IHSG Bertahan di Level 8.000, Ditutup Menguat 0,30%

Ilustrasi perdagangan saham di BEI. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

IHSG Bertahan di Level 8.000, Ditutup Menguat 0,30%

Ade Hapsari Lestarini • 4 February 2026 16:37

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini kembali berada di level 8.000. IHSG mampu mempertahankan penguatannya sejak pagi.

Berdasarkan data RTI, Rabu, 4 Februari 2026, IHSG sore menguat 24,119 poin atau setara 0,30 persen ke posisi 8.146. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 8.121. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 8.050 dan tertinggi di posisi 8.194.

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 45,431 miliar senilai Rp25,745 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14,735 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.890.404 kali.

Sore ini, tercatat sebanyak 301 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 391 saham melemah, dan 125 saham lainnya stagnan.


Ilustrasi. Foto: dok MI
 

 

IHSG berkonsolidasi


Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya sempat memperkirakan IHSG berpotensi berkonsolidasi di kisaran 7.950-8.400. Dari dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) akan membuka data kategori investor pasar modal Indonesia dari yang sebelumnya berjumlah sembilan tipe menjadi 27 sub-tipe, yang merupakan salah satu upaya transparansi yang diminta MSCI.

Nantinya, akan ada data investor perusahaan dari berbagai kategori seperti private equity, pemerintah, peer to peer lending (pinjaman online) dan lainnya. Selain akan dibedakan menjadi 27 sub-tipe, data investor itu juga akan diklasifikasi berdasarkan afiliasi atau non-afiliasi.

Melansir Antara, Ratna menilai langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membentuk panitia seleksi pimpinan OJK menunjukkan upaya menjaga stabilitas dan kredibilitas sektor keuangan, meski prosesnya sudah melewati tenggat ideal.

Selain itu, ia menyebut pelaku pasar juga bersikap wait and see terhadap rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025, yang akan menjadi gambaran fundamental perekonomian domestik.

Dari Amerika Serikat (AS), Ratna menjelaskan pelaku pasar menantikan rilis indeks Institute for Supply Management Service (ISM) PMI Januari 2026, yang diperkirakan relatif stabil di level 54,3 dari sebelumnya 54,4 pada Desember 2025. Sementara itu, dari kawasan Eropa, pelaku akan mencermati data inflasi Januari 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 1,8 persen (year-on-year/yoy) dari sebelumnya 1,9 persen (yoy) pada Desember 2025.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)