Ilustrasi Colectivos. (via Cubanet.org)
Rezim Venezuela Kerahkan Milisi untuk Cegah Euforia Penangkapan Maduro
Riza Aslam Khaeron • 8 January 2026 12:54
Jakarta: Pemerintah Venezuela di bawah kepemimpinan sementara Delcy Rodríguez melancarkan gelombang represi brutal usai penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan komando Amerika Serikat pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Langkah ini ditandai dengan pengerahan kelompok paramiliter bersenjata, penangkapan jurnalis, pengetatan pengawasan terhadap warga sipil, hingga pendirian pos pemeriksaan oleh kelompok bersenjata pro-pemerintah yang dikenal sebagai colectivos.
Melansir Financial Times, para colectivos terlihat membawa senapan dan mendirikan blokade di berbagai titik di ibu kota Caracas. Mereka dilaporkan mengintimidasi warga yang dicurigai menyuarakan dukungan terhadap operasi militer AS. Penindakan ini menyusul pengumuman keadaan darurat nasional yang dikeluarkan pada Senin dan tertuang dalam dekrit bertanggal 3 Januari.
Dalam dekrit tersebut, pemerintah memerintahkan aparat untuk "melakukan pencarian dan penangkapan segera terhadap siapa pun yang terlibat dalam promosi atau dukungan atas serangan bersenjata oleh AS terhadap wilayah republik."
Juru bicara Komisaris Tinggi HAM PBB, Ravina Shamdasani, pada Selasa menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi di Venezuela dan menyebut bahwa rakyat negara tersebut "berhak mendapatkan keadilan melalui proses yang adil dan berpusat pada korban."
Ia juga menambahkan bahwa status darurat tersebut "menimbulkan kekhawatiran karena memberi kewenangan pembatasan kebebasan bergerak, penyitaan properti untuk kebutuhan pertahanan nasional, serta penangguhan hak untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat, di antara berbagai tindakan lainnya."
Kementerian Dalam Negeri yang dipimpin oleh tokoh garis keras Diosdado Cabello disebut sebagai pengoordinasi aktivitas para colectivos. Seorang aktivis HAM di Caracas menyatakan bahwa aparat memeriksa isi ponsel warga di pos-pos pemeriksaan, mencari foto, video, atau pesan yang menunjukkan simpati terhadap operasi militer AS.
"Jika ada bukti sekecil apa pun, mereka bisa langsung ditahan," ujarnya.
Jalan-jalan di wilayah timur Caracas — yang merupakan basis oposisi — tampak sepi dalam beberapa hari setelah penangkapan Maduro, di bawah pengawasan ketat colectivos bersenjata.
"Kami tidak bisa merayakan apa pun," kata seorang perempuan yang menolak menyebutkan nama kepada FT ketika sedang berjalan di distrik oposisi Chacao pada Minggu malam.
"Jika kami terlihat senang atau bersorak, colectivos bisa membunuh kami," tambahnya.
| Baca Juga: AS Akhirnya Berhasil Sita Kapal Tanker Berbendera Rusia di Atlantik Utara |
Salah satu anggota colectivo bernama Ricardo menyatakan bahwa penangkapan Maduro kemungkinan besar terjadi akibat pengkhianatan dari dalam lingkarannya sendiri. Ia menyebut telah terjadi baku tembak hebat saat operasi berlangsung, yang menyebabkan puluhan pengawal Maduro tewas.
"Kami tetap aktif dengan senapan kami dan akan merespons jika diperlukan," ujarnya kepada Financial Times.
Upaya represi juga terjadi terhadap pihak media. Saat pelantikan Rodríguez sebagai presiden interim di gedung Majelis Nasional pada Senin, sebanyak 14 jurnalis dan pekerja media dilaporkan ditahan untuk diinterogasi.
Menurut Serikat Pekerja Pers Nasional, 11 di antaranya berasal dari media asing. Awalnya mereka diizinkan masuk ke dalam gedung parlemen, tetapi kemudian dilarang memotret atau menyiarkan secara langsung. Setelah itu, akses mereka ditutup total.
Identitas beberapa jurnalis yang ditahan masih dirahasiakan karena keluarga mereka khawatir akan dampak buruk jika identitas diungkap ke publik.
Carlos Barragán, reporter dari jaringan televisi Kolombia Caracol, ditahan oleh Direktorat Kontraintelijen Militer Venezuela dan diinterogasi selama hampir dua jam.
Dalam wawancara dengan Fox News, María Corina Machado menyebut situasi saat ini "benar-benar mengkhawatirkan" dan menyerukan agar pemerintah AS mengawasi transisi Venezuela dengan seksama. Ia menyebut Rodríguez sebagai “arsitek utama penyiksaan, persekusi, korupsi, dan perdagangan narkoba.”
Machado, yang diam-diam meninggalkan Venezuela pada Desember untuk menerima Hadiah Nobel Perdamaian, menyatakan niatnya untuk segera kembali ke negaranya. Namun, ia tidak menyebutkan tanggal pasti, dan keberadaannya saat ini dirahasiakan, meskipun diyakini berada di Eropa.