Pertama dalam Satu Dekade, Presiden Turki Akan Kunjungi Ethiopia

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Anadolu Agency)

Pertama dalam Satu Dekade, Presiden Turki Akan Kunjungi Ethiopia

Willy Haryono • 17 February 2026 14:53

Ankara: Rencana kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan ke Ethiopia mendapat sorotan luas di media lokal, yang menyoroti signifikansi diplomatiknya ketika kedua negara memperingati 100 tahun pembukaan kedutaan Turki di ibu kota Addis Ababa, tonggak hubungan yang telah terjalin sejak abad ke-16.

Media milik negara maupun swasta secara umum memberitakan kunjungan tersebut secara positif, dengan menekankan hubungan historis yang panjang, kerja sama ekonomi yang berkembang, serta peran diplomatik Ankara di kawasan.

Dilansir dari Anadolu Agency, kunjungan yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, atas undangan Perdana Menteri Abiy Ahmed ini akan menjadi kunjungan pertama Erdogan ke Ethiopia dalam lebih dari satu dekade.

Media pemerintah Fana Broadcasting Corporation menggambarkan kunjungan tersebut sebagai peningkatan hubungan bilateral. Dalam salah satu artikelnya, Erdogan disebut sebagai “arsitek Turki baru.”

Media swasta Addis Standard juga melaporkan kunjungan tersebut, mengaitkannya dengan ketegangan di Tanduk Afrika dan keterlibatan diplomatik Turki di kawasan. Laporan tersebut menyebut kedua negara diperkirakan akan menandatangani berbagai perjanjian kerja sama yang sebelumnya telah disepakati di tingkat resmi.

Sementara itu, platform media digital pan-Afrika Pulse of Africa menyoroti bahwa Turki tengah memperkuat kehadirannya di Laut Merah dan Tanduk Afrika melalui perluasan kerja sama di bidang perdagangan, infrastruktur, dan keamanan.

Berbicara dalam acara peringatan 100 tahun hubungan bilateral, Duta Besar Turki untuk Ethiopia Berk Baran mengatakan kunjungan Erdogan menandai “peningkatan hubungan yang sudah kuat.”

“Turki dan Ethiopia telah menikmati hubungan strategis di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan sosial,” ujarnya.

Hubungan Politik dan Dialog Konsisten

Peneliti independen Emre Yasin Kekec mengatakan bahwa Turki dan Ethiopia telah membangun hubungan terbuka yang konsisten tanpa mediasi pihak ketiga, meskipun tatanan global penuh ketidakpastian.

Analis menyebut hubungan kedua negara dibentuk oleh pemahaman politik bersama, bahkan ketika kepentingan nasional berbeda.

Peneliti Ibrahim Mulushewa mengatakan Turki memahami posisi Ethiopia, termasuk dalam sengketa Sungai Nil dan upaya Ethiopia mendapatkan akses laut.

Menurutnya, perspektif bersama tersebut memungkinkan keterlibatan langsung kedua negara dan membantu Turki berperan sebagai mediator dalam isu regional sensitif, seperti sengketa Ethiopia-Somalia yang diselesaikan melalui Deklarasi Ankara.

Hubungan Antar Masyarakat Jadi Fondasi

Duta Besar Berk Baran mengatakan diplomasi antar masyarakat selama satu abad menjadi inti hubungan bilateral Turki dan Ethiopia.

Para analis juga menilai hubungan tersebut diperkuat oleh koneksi sosial, bukan hanya diplomasi formal. “Sering kali fokus pada diplomasi politik, padahal jembatan sebenarnya adalah hubungan antar masyarakat,” kata Kekec.

Akademisi Abdulaziz Dino mengatakan diplomasi budaya juga berperan penting, termasuk melalui serial TV Turki, mahasiswa Ethiopia yang belajar di Turki, dan hubungan budaya yang memperkuat citra positif Turki di Ethiopia.

Ia menambahkan bahwa diplomasi tradisional membutuhkan dukungan media, budaya, dan hubungan sosial untuk tetap efektif.

Para analis menyimpulkan bahwa kunjungan Erdogan mencerminkan simbol peringatan 100 tahun hubungan diplomatik sekaligus upaya kedua negara memperkuat kemitraan historis dan strategis.

Baca juga:  Erdogan Serukan Integrasi Transportasi untuk Perkuat Ekonomi Negara Muslim

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)