Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi. Foto: Anadolu
AS-Iran Capai Kesepakatan Prinsip Dasar Perundingan Nuklir di Jenewa
Fajar Nugraha • 18 February 2026 13:59
Jenewa: Pada Selasa, 17 Februari, Pemerintahan Iran dan Amerika Serikat, berhasil mencapai kesepakatan mengenai prinsip-prinsip panduan"dalam perundingan nuklir yang berlangsung di Jenewa.
Meski kemajuan telah dicapai, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa kesepakatan final belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Kabar mengenai kemajuan diplomasi ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan turun lebih dari 1 persen seiring meredanya kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka di Timur Tengah.
Perundingan tidak langsung ini dimediasi oleh Oman, melibatkan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.
“Berbagai ide telah didiskusikan secara serius guna menghasilkan solusi berkelanjutan yang mengakui hak-hak nuklir Iran,” ucap Aragchi, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 18 Februari 2026.
Pihak AS mengungkapkan bahwa Iran akan mengajukan proposal terperinci dalam dua minggu ke depan untuk menutup celah perbedaan yang masih ada. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, menambahkan bahwa meski masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, kedua pihak kini memiliki langkah-langkah selanjutnya yang jelas.
Presiden AS, Donald Trump mengatakan dukungannya terhadap upaya diplomatik ini, namun tetap mengingatkan adanya konsekuensi militer. Trump merujuk pada pengerahan jet pengebom siluman B-2 yang sebelumnya telah menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu bersama militer Israel.
Meskipun Iran bersedia merundingkan pembatasan program nuklir demi pencabutan sanksi ekonomi, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan dua poin yang tidak dapat diganggu gugat, mencakup penolakan keras Iran terhadap pembahasan mengenai stok dan jangkauan rudal mereka dan bersikeras tidak akan menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya.
Di sisi lain, AS berupaya memperluas cakupan perundingan ke isu-isu non-nuklir. Namun, posisi Iran saat ini cukup tertekan secara domestik akibat krisis biaya hidup dan sanksi internasional yang melumpuhkan pendapatan minyak mereka.
Negosiasi ini merupakan upaya terbaru untuk menghidupkan kembali stabilitas setelah serangan udara AS dan Israel ke situs nuklir Iran tahun lalu. Iran merupakan anggota Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang menjamin hak penggunaan nuklir untuk tujuan sipil. Sementara itu, Israel, yang bukan anggota NPT, tetap menjalankan kebijakan ambiguitas terkait kepemilikan senjata nuklirnya.
(Kelvin Yurcel)