Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)
Pelayaran Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Hanya Lima Kapal yang Melintas dalam 24 Jam
Dimas Chairullah • 25 April 2026 14:06
Doha: Jalur pelayaran Selat Hormuz berada dalam kondisi hampir lumpuh total, dengan hanya ada lima kapal termasuk satu tanker milik Iran yang melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir, menurut data pelayaran terbaru pada Sabtu, 25 April 2026.
Angka ini menunjukkan penurunan drastis dibandingkan rata-rata lalu lintas harian sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu, yang biasanya mencapai 140 kapal per hari. Kelumpuhan ini dipicu oleh aksi Iran yang menyita dua kapal kontainer pekan ini, serta langkah Amerika Serikat (AS) yang terus memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kondisi gencatan senjata yang tidak stabil antara Washington dan Teheran membuat perusahaan pelayaran global didera kecemasan luar biasa.
"Bagi sebagian besar perusahaan pelayaran, mereka membutuhkan gencatan senjata yang stabil dan jaminan dari kedua pihak yang bertikai bahwa Selat Hormuz aman untuk dilalui," ujar Kepala Petugas Keselamatan dan Keamanan di asosiasi pelayaran BIMCO, Jakob Larsen, dikutip dari Gulf Times.
Larsen menambahkan, saat ini pengiriman dibatasi hanya pada rute yang dekat dengan Iran dan Oman. Namun, karena sifat jalurnya yang sempit, rute tersebut dianggap tidak mampu menampung volume pengiriman normal secara aman.
Pelayaran di Selat Hormuz
Salah satu kapal yang terpantau melintas adalah kapal tanker Niki berbendera Iran yang tengah dikenai sanksi AS. Berdasarkan analisis Kpler dan data pelacakan MarineTraffic, kapal tersebut berlayar tanpa tujuan yang jelas. Hingga kini, belum dapat dipastikan apa yang akan terjadi jika kapal itu terus melaju menuju garis blokade Angkatan Laut AS.Di sisi lain, penggunaan kapal-kapal kecil cepat oleh Iran untuk menyita kapal kontainer pada Rabu lalu kian meningkatkan kekhawatiran industri energi dan logistik.
"Penyitaan terbaru ini memperjelas bahwa bahkan Selat Hormuz yang 'terbuka' pun bukanlah Selat Hormuz yang aman bagi pelaut, kapal, dan kargo," tegas Peter Sand, Kepala Analis di platform intelijen angkutan laut Xeneta.
Gangguan di jalur air strategis ini berdampak masif terhadap ekonomi dunia karena Selat Hormuz mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Akibat penutupan ini, ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut dilaporkan terdampar di dalam Teluk, menunggu tanda-tanda meredanya risiko keamanan untuk bisa berlayar kembali.
Baca juga: Trump Perintahkan Militer AS Tembak Kapal Kecil Iran di Selat Hormuz