Guru Besar Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Tria Astika Indah Permatasari. Dok. Istimewa
Masyarakat Diimbau Lebih Selektif Memilih Makanan untuk Didonasikan
Achmad Zulfikar Fazli • 20 April 2026 09:41
Jakarta: Masyarakat diimbau lebih selektif dalam memilih makanan yang akan disalurkan sebagai donasi untuk korban bencana alam. Hal ini untuk memastikan anak-anak di daerah bencana mendapatkan gizi yang sesuai.
“Masih banyak praktik pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak, salah satunya adalah penggunaan kental manis yang tentu tidak tepat untuk pertumbuhan balita,” kata Guru Besar Ilmu Gizi dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, Prof. Tria Astika Indah Permatasari, dalam keterangannya, Senin, 20 April 2026.
Prof. Tria memahami jika dalam kondisi bencana, kebutuhan pangan sering kali bergeser pada aspek kepraktisan. Namun, jika tidak dikontrol, hal ini dapat memicu perubahan pola makan yang tidak sehat pada anak dalam jangka panjang.
Dia menilai jika ada perubahan pola makan pada anak dalam jangka panjang, hal itu berisiko menimbulkan berbagai masalah gizi dan gangguan metabolik di masa depan.
“Kalau ini berlangsung tiga sampai enam bulan, bukan hanya soal kenyang, tapi bisa terjadi perubahan pola makan yang tidak sehat dan berdampak jangka panjang,” ucap Prof. Tria.
Baca Juga:
7 Menu Andalan Atasi Stunting di Ngawi, Sup Matahari Paling Disukai |
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudhistira, mengaku pihaknya masih menemukan pangan praktis dan instan saat berkunjung ke Aceh Tamiang beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut mengkhawatirkan karena setelah berbulan-bulan, masyarakat korban bencana banjir seharusnya sudah memasuki fase pemulihan, bukan lagi sekadar bertahan hidup.
“Banyak bantuan yang datang itu berupa pangan kemasan. Ini awalnya mungkin untuk kondisi darurat, tapi setelah berbulan-bulan masih dikonsumsi dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Satria.
Menurut dia, perlu ada edukasi untuk meluruskan kondisi yang berpotensi mengubah pola makan anak dalam jangka panjang itu. Tanpa intervensi yang tepat, anak-anak berisiko terus mengandalkan makanan tinggi gula dan rendah gizi meski kondisi sudah berangsur pulih.
“Kalau ini tidak diedukasi, kebiasaan ini akan terus berlanjut. Padahal dampaknya bukan hanya saat bencana, tapi bisa memengaruhi pola konsumsi dan kesehatan anak ke depannya,” ucap Satria.