Presiden AS, Donald Trump dan Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei. (EPA via BBC)
Sempat Dilaporkan Runtuh, AS dan Iran Setuju Lakukan Negosiasi di Oman
Riza Aslam Khaeron • 5 February 2026 11:05
Washington DC: Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan akan kembali duduk di meja perundingan pada Jumat pagi, 6 Februari 2026, di Muscat, Oman, setelah sebelumnya sempat dilaporkan bahwa negosiasi mereka runtuh. Melansir The Times of Israel, konfirmasi ini datang setelah serangkaian ketegangan yang memuncak dalam beberapa hari terakhir akibat perbedaan tajam mengenai cakupan pembicaraan.
Negosiasi semula direncanakan berlangsung di Istanbul, Turki, dengan dua jalur: jalur langsung antara AS dan Iran yang membahas program nuklir, serta jalur regional yang mencakup isu rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok teroris, dan pelanggaran HAM.
Namun, dua pejabat senior AS mengatakan kepada Axios bahwa Iran mundur dari kesepakatan lokasi dan format tersebut dan mengusulkan agar pembicaraan hanya fokus pada isu nuklir serta dipindahkan ke Oman. Pihak AS menolak usulan tersebut karena khawatir negosiasi hanya akan fokus terkait isu nuklir, menyatakan bahwa perundingan harus bersifat menyeluruh atau tidak ada sama sekali.
"Kami tidak ingin kembali ke cara lama dalam bernegosiasi," ujar seorang pejabat AS, menambahkan bahwa kegagalan pembicaraan bisa memicu opsi lain seperti serangan militer lanjutan.
Ketegangan memuncak pada Rabu, 4 Februari 2026, ketika Presiden Donald Trump memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan mengatakan bahwa ia "seharusnya sangat khawatir" terkait perkembangan situasi.
Menjawab pertanyaan NBC News, Trump menyatakan, "Mereka sedang bernegosiasi dengan kami," seraya mengklaim bahwa Amerika telah menghancurkan program nuklir Iran melalui serangkaian serangan selama perang 12 hari antara Iran dan Israel tahun lalu.
.jpg)
Kapal induk USS Abraham Lincoln. (Anadolu Agency)
Namun, klaim Trump dikritik karena mengabaikan kenyataan bahwa masih ada fasilitas nuklir yang tidak dihantam dan lokasi penyimpanan uranium yang belum diketahui.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan melalui X bahwa kesepakatan telah dicapai untuk menggelar pertemuan di Muscat pada pukul 10.00 waktu setempat.
"Saya berterima kasih kepada saudara-saudara kami di Oman atas seluruh pengaturannya," tulisnya. Gedung Putih membenarkan pengumuman ini kepada The Times of Israel.
Sumber Channel 12 Israel menyebutkan bahwa utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang sedang berada di Abu Dhabi, dijadwalkan akan mengunjungi Qatar untuk berkonsultasi dengan PM Mohammed Abdulrahman Al Thani menjelang pembicaraan.
| Baca Juga: Israel Dorong AS Serang Iran, Trump Masih Ragu |
Witkoff sebelumnya mengadakan pertemuan di Tel Aviv bersama PM Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz, Kepala Staf IDF Eyal Zamir, dan Direktur Mossad David Barnea. Dalam pertemuan tersebut, ia menerima intelijen terbaru Israel terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, serta laporan tentang kekerasan terhadap demonstran anti-rezim.
Meskipun ada tekanan dari sembilan pemimpin Arab agar AS tetap berunding, para pejabat Washington tetap skeptis akan tercapainya kesepakatan.
"Kami akan hadiri pertemuan ini jika mereka (pemimpin Arab) bersikeras. Tapi kami sangat ragu," ujar seorang pejabat kepada Axios.
Pada 4 Februari 2026, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa perundingan harus mencakup isu misil dan dukungan Iran terhadap terorisme, bukan hanya program nuklir.
"Agar pembicaraan menghasilkan sesuatu yang berarti, maka harus mencakup rudal balistik mereka, dukungan terhadap organisasi teroris, program nuklir, dan perlakuan terhadap rakyat mereka," kata Rubio dalam konferensi pers di Washington, DC.
Pernyataan ini ditanggapi oleh pejabat senior Iran yang mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan hanya akan difokuskan pada isu nuklir. Program misil Iran, menurutnya, "tidak untuk dinegosiasikan."
Ketegangan politik turut berdampak pada pasar global. Harga minyak melonjak setelah laporan bahwa negosiasi terancam batal. Harga Brent naik 3% ke angka US$69,35 per barel, sementara West Texas Intermediate juga naik 3% menjadi US$65,12 per barel.
Perlu dicatat bahwa Oman telah menjadi lokasi lima putaran perundingan sebelumnya antara AS dan Iran pada Mei 2025.
Pembicaraan kali ini berlangsung dalam konteks meningkatnya tekanan dalam negeri di Iran menyusul penindakan brutal terhadap aksi protes, serta kekhawatiran bahwa serangan baru dari AS bisa mendorong gelombang unjuk rasa yang mengguncang stabilitas rezim Teheran.