Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Kim Jong-Un akhir tahun ini. Foto: The New York Times
Trump Sebut Akan Bertemu dengan Kim Jong-Un Akhir Tahun Ini
Fajar Nugraha • 20 August 2026 11:23
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Kim Jong-Un akhir tahun ini.
Pertemuan ini merupakan upaya menghidupkan kembali hubungan yang ia klaim telah terjalin dengan pemimpin Korea Utara tersebut selama masa jabatan pertamanya.
Trump mengatakan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa penting untuk menjalin hubungan baik dengan Kim, seraya menambahkan penilaian yang sangat spesifik -,sesuatu yang jarang terjadi,- bahwa Pyongyang kini memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat.
Namun, fokus mendadak Trump pada Kim dan keputusannya untuk mengurangi latihan militer gabungan AS-Korea Selatan telah membuat khawatir sekutu-sekutu di Asia, sekaligus memicu spekulasi bahwa ia sedang mencari kemenangan dalam kebijakan luar negeri di tengah macetnya upaya terkait konflik dengan Iran.
"Ya, saya akan melakukannya," ujar Trump saat meninjau landasan helikopter baru di Gedung Putih, ketika ditanya apakah ia berencana bertemu Kim pada sepanjang 2026 ini, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis 20 Agustus 2026.
Trump membela rencananya untuk bertemu pemimpin Korea Utara tersebut, bahkan di saat ia sedang melancarkan konfrontasi dengan Iran, tindakan yang ia benarkan dengan alasan mencegah Teheran mendapatkan bom nuklir.
"Dia memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Seharusnya hal itu tidak pernah dibiarkan terjadi. Jika saya presidennya, saya tidak akan membiarkannya," kata Trump, merujuk pada Kim.
"Tapi dia sudah memilikinya. Saya berhubungan sangat baik dengannya. Saya tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Dan saya mengenal Kim Jong-Un dengan sangat baik; dia akan baik-baik saja,” ujar Trump.
Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut, namun the Wall Street Journal melaporkan bahwa ia mempertimbangkan pertemuan tersebut saat melakukan perjalanan ke Shenzhen, Tiongkok, untuk menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada November.
Sangat menghina
Meskipun mengakui bahwa Pyongyang memiliki senjata nuklir, AS tidak secara resmi mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir, dan jarang sekali seorang presiden secara terbuka memberikan penilaian spesifik mengenai jumlah persenjataan nuklir negara tersebut.Namun, pernyataan Trump mengenai kepemilikan 57 senjata nuklir oleh Korea Utara sejalan dengan penilaian sebelumnya dari pemerintah AS dan lembaga kajian yang menyebutkan bahwa Pyongyang memiliki persediaan antara 50 hingga 60 senjata nuklir.
Setelah sebelumnya sempat mengejek Kim sebagai "manusia roket" dan mengancam akan melancarkan "api dan amarah" terhadap Korea Utara, Trump akhirnya bertemu dengan pemimpin Korea Utara tersebut sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertamanya. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada 2019.
Trump mengatakan mereka "saling jatuh cinta" setelah bertukar "surat-surat yang indah" — namun pertemuan puncak yang menyita perhatian publik itu hanya menghasilkan sedikit kemajuan nyata terkait isu nuklir, dan mereka belum bertemu lagi di masa jabatan kedua Trump.
Meski demikian, Trump kembali mengangkat isu ini ke dalam agenda utama setelah secara tiba-tiba mengumumkan pada hari Minggu bahwa ia telah memerintahkan Washington untuk mengurangi skala latihan militer yang "bersifat memusuhi" bersama Seoul, dengan alasan hubungan baiknya dengan Kim.
Pada Rabu, Trump mengatakan bahwa latihan tersebut "sangat menyinggung" perasaan Kim dan bahwa pemimpin Korea Utara itu telah bersikap "sangat baik."
Pada 2024, Korea Utara mengerahkan pasukan untuk mendukung Rusia dalam perangnya melawan Ukraina dan menandatangani perjanjian pertahanan bersama dengan Moskow.
Sama sekali tidak tahu
Saudara perempuan Kim Jong-Un yang berpengaruh mengatakan bahwa ia tidak mengetahui adanya komunikasi yang dilaporkan antara kakaknya dan Trump."Mengenai berita terbaru dari Washington tentang komunikasi antara para pemimpin Korea Utara dan Amerika Serikat, saya sama sekali tidak mengetahuinya," ujar Kim Yo-Jong dalam sebuah pernyataan.
Kendati demikian, Kim Yo-Jong mengatakan bahwa kakaknya masih memiliki "kenangan dan perasaan yang baik" terhadap Trump dan bahwa hubungan antara kedua pemimpin tersebut tetap "sangat baik."
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Seoul mengumumkan bahwa latihan tahunan Ulchi Freedom Shield bersama Amerika Serikat akan berakhir sekitar satu minggu lebih awal dari jadwal semula "atas usulan pihak AS."
Pentagon menyatakan bahwa pengurangan skala latihan tersebut "tidak akan mengurangi pencapaian tujuan pelatihan AS."
Latihan tersebut dirancang sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan dari Korea Utara. Namun, Kim Yo-Jong menepis pengurangan tersebut dengan mengatakan: "kami tidak menganggapnya layak untuk dikomentari dan sama sekali tidak tertarik."
Korea Utara, yang memiliki senjata nuklir, telah lama menyuarakan kemarahannya terhadap latihan tersebut karena menganggapnya sebagai gladi resik untuk sebuah invasi.
Amerika Serikat menempatkan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan untuk memperkuat pertahanan negara itu; sebuah warisan dari Perang Korea tahun 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Trump telah berulang kali mengkritik aliansi lama AS, yang menimbulkan keraguan mengenai komitmen Washington terhadap keamanan di Asia Timur serta membuat khawatir mitra-mitra regionalnya.