BEM Bersatu Soroti Dugaan Keterlibatan Aktor Politik di Balik Aksi Tolak Program MBG

Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu. Foto: Istimewa.

BEM Bersatu Soroti Dugaan Keterlibatan Aktor Politik di Balik Aksi Tolak Program MBG

Gabriella Thesa Widiari • 16 June 2026 20:06

Jakarta: Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu menduga adanya aktor politik praktis yang menunggangi aksi penolakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh sejumlah elemen mahasiswa. Salah satunya pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, yang terindikasi memiliki kedekatan dengan jaringan politisi PDI Perjuangan dan eks tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

"Kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu," ujar Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, dalam keterangan tertulis, Selasa, 16 Juni 2026.
 


Dia menyebutkan, Tiyo kedapatan menggunakan fasilitas mewah berupa mobil Fortuner yang diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni. Siti Nuraeni merupakan adik dari Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang juga besan dari Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa, salah satu tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024 lalu.

"Dugaan ini diperkuat kehadiran politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," kata Rahmat.

Selain itu, BEM Bersatu juga menyoroti kedekatan Tiyo Ardianto dengan Setyo Sularso dalam sebuah acara di Bandung. Keduanya diketahui menghadiri forum yang sama dengan sejumlah tokoh oposisi lainnya seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr. Tifa. Kehadiran aktor-aktor tersebut dinilai menunjukkan adanya jejaring terorganisir di balik layar.


Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu. Foto: Istimewa. 

Rahmat menyayangkan arah gerakan mahasiswa yang dipimpin oleh Tiyo. Menurutnya, perhatian mahasiswa seharusnya difokuskan pada isu-isu yang menjadi urgensi utama masyarakat.

"Kami mempertanyakan prioritas isu yang diangkat. Sementara itu, Program MBG yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," kata Rahmat.

Dia menegaskan sikap BEM Bersatu yang menentang keras segala intervensi pihak luar dalam pergerakan mahasiswa. Rahmat menekankan, gerakan mahasiswa tak boleh jadi alat politik.

"Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan," kata Rahmat.

(Gabriella Thesa Widiari)