Gunung Ili Lewotolok Erupsi Disertai Gemuruh, Jauhi Radius 2 Km

Gunung Ili Lewotolok di Lembata, NTT Meletus, Senin (2/8) pukul 16.50 Wita. Foto: Magma Indonesia

Gunung Ili Lewotolok Erupsi Disertai Gemuruh, Jauhi Radius 2 Km

Palce Amalo • 3 August 2026 17:09

Lembata: Gunung Ili Lewotolok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), erupsi disertai suara gemuruh pada Senin, 3 Agustus 2026, pukul 16.50 Wita. Letusan tersebut menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 700 meter di atas puncak atau sekitar 2.123 meter di atas permukaan laut.

"Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal condong ke arah barat daya dan barat," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Ili Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, dalam laporan tertulisnya, Senin sore, 3 Agustus 2026.


Menurutnya, aktivitas erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan berlangsung selama sekitar 1 menit 12 detik. Erupsi terjadi setelah gunung itu memuntahkan abu vulkanik pada Minggu, 2 Agustus 2026, pukul 13.16 Wita.

Saat itu, tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau sekitar 2.023 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya. Meski erupsi dua hari berturut-turut, status aktivitas Gunung Ili Lewotolok hingga kini masih berada pada Level II atau Waspada.


Aktivitas Gunung Ili Lewotolok, di Lembata, NTT, Selasa, 26 Agustus 2025. (Magma Indonesia)

PVMBG mengimbau masyarakat, pendaki, maupun wisatawan agar tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.

Selain itu, warga yang bermukim di sekitar gunung juga diminta tetap tenang, tidak mudah memercayai informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui informasi resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok maupun PVMBG.

Masyarakat di sekitar gunung diminta mewaspadai potensi hujan abu vulkanik. Apabila terjadi hujan abu, warga disarankan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk mengurangi dampak gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

(Lukman Diah Sari)