apresiasi Tertinggi bagi Penggerak Karakter dan Identitas Bangsa
17 December 2024 22:17
Jakarta: Kementerian Kebudayaan memberikan penghargaan Satya Budaya Narendra kepada tokoh pembangunan karakter, Ary Ginanjar Agustian, dalam malam puncak Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2025.
Penghargaan itu menjadi bentuk legitimasi negara atas konsistensi Ary dalam merawat moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia selama lebih dari dua dekade.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dalam pidatonya, Fadli menegaskan bahwa AKI 2025 yang mengusung tema 'Renjana Penggerak Budaya' bukan sekadar seremoni, melainkan upaya strategis pemerintah untuk memetakan kembali ekosistem kebudayaan nasional.
"Setiap penghargaan yang diberikan menjadi pengakuan negara atas kerja-kerja yang menjaga ingatan, memperkaya imajinasi, dan merawat keberlanjutan identitas Indonesia," kata Fadli Zon.
Menurut Fadli, sosok seperti Ary Ginanjar merupakan bagian dari praktisi pembangunan manusia yang krusial bagi ketahanan nasional. Penghargaan ini diletakkan sebagai bentuk validasi terhadap mereka yang berjuang di jalur penguatan karakter dan identitas bangsa.
Ary Ginanjar yang juga pendiri metode Emotional Spiritual Quotient (ESQ) ini menekankan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak boleh hanya diukur dari kemegahan fisik semata.
"Pembangunan bangsa tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi tentang manusia. Tentang hati yang berakhlak, pikiran yang bernilai, dan tindakan yang bermakna," kata Ary.
Ia menambahkan bahwa sejak tahun 2000, metode ESQ yang ia canangkan memang dirancang untuk memberikan fondasi nilai yang kokoh agar masyarakat tetap relevan dan tangguh menghadapi gempuran perubahan zaman.
Ketahanan Budaya Masa Depan Penyelenggaraan AKI 2025 Tahap III ini juga memberikan apresiasi kepada sejumlah seniman, tokoh adat, dan penggerak budaya dari berbagai pelosok negeri.
Langkah itu dipandang sebagai upaya Kementerian Kebudayaan untuk memastikan keberlanjutan identitas nasional di tengah arus globalisasi.
Pemerintah berharap, dengan diakuinya peran para tokoh pembangunan karakter ini, kesadaran akan pentingnya sumber daya manusia yang berintegritas dapat menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan nasional di masa depan.