Bantah Mitos Pesugihan dan Tumbal, Ini Klarifikasi Pengelola Pesarean Gunung Kawi

Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi/Jadesta Kemenpar.

Bantah Mitos Pesugihan dan Tumbal, Ini Klarifikasi Pengelola Pesarean Gunung Kawi

Daviq Umar Al Faruq • 17 July 2026 09:54

Malang: Pengelola Pesarean Gunung Kawi meluruskan anggapan yang selama ini mengaitkan kawasan tersebut dengan praktik pesugihan dan tumbal. Klarifikasi itu disampaikan melalui unggahan di akun Instagram resmi @pesareangunungkawi sebagai upaya memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai tradisi yang berlangsung di kawasan pesarean.

Dalam unggahan yang diawali dengan pertanyaan "Pesugihan dan Tumbal Gunung Kawi?" tersebut, pengelola menjelaskan bahwa aktivitas yang dilakukan pengunjung di Pesarean Gunung Kawi bukan ritual pesugihan. Pengunjung disebut datang untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai harapan dalam menjalani kehidupan.

"Pesugihan sering dikaitkan dengan hal-hal negatif, termasuk terhadap Pesarean Gunung Kawi. Padahal yang dilakukan oleh pengunjung Pesarean Gunung Kawi adalah berdoa untuk kesuksesan, keberkahan, kelancaran usaha, kesehatan, dan keselamatan dalam hidup serta rasa syukur kepada Tuhan YME," tulis keterangan dalam foto pada unggahan akun @pesareangunungkawi.


Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi/Jadesta Kemenpar.

Pengelola juga memberikan penjelasan mengenai tradisi selamatan yang selama ini dijalankan di Pesarean Gunung Kawi. Tradisi tersebut disebut sebagai sarana mengirim doa kepada para leluhur dan tidak berkaitan dengan ritual pesugihan maupun tumbal.

"Selamatan juga menjadi sarana mengirim doa kepada para leluhur, bukan ritual pesugihan ataupun tumbal," ujar @pesareangunungkawi.

Melalui unggahan yang sama, pengelola mengajak masyarakat untuk memahami tradisi yang berkembang di Pesarean Gunung Kawi berdasarkan informasi yang benar. Pengelola juga mengingatkan agar masyarakat tidak mengaitkan tradisi tersebut dengan mitos maupun informasi yang keliru.

"Mari memahami dan menghargai tradisi dengan benar tanpa mengaitkannya dengan mitos dan informasi yang tidak benar," lanjut @pesareangunungkawi.


 Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi/Jadesta Kemenpar.

Pesan serupa juga disampaikan melalui keterangan yang menyertai unggahan tersebut. Pengelola menyebut pemahaman yang benar diharapkan dapat menumbuhkan rasa hormat terhadap tradisi sekaligus membantu meluruskan berbagai anggapan yang selama ini beredar tentang Pesarean Gunung Kawi.

"Kami percaya bahwa pemahaman yang benar akan melahirkan rasa hormat terhadap tradisi. Terima kasih telah ikut menyebarkan informasi yang baik dan membantu meluruskan berbagai mitos yang beredar tentang Pesarean Gunung Kawi," tulis keterangan dalam unggahan @pesareangunungkawi.

Sebagai informasi, kawasan Pesarean Gunung Kawi merupakan tempat peristirahatan terakhir Eyang Djoego atau Kanjeng Kiai Zakaria II dan Eyang Raden Mas Iman Soedjono. Sejarah Pesarean Gunung Kawi bermula dari dimakamkannya Eyang Djoego pada 1871, yang kemudian berkembang menjadi kawasan ziarah dan dikelola oleh Yayasan Ngesti Gondo sebagai objek wisata budaya dan religi.


Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi/Jadesta Kemenpar.

Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata mencatat Pesarean Gunung Kawi sebagai bagian dari Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi yang berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Potensi yang dikembangkan tidak hanya wisata ritual dan budaya, tetapi juga atraksi kesenian tradisional, kuliner khas, serta kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari daya tarik desa wisata tersebut.

Di kawasan Pesarean Gunung Kawi juga terdapat sejumlah bangunan yang menjadi bagian dari destinasi wisata, di antaranya masjid berarsitektur Demak, Kelenteng Dewi Kwan Im, Tiekong, dan Ciamsi. Berdasarkan profil Jadesta, keberadaan berbagai objek tersebut melengkapi pengalaman pengunjung yang datang untuk berziarah maupun mengenal sejarah dan budaya yang berkembang di kawasan Gunung Kawi.

(Lukman Diah Sari)