BMKG Deteksi 2.434 Titik Panas di Kalbar dalam 24 Jam

Gubernur Kalbar Ria Norsan meninjau kebakaran hutan dan lahan di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kamis, 3 September 2026. ANTARA/HO-Sucia Lucinda

BMKG Deteksi 2.434 Titik Panas di Kalbar dalam 24 Jam

Silvana Febiari • 3 September 2026 15:19

Pontianak: BMKG Supadio Pontianak mendeteksi 2.434 titik panas di Kalimantan Barat (Kalbar) dalam 24 jam terakhir. Kondisi ini memicu peringatan potensi kebakaran hutan dan lahan yang tinggi selama sepekan ke depan.

"Untuk titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Barat dalam 24 jam terakhir terdeteksi sebanyak 2.434 titik panas," kata Prakirawan BMKG Supadio Noven, dilansir dari Antara, Kamis, 3 September 2026. 

Noven mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Sebab, Kalimantan Barat diprakirakan masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar pada periode 3–9 September 2026.


BMKG memprakirakan kondisi cuaca di Kalimantan Barat pada Kamis didominasi cuaca cerah berawan dan berawan yang disertai kabut asap sejak pagi hingga malam hari. Angin secara umum bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan berkisar 10 hingga 35 kilometer per jam.

Suhu udara diprakirakan berada pada kisaran 22 hingga 37 derajat Celsius. Kelembapan udara antara 40 hingga 95 persen.

"Kami prakirakan cuaca di wilayah Kalimantan Barat pada hari ini akan didominasi cuaca berawan dengan diselimuti kabut asap pada pagi hingga malam hari nanti," tuturnya.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kenaikan suhu udara dan berkurangnya potensi hujan. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Berdasarkan prakiraan tingkat kemudahan terbakar, sebagian wilayah Kalimantan Barat berpotensi mengalami kondisi mudah hingga sangat mudah terbakar hingga 9 September 2026.

Masyarakat juga diharapkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api. Terutama pembakaran lahan, mengingat kondisi cuaca dan kekeringan dapat mempercepat penyebaran kebakaran.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca dan informasi titik panas. Informasi tersebut dapat diakses melalui aplikasi Info BMKG, laman resmi BMKG Kalbar, maupun media sosial resmi BMKG.

"Peningkatan kewaspadaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mencegah meluasnya karhutla dan menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat," ungkap dia.


Personel Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lahan gambut yang terbakar di Sekunder C, Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. (ANTARA/HO-Jessica Helena Wuysang)


Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengingatkan bahwa pembakaran lahan dapat berdampak luas. Asap akibat kebakaran dapat mengancam kesehatan dan mengganggu aktivitas hingga merugikan ribuan warga.

"Tolonglah, karena kasihan gara-gara membakar lahan, yang korban ribuan orang. Bahaya asap dan lain sebagainya, penerbangan juga nggak bisa karena ini dekat dengan bandara," tuturnya.

Menurut Norsan, luasnya lahan gambut, medan yang sulit, dan hembusan angin menjadi tantangan bagi petugas dan relawan dalam mengendalikan kebakaran.

"Hari ini kita lihat di Sekunder C ini terjadi kebakaran tanah gambut. Cukup luas lahan gambut di sini, sehingga pemadam juga kewalahan memadamkannya. Sudah dua hari memadamkan di sini," ujarnya.

(Silvana Febiari)